Bab 1: Di Wilayah yang Dipotong oleh Warna Merah Muda Pucat
Benar-benar musim yang membuat orang melayang, yang namanya musim semi ini.
Dunia yang selama musim dingin mengering dalam warna cokelat, mendadak memancarkan warna hijau yang segar.
Tepat ketika dipikir demikian, bunga-bunga mulai bermekaran dengan ceria di mana-mana. Seolah-olah vitalitas bumi yang selama ini ditekan oleh embun beku, tak sanggup lagi menahan diri dan menyembur keluar begitu mendeteksi melonggarnya angin utara.
Yang paling tidak sabaran, tentu saja adalah bunga plum (ume).
Saat masih berjalan sambil menekuk leher karena kedinginan, terkadang berembus angin beraroma pekat yang membuat orang berpikir apakah sedang diadakan pameran parfum. Bunga plum sedang mekar.
Begitu menyadari warna merah dan putih di ujung ranting itu, barulah seseorang menyadari, Ah, sudah musimnya ya, yang menjadi rutinitas tahunan.
Bersamaan dengan aroma bunga plum, hidungku pun mulai terasa gatal. Pohon Sugi.
Setelah perang, permintaan akan kayu melonjak tajam demi rekonstruksi, dan pemerintah menanam pohon Sugi dalam jumlah yang tak masuk akal atas nama kebijakan perluasan hutan.
Balasan atas perbuatan para pendahulu itulah yang sedang kami pertanggungjawabkan di masa modern ini.
Bunga jantan Sugi yang mekar di berbagai penjuru Jepang menyebarkan serbuk sari kuning bagaikan asap yang mengganggu, menyerang mata dan hidung manusia. Di saat aku sibuk bersin-bersin dengan hidung meler, bunga plum sudah rontok.
Lalu, giliran pemeran utama yang muncul.
Bagaimanapun juga, puncak dari musim semi adalah sakura.
Apakah ada tumbuhan jenis lain yang bisa membuat seluruh masyarakat Jepang begitu heboh dan melayang? Mekar secara berurutan dari selatan, bahkan prakiraan cuaca pun melaporkan mekarnya setiap hari; itu adalah varietas bernama Somei-yoshino yang dikembangkan pada zaman Edo. Somei-yoshino yang diperbanyak dari satu individu melalui cangkok atau stek, semuanya adalah klon, atau dengan kata lain, pembagian diri. Karena seluruh pohon memiliki genetik yang identik, mereka akan mekar secara serentak di tempat yang sama.
Begitu bunga yang berwarna merah muda pucat itu mekar dengan anggun, orang-orang akan bersiap untuk hanami (melihat sakura) dan mulai berpesan ria. Mereka berbondong-bondong menuju taman terdekat; anak-anak memakan sakuramochi, sedangkan orang dewasa minum bir sepuasnya.
Tempat-tempat terkenal untuk melihat sakura di Jepang yang jumlahnya tak kurang dari seratus bakal dipenuhi oleh lautan pengunjung.
Di wilayah Kanto, setelah mengalami semua itu, barulah bulan April akhirnya tiba.
Dengan begitu, aku yang tidak memiliki ketahanan fisik ini tentu saja langsung kelelahan.
Tidak ada sisa tenaga untuk bersenang-senang menikmati kehangatan musim semi.
Paling-paling, aku hanya bisa menatap kelopak bunga sakura yang menumpuk dan memercikkan warna cokelat di pinggir jalan, sambil menyedot ingus yang terus meler akibat serbuk sari Sugi yang masih mengamuk beringas.
Hal itu tidak akan berubah sedikit pun, bahkan bagi seorang siswa baru kelas satu SMA yang begitu diiri orang-orang karena baru saja melangkahkan kaki ke tengah-tengah masa yang disebut 〈masa muda〉.
"Selamat pagi, Delta! Pagi yang luar biasa, ya!"
Dipanggil oleh suara yang terlalu cerah, aku menghela napas sebelum akhirnya berbalik.
Seorang pemuda yang sudah sangat kukenal sedang melambaikan tangan dengan lebar sambil tersenyum lebar.
Aku mengangkat tangan sedikit untuk membalas, lalu kembali menghadap ke depan. Saat aku sedikit memperlambat langkah, si kawan kawan itu menyelaraskan langkahnya di sampingku seolah sangat menikmati pagi yang luar biasa ini.
Mizusaki Ryuichi. Katanya, setiap hari ia selalu memperbarui rekor hari terindah dalam hidupnya, makanya ia selalu menyapa dengan gaya seperti ini. Tidak berbeda dengan kepribadiannya yang ceria, ia adalah pemuda dengan atmosfer yang agak genit.
"Oi, baru hari kedua kehidupan SMA, atmosfermu kok sudah suram begitu, sih."
"Soalnya aku berjalan di tempat yang teduh dinaungi bayangan."
Sinar matahari pagi yang memancar cerah akan terhalang oleh rumah-rumah jika berjalan di sisi timur jalan. Lagipula hari sudah hangat, dan jika mantel blazer ini terpapar sinar matahari, suhunya akan melewati batas nyaman dan menjadi panas. Berjalan di tempat yang berteduh adalah keputusan yang sangat rasional.
"Hampir benar juga, sih. Tapi ya, pagi ini aku bakal repot kalau sahabatku berjalan di tempat yang teduh."
Mizusaki melangkahi garis putih, bergeser ke sisi jalan raya, dan melompat ke area yang terpapar sinar matahari tempat terang.
Tepat saat aku hendak menyuruhnya kembali karena berbahaya, aku menyadari alasan di balik tindakan Mizusaki.
Atmosfernya agak berbeda──dia mengecat rambutnya. Antara warna cokelat kemerahan atau cokelat tua, yang jika berada di tempat teduh, perubahan dari warna rambut aslinya tidak akan menyolok.
Menerima pandanganku, Mizusaki memiringkan wajahnya dengan gaya sok keren.
"Gimana? Ada yang kamu sadari tidak?"
"Rambutmu agak botak botak, ya?"
"Mu. Bukan botak botak! Aku mengecatnya tahu. Ini yang dinamakan debut SMA debut SMA."
Berbeda dengan SMP kami dulu, SMA Tsunagai tidak memiliki peraturan ketat mengenai warna rambut. Walau begitu, mengecat rambut di hari kedua setelah upacara penerimaan siswa baru terbilang cukup nekat.
Hanya saja, dari warnanya yang tergolong sangat understated itu, aku bisa merasakan sifat khas Mizusaki yang tidak bisa sepenuhnya menjadi anak gaul.
"Aku kagum pada debut SMA-mu, tapi mengecat rambut itu bukankah merepotkan? Rambut hitam akan tumbuh kembali dengan kecepatan satu sentimeter per bulan."
"Kamu tidak mengerti, ya. Biarpun repot tidak masalah. Ini bagaikan setetes air dari burung kolibri yang memadamkan kebakaran hutan. Aku cuma melakukan apa yang bisa kulakukan demi menjadi populer, tahu."
"Jangan gunakan kisah indah burung kolibri dari Amerika Selatan untuk niat licik licik begitu."
"Bicara soal licik licik itu jahat sekali. Anak laki-laki SMA yang ingin populer itu sama halnya dengan burung merak jantan yang memamerkan bulu ekornya yang indah. Nah, kalau menurut gaya bicaramu Delta, ini dinamakan 'hukum alam'. Lagipula modalmu sendiri sudah bagus Delta, harusnya kamu lebih memperhatikan penampilan luar."
Menggunakan istilah hukum alam segala, benar-benar anak yang menyebalkan.
"Terserah jika Mizusaki ingin bertujuan menjadi merak yang mencolok, tapi aku lebih memilih bercita-cita menjadi gagak saja."
"Eh, gagak? Kenapa malah repot-repot memilih burung yang sejelas itu terlihat suram?"
"Karena gagak itu pintar."
"Ah, begitu rupanya. Maksudmu rajin belajar, ya. Seperti yang diharapkan dari seorang murid berotak encer!"
Mizusaki menerima argumen memutar argumen memutar itu dengan gembira. Kami sudah berteman sejak SD. Sebagian besar perdebatan di antara kami berdua tak ubahnya seperti drama singkat, dan reaksi satu sama lain hampir selalu berada dalam jangkauan perkiraan.
Jika Mizusaki yang mengecat rambut adalah seekor merak, maka aku adalah seekor gagak hitam.
Aku tidak peduli bagaimana orang lain memandangku. Mizusaki suka berjalan di tempat terang tempat terang yang mencolok, sedangkan aku lebih suka berjalan di tempat berteduh yang tenang. Mizusaki menggunakan wax untuk rambutnya, sementara aku hanya membasahinya jika ada sedikit rambut yang mencuat bangun tidur. Mizusaki katanya tidak pernah absen latihan otot, sedangkan aku menyukai tubuhku yang terbilang kurus kurus ini. Mizusaki menyuruhku memakai lensa kontak, tapi aku tetap memakai kacamata sejak SMP.
Mempunyai perbedaan sebanyak ini justru terasa lebih nyaman saat bersama.
Mungkin merasa segan jika terus berjalan di luar garis putih, Mizusaki pun kembali ke tempat yang berteduh.
"……Ngomong-ngomong Delta, ada hal yang sangat penting nih."
Jika pria ini mengatakan hal seperti itu, biasanya pembicaraan akan berlanjut ke topik yang konyol.
"Apa?"
"Ada anak perempuan bernama Iwama-san, kan?"
"Ah, yang duduk di belakangku?"
"Hoho, ternyata benar? Kamu benar-benar ingat ingat, ya?"
Mizusaki tersenyum menyeringai.
Jangankan ingat ingat, nomor absen kami hanya selisih satu, posisi duduk saat upacara masuk berada di sebelahku, dan di dalam kelas pun posisi duduk kami berurutan depan-belakang; wajah dan namanya tentu saja akan terekam dalam ingatan mau tak mau.
Iwama Rio. Seorang siswi yang tampak sangat cerdas dengan gaya rambut kuncir kuda (ponytail) yang rapi.
Hanya dengan melihat wajahnya saja, hanya dari kesan pertama saja, atmosfernya sudah memancarkan bahwa dia berada di dunia yang berbeda denganku. Sosok anggun bagaikan bunga sakura yang tidak kalah oleh namanya.
"Lalu, ada apa dengan Iwama Iwama itu?"
"Bukan apa-apa, dia itu imut imut banget, ya!"
"……Cuma itu yang kamu bilang hal sangat penting?"
"Oi oi, Delta juga pasti berpikir begitu, kan? Nah, kamu kan sempat mengobrol dengannya. Kamu lihat tidak senyuman itu?"
Memang, penampilan Iwama bisa dikatakan menarik secara obyektif. Wajah yang tegas, alis melengkung yang memberikan kesan intelektual, serta senyuman yang terlalu menyilaukan.
"Memang dia orang yang sering tersenyum, sih."
"Beneran, kan? Bukan cuma penampilannya, tapi dari gerak-geriknya saja sudah terpancar bahwa dia berasal dari keluarga baik-baik, cara bicaranya pun lancar dan tegas, benar-benar seperti siswi teladan yang berjalan memakai pakaian."
"Kalau siswi teladan berjalan tanpa pakaian, justru akan jadi masalah, kan?"
"Pria yang terlalu mendetail itu tidak akan populer, tahu. Jadi, kamu setuju kan kalau dia kelihatan seperti siswi teladan?"
"Yah, aku berpikir kalau dia memang tipe yang seperti itu."
Iwama begitu memancarkan aura siswi teladan hingga membuat orang berpikir akan aneh jika nilainya buruk. Dia pasti akan mengumpulkan kepercayaan dari teman-teman sekelas maupun para guru. Dia hampir pasti akan terpilih sebagai ketua kelas. Mungkin dia juga pandai berolahraga, dan saat perekrutan klub, dia akan menjadi rebutan klub-klub olahraga.
Bagaimanapun juga, dia adalah Sakura. Iwama Rio, siswi teladan yang menyandang nama sakura.
Karena setiap kali musim semi tiba, dia adalah sosok sakura populer yang menarik perhatian semua orang.
"Trus trus Delta, aku menemukan penemuan yang jenius, tahu."
Mizusaki Mizusaki mengarahkan pandangan penuh arti kepadaku.
"Penemuan jenius?"
"Ah. Tak disangka, ada kesamaan ajaib antara Delta dan Iwama-san. Penasaran, kan?"
Aku tidak terlalu penasaran, tapi Mizusaki pasti ingin menceritakannya. Aku menganggukkan dagu untuk mendorongnya bicara.
"Pertama-termasuk, coba ingat-ingat asal-usul nama belakang nama belakang Delta."
"Sebenarnya nama belakangku nama belakang adalah Izuta, sih."
Delta adalah nama panggilan nama panggilan yang berasal dari suatu insiden di masa SMP dulu. Tidak ada latar belakang sejarah seperti nenek moyangku pernah tinggal di delta delta sungai.
Mizusaki sepertinya ingin menyebarkan salah baca ini hingga ke SMA, tapi jujur saja aku ingin dia menghentikannya.
"Yah, tidak usah meributkan hal detail. Lalu, tentang Iwama Iwama-san."
Seolah menargetkan efek dramatis, Mizusaki Mizusaki memberi jeda sejenak.
"……Coba baca kanji 『Iwama』 dengan cara Jubako-yomi (bacaan campuran)."
Iwama Iwama──Iwa (岩), Ma (間)──Gan (がん), Ma (ま)──Gamma.
"Nah, kan? Kan?"
Mizusaki tampak bangga seolah-olah baru saja menemukan cara menjawab soal pembuktian matematika hanya dalam tiga baris.
"Kamu adalah Delta, dan dia adalah Gamma. Alpha, Beta, Gamma, Delta…… Bukan cuma nomor absen kalian yang bersebelahan, tapi saat dijadikan huruf Yunani pun kalian bersebelahan. Kan? Bukankah ini luar biasa?"
"Itu sangat luar biasa."
"Jangan memuji tanpa emosi begitu, dong. Dengar ya, ini pasti ada takdirnya! Kalau mau, kamu boleh kok memakai ini sebagai bahan obrolan awal, aku sama sekali tidak keberatan."
"Kenapa aku harus membutuhkan bahan obrolan awal?"
"Bicara apa sih, tentu saja untuk makin akrab!"
Saat kulihat, Mizusaki kembali berjalan dengan nyaman di sisi jalan yang terpapar sinar matahari tempat terang. Rambutnya yang berwarna mirip larutan besi (III) ferisianida saat disinari cahaya matahari musim semi yang cerah, tampak sangat cocok untuk Mizusaki. Entah burung kolibri atau burung merak, yang penting dia terlihat bersenang-senang dan itu baguslah.
"Aku tidak akan berusaha makin akrab. Kamu kan tahu karakterku."
Mizusaki berbalik ke arahku sambil tersenyum-senyum.
"Mana ada yang tahu. Yang namanya takdir itu terkadang memainkan lelucon lelucon buruk yang seperti candaan."
"Aku cuma bilang kalau aku tidak berniat untuk makin akrab. Apa pun yang dilakukan takdir tidak akan mengubah apa pun."
"Sedih banget bilangnya. Padahal mumpung sekelas, tidak ada salahnya berteman baik."
"Tipe kami berbeda. Dilihat dari mana pun, dia adalah orang dengan jalan hidup yang berbeda denganku."
"Tapi ya, coba pikirkan."
Menyelak pembicaraanku, Mizusaki menegakkan jari telunjuknya.
"Syarat-syaratnya sudah terkumpul secara sempurna. Kursi Delta dan Iwama Iwama-san berada di barisan paling dekat koridor. Ditambah lagi, Iwama-san berada di paling belakang. Artinya, saat Iwama-san duduk, lawan bicaranya cuma ada di sebelah kiri atau di depannya saja. Nah, menurutmu siapa yang duduk di depan Iwama Iwama-san?"
"Tidak perlu menebak, itu aku."
Tempat duduk tepat setelah masuk sekolah disesuaikan dengan urutan nomor absen. Di kelas kami, ada banyak sekali murid yang namanya diawali huruf "A" seperti Aizawa atau Arasa, sehingga aku dan Iwama berada di posisi paling belakang pada barisan paling dekat koridor, yang merupakan barisan dengan nomor absen paling kecil.
"Kan? Lagipula di ruang kelas lain pun, karena urutan nomor absen, Delta dan Iwama-san pasti akan berdekatan."
Sama seperti saat ia memaksakan singkatan jembatan keledai ciptaannya sendiri untuk menghafal tabel periodik, Mizusaki terus mendesak dengan agresif. Sampai-sampai membuatku curiga apakah ada maksud terselubung di baliknya.
"……Kasihan sekali dia harus terus-menerus berada di dekatku."
"Bicara apa sih. Berada di dekat Delta itu sama sekali bukan tempat yang tidak nyaman, tahu!"
"Aku senang kamu berkata begitu, tapi yang berpikir seperti itu cuma Mizusaki Mizusaki saja."
Mizusaki tertawa ceria.
"Mungkin saja!"
Tentu saja aku tidak memberikan dampak buruk bagi sekelilingku. Namun, aku bukanlah orang yang aktif secara sosial. Lain kata, aku bukanlah tipe orang yang berjalan di bawah sinar matahari tempat terang.
Seorang anak penyendiri orang yang berada di dalam bayangan──singkat kata, seorang oscuridad (ingkyah).
Dalam situasi di mana ia hanya bisa berbicara dengan orang di depan atau di kirinya, jika orang di depannya adalah seorang penyendiri yang hanya memutarkan kertas lembaran ke belakang, Iwama pasti akan merasa kesepian.
Sebab dilihat dari mana pun, dia adalah tipe orang yang berbaur dan berjalan di bawah sinar matahari tempat terang, bukan orang dari pihak sebelah sini.
Di seberang deretan pohon ginkgo yang membentuk tanjakan landai, gerbang SMA Tsunagai mulai terlihat. Gerbang bergaya kuno dari tumpukan batu tinggi itu memancarkan wibawa yang gagah sebagai sekolah unggulan nomor satu di prefektur.
Pohon-pohon ginkgo di sepanjang jalan menumbuhkan tunas baru berwarna hijau kekuningan yang tipis, membuat seluruh bagian pohon pohon berkilau disiram sinar matahari pagi di bawah langit biru.
Hari ini cuacanya bagus, namun prakiraan cuaca menyebutkan bahwa cuaca akan memburuk mulai sore hari dan badai akan datang di malam hari.
Saat istirahat siang, Mizusaki menghilang entah ke mana untuk apa yang disebutnya "pengintaian kelas lain". Tanpa alasan untuk ikut dengannya, aku membuka kotak bekal di kursiku sendiri. Bekal penuh perhatian yang kusiapkan sendiri. Walau begitu, separuh dari isinya didominasi oleh tomat ceri.
Ngomong-ngomong, menurutku tomat ceri adalah salah satu puncak pencapaian yang dicapai oleh sejarah pertanian.
Di balik kulit tipisnya itu, tersimpan keajaiban alam dan kearifan umat manusia. Keseimbangan antara rasa asam yang segar dan rasa manis yang tidak membosankan.
Kulitnya yang menolak air dengan baik membuatnya mudah dicuci, dan terlepas dari itu sangat mudah dimakan.
Karena ukurannya seukuran satu gigitan, tidak perlu pisau, dan bisa dimakan tanpa mengotori tangan. Harganya pun terjangkau jika dibeli di pasar petani lokal.
Berkat perkembangan budidaya hidroponik dan rumah kaca, tumbuhan ini dapat dibeli sepanjang tahun.
Sambil menggigit satu butir hingga letup letup, aku merenungkan informasi genetik yang teranyam di dalam sel-selnya.
Nenek moyangnya yang tumbuh liar di Pegunungan Andes hanya menghasilkan buah-buah kecil. Rasanya pun pasti asam asam dan sepat. Umat manusia membudidayakannya, dan dari generasi ke generasi sedikit demi sedikit mengembangkannya sesuai dengan selera mereka.
Sejarah evolusi makhluk hidup yang membentang jauh, serta sejarah usaha panjang umat manusia, terukir di dalam setiap butir ini.
Simfoni simfoni yang dilantunkannya! Tumbuhan yang menyerap sinar matahari menggunakan energi dari sistem fotosintesis yang rumit, mengerahkan berbagai gen, dan menghasilkan berbagai zat melalui proses yang sangat panjang.
Hal itu mewujudkan keseimbangan rasa dan aroma yang halus di atas lidah.
Manusia tidak akan pernah bisa mereproduksi mekanisme ini dari nol. Jika bukan keajaiban, lalu mau disebut apa lagi!
"Kamu suka tomat ceri, ya?"
Tiba-tiba disapa, aku terkejut dan membalikkan badan ke kursi belakang.
Iwama Rio sedang menatapku dengan mata besarnya yang membulat. Aku segera mengalihkan pandanganku ke bawah.
"A, aa…… yah."
Merasa telah memberikan jawaban yang konyol, aku pun menambahkan.
"……Apa aku memakannya kelihatan sangat enak?"
Begitu mengucapkannya, aku baru tersadar bahwa yang terlihat oleh Iwama Iwama harusnya hanyalah punggung dan bagian belakang kepalaku saja. Aku malah bicara yang tidak-tidak.
"Tidak, kok. Soalnya jumlahnya banyak sekali. Mungkin ini pertama kalinya aku melihat ada orang yang membawa tomat ceri sebanyak ini di kotak bekalnya."
Dengan jarinya yang sedikit kecokelatan terpapar sinar matahari, Iwama Iwama menunjuk ke arah mejaku.
Dari kotak bekal dua tingkat milikku, salah satu tingkatnya sepenuhnya berisi tomat ceri. Sebagai informasi, tingkat yang satunya lagi diisi padat-padat dengan nasi putih berbumbu tabur furikake plum perilla shiso beserta sisa lauk-pauk.
"Soalnya enak, sih, tomat ceri itu."
Terhadap jawabanku yang tidak jelas apakah bisa menjadi alasan atau tidak, Iwama tersenyum manis seperti bunga yang bermekaran.
Meminjam istilah Mizusaki, "Kamu lihat tidak senyuman itu".
"Iya! Tomat ceri memang enak, ya."
Hanya dengan diulangi ucapan yang sama, rasanya seolah-olah seluruh keberadaanku diakui olehnya. Kemampuan menguasai hati orang yang sungguh menakutkan.
"Tapi, apa tidak bosan makan sebanyak itu? Aku sempat berpikir apa kamu sedang bertengkar bertengkar dengan orang tuamu."
Rupanya Iwama sempat curiga kalau orang tuaku mengisi bekal dengan tomat ceri sebagai bentuk pelampiasan kejengkelan. Tapi itu salah. Bukan begitu.
"Tidak, aku memakan jumlah sebanyak ini memang karena suka. Bahkan segini saja masih terasa kurang."
Meskipun aku percaya diri bisa menceritakan tentang simfoni tomat ceri selama sejam penuh, aku menahannya. Sebagai gantinya, aku memperlihatkan kotak bekal berisi tomat ceri itu kepada Iwama.
Meski beberapa butir sudah kumakan, sisanya masih terisi tanpa celah sehingga tidak bergeser seperti teka-teki puzel.
"Hebat! Struktur penataan ter rapat CP structure (sa-jyuu-ten-kou-zou)!"
Istilah yang tak terduga meluncur dari mulut Iwama, membuatku bingung.
Tampaknya dia dengan peka membaca perubahan ekspresiku, sehingga Iwama terburu-buru melambaikan kedua tangannya.
"Ah! Aku bicara hal yang aneh, ya! Maaf ya, maksudku terisi dengan sangat efisien."
"Tidak kok, tidak ada yang aneh──"
"Kalau begitu Izuta-kun membuat kotak bekalnya sendiri, ya."
Sambil merasakan sedikit kejanggalan dari pengalihan topik yang agak dipaksakan itu, aku mengangguk menganggapnya bukan masalah.
"Tidak bisa dibilang membuat juga, sih."
Hampir sebagian besar cuma memasukkannya saja. Tomat ceri itu.
"Hebat sekali! Aku dibuatkan oleh Ma──Ibu."
Padahal tidak ada percakapan yang aneh, tetapi dia seolah-olah terburu-buru mengubah topik.
Tangan Iwama bergerak halus, membuka bekalnya sendiri dan memperlihatkannya kepadaku. Lauk-pauk yang tertata dengan seimbang, serta nasi putih dengan umeboshi kecil di atasnya. Menunjukkan isi kotak bekalnya secara alami kepada laki-laki yang baru pertama kali diajak bicara begini, entah karena kewaspadaannya yang rendah, atau karena kebaikan hatinya, membuatku berpikiran buruk kalau dia dibesarkan di keluarga yang sangat berada.

Lagi pula barusan, bukankah dia hampir berucap 'Mama'?
Saat kupandangi jemarinya yang memegang kotak bekal, kuku-kukunya terpotong dengan sangat rapi. Apakah dia melakukan bela diri atau mungkin berenang?
……Gawat, aku malah kelepasan mengamatinya. Aku harus melanjutkan percakapan agar terdengar natural.
"Lagipula, kalau ada yang membuaatkan bekal bukankah itu bagus? Orang tuaku berdua bekerja di Tokyo dan berangkat sangat pagi. Makanya aku menyiapkannya sendiri."
"He~h! Begitu ya! Ibuku tipe orang yang bekerja di rumah, jadi aku selalu manja padanya. Karena sudah jadi anak SMA, mungkin berikutnya aku harus coba buat sendiri, ya."
Sambil berkata demikian, Iwama Iwama mengeluarkan sumpit berpelitur pernis.
Pekerjaan rumah tangga macam apa yang dimaksud dengan 'bekerja di rumah'? Programmer, desainer, penulis…… Jika rumahnya sekaligus toko, kemungkinan lain tentu ada.
Namun jika rumah dan toko menyatu, orang biasanya tidak menyebutnya 'bekerja di rumah'. Bimbingan belajar pribadi yang menerima murid di rumah mungkin saja ada, tapi……
Kulihat Iwama Iwama memiringkan kepalanya sedikit. Aku mengalihkan pandangan dan memasukkan satu butir tomat ceri ke dalam mulut. Aku tak sengaja memakannya beserta kelopaknya, tapi karena tidak mungkin dikeluarkannya lagi, aku pun menelannya. Aroma khas kelopak tomat yang mirip herba melintasi rongga hidungku tipis-tipis.
Apa yang sedang kulakukan? Padahal tidak terlalu tertarik, tapi aku malah mencoba mengulik lingkungan keluarga Iwama Iwama ke sana-kemari. Sungguh menjengkelkan. Iwama Iwama dengan lihai menggunakan sumpitnya untuk mengambil sedikit nasi putih, lalu memasukkannya ke mulut. Caranya mengunyah jumlah kecil itu dengan saksama, berpadu dengan kuncir kudanya yang bergoyang pelan, entah kenapa mengingatkanku pada kelinci atau hewan pengerat. Ikat rambut yang mengikat kuncir kudanya hari ini sama seperti kemarin, kuncir rambut hitam polos tanpa hiasan.
Ternyata ini memang cuma prasangkaku saja.
"Izuta Izuta-kun, kamu sudah menentukan klub?"
Iwama Iwama yang membuka topik baru kali ini. Aku menggeser tubuh di atas kursi dan duduk menghadap samping.
"Klub…… yah, belum sih. Aku berencana memutuskannya setelah mencoba masa uji coba uji coba masuk dulu."
"Begitu ya. Benar juga. Aku juga masih bingung."
Sesuai dugaan Mizusaki Mizusaki──atau lebih tepatnya sesuai harapannya, aku malah mengobrol secara alami dengan Iwama Iwama.
Sebagai informasi, tetangga sebelah kiri Iwama Iwama adalah anak laki-laki yang kelihatan agak nakal. Dia sedang pergi berkumpul dan main keluar bersama teman-temannya.
"Kalau Iwama Iwama-san, ada klub yang dipikirkan ingin dimasuki?"
Ketika aku melemparkan pertanyaan balik yang sama sebagai bentuk kesopanan, Iwama Iwama bergumam "Umm~".
"Begitulah, Ibu menyuruhku untuk masuk klub olahraga, tapi aku tidak begitu pandai berolahraga……"
Jangan rendah hati begitu. Iwama Iwama tergolong tinggi, tetapi tidak kurus kering. Dari struktur tulangnya saja, dia memberi kesan bisa melakukan olahraga apa saja.
"Saat SMP? Kamu masuk klub apa?"
Saat aku bertanya, Iwama Iwama agak ragu-ragu meskipun mulutnya sedang tidak terisi makanan.
"Anu, itu klub yang agak aneh. Izuta Izuta-kun mungkin bakal tertawa kalau mendengarnya."
"Aku tidak akan tertawa, kok."
Kalau itu Klub Penelitian Petak Sembet atau Klub Nona Muda…… mungkin aku bakal tertawa, sih.
"Beneran?"
Sambil bersiap-siap seaneh apa klub itu, aku mengangguk.
Iwama Iwama membuka mulutnya sedikit dengan gestur yang tampak agak bersalah.
"Aku…… sebenarnya ikut Klub Kagaku Kagaku (Klub Sains). Nah, seperti menumbuhkan kristal tawas, melihat bintang, atau melakukan survei vegetasi…… kami tidak beraktivitas secara serius kok, cuma sekadar menikmati (enjoy) saja."
Terlepas dari benar salahnya menjadi tim penikmat (enjoy), menurutku sama sekali tidak ada unsur yang patut ditertawakan.
"He~h, sebenarnya aku juga──"
Aku juga di Klub Kimia (Kagaku), saat baru mau mengatakannya, aku menyadari adanya kejanggalan. Menumbuhkan tawas masih mending, tetapi Klub Kimia tidak mungkin melakukan pengamatan bintang. Survei vegetasi juga terasa sangat mencurigakan.
"Kagaku Kagaku yang dimaksud, apakah Sains (Science)?"
"Iya! Sains dengan huruf kanji Nogihen (科学 - Sains)!"
Sains (科学 - Kagaku) dan Kimia (化学 - Kagaku). Karena artinya dekat dan pelafalannya sama, terkadang timbul kesalahpahaman seperti ini.
"Menurutku itu sama sekali bukan klub yang aneh, kok. Sebenarnya aku juga dulu di Klub Kagaku Kagaku. Meskipun begitu, aku ada di bagian Kimia (Chemistry - 化学). Klub Bake-gaku."
"Eeh, benarkah?" Merespons dengan suara keras, Iwama Iwama refleks membekap mulutnya.
Namun, aku tidak melewatkan bagaimana netra hitamnya berbinar terang secara harfiah, bukan sekadar gaya bahasa. Karena dia sedikit memajukan tubuhnya ke arahku, mungkin itu akibat pantulan lampu neon dari sudut pandangku.
Iwama Iwama mengucapkan kata-kata berikutnya dengan suara yang sedikit tertahan.
"Memang benar, Izuta Izuta-kun kelihatan cocok memakai jas laboratorium, ya."
Ini pertama kalinya ada yang mengatakan hal seperti itu padaku. Kedengarannya seperti pujian, tapi kemungkinan besar bukan. Malah, ini lebih seperti ungkapan tidak langsung dari "kelihatan sangat tipe pemuda indoor". Aku berpikir bahwa kemampuan membuat ungkapan apa pun terdengar seperti pujian adalah keahlian khusus dari siswi teladan ini.
"Jas laboratorium memang lumayan sering kupakai, sih. Dari kegiatan tiga kali seminggu, separuhnya adalah eksperimen."
"Contohnya? Eksperimen seperti apa?"
"Kalau menyebutkan yang menarik…… misalnya Reaksi Luminol. Iwama Iwama-san tahu?"
"Iya! Reaksi yang dipakai di investigasi sains, yang bakal menyala kalau ada darah, kan?" Seperti yang diharapkan dari mantan anggota Klub Sains. Nyambung dengan cepat begini sangat membantu.
"Benar. Sangat menarik karena bisa mendeteksi darah meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit. Kami pernah membagi peran menjadi pelaku yang mencoba memusnahkan bukti dan identifikasi forensik yang menemukan bukti, lalu bermain permainan investigasi. Tapi pada akhirnya, sesuai dugaan, pihak forensik menang telak. Dari situ kami benar-benar menyadari betapa hebatnya reaksi katalis."
Saat itu aku berperan sebagai tim forensik. Meskipun Mizusaki Mizusaki yang berperan sebagai pelaku telah menggunakan berbagai cara yang terpikirkan olehnya untuk mengelap bercak darah, hal itu tidak berdaya di hadapan kekuatan kimia. Wajah jengkel Mizusaki Mizusaki saat itu masih kuingat jelas sampai sekarang.
Ketika tersadar, Iwama Iwama sedang menatapku tercengang dengan mulut sedikit terbuka.
──Gawat, aku terlalu banyak bicara.
Melakukan hal ini di depan orang awam hampir selalu memicu reaksi seperti ini. Saat aku membicarakan tentang simfoni tomat ceri saja, Mizusaki Mizusaki bahkan pernah memberikan senyum kecut padaku.
"Maaf, anggap saja angin lalu."
Saat aku mengucapkannya, Iwama Iwama menggelengkan kepala seolah tersadar.
"A, tidak, bukan begitu maksudku──"
Pada akhirnya aku tidak pernah tahu apa maksud sebenarnya dari "bukan begitu" itu.
"Oya oya Delta, benar-benar tidak boleh lengah ya. Pria idaman memang gerak cepat!" Mizusaki Mizusaki duduk di sebelah Iwama Iwama dengan senyum lebar di wajahnya. Aku sempat berpikir ingin membunuhnya saja.
"Ah, anu…… Mizusaki Mizusaki-kun!"
Iwama Iwama merespons dengan ramah sambil menaikkan alisnya.
Jangankan barisan depan, dia bahkan mengingat nama Mizusaki Mizusaki yang duduk di barisan hampir berseberangan dari ruang kelas; sungguh luar biasa seperti yang diharapkan dari siswi teladan yang berjalan pakai pakaian.
Di kelas 1-C yang berisi 40 orang ini, mereka baru saja bertatap muka kemarin.
Mizusaki Mizusaki yang dipanggil namanya seakan dibuat kaget, mendadak mematung di depan Iwama Iwama. Momen saat pria ini mematung bukan karena akting adalah hal yang sangat jarang ditemui.
"……O-Oh. Hebat ya Iwama Iwama-san, kamu sudah ingat nama teman sekelas."
"Ya, begitulah. Tapi Mizusaki Mizusaki-kun juga ingat namaku, kan?"
"Yah, tentu saja, lagipula kamu kan Iwama Iwama-san yang terkenal itu?"
Sambil berkata begitu, Mizusaki Mizusaki kembali menyeringai seperti biasa dan menatap ke arahku dan Iwama Iwama. Warna rambutnya yang dicat understated itu tampak hampir hitam di bawah pencahayaan ruang kelas.
"Eh, apa aku seterkenal itu?"
"Tentu saja. Kalau di tengah tumpukan jelata ada satu pohon sakura indah yang mekar dengan anggun begini, siapa pun pasti bakal penasaran. Iya kan, Delta?"
Jangan tanya aku.
Sebagai bentuk pernyataan bahwa aku tidak akan ikut-ikutan percakapan mereka, aku mengunyah tomat ceri penuh-penuh di mulut.
Melihatku tidak menjawab, Iwama Iwama tersenyum manis lalu bertanya pada Mizusaki Mizusaki.
"Anu, Mizusaki Mizusaki-kun…… Delta itu apa?"
Pintar sekali mengalihkan pembicaraan. Pasti dengan cara begini dia selalu mengelak dari pria-pria gaul di masa lalu.
Namun sialnya, ini adalah topik yang justru sangat disukai oleh pria ini.
"Oh! Pertanyaan yang bagus. Delta itu adalah nama asli dari Izuta Izuta Sho Sho yang ada di sini."
"Eh? Delta itu nama asli……?"
Meskipun tahu itu pasti bohong, Iwama Iwama bertanya dengan polos tanpa rasa curiga.
"Iya. Nama Izuta Izuta itu cuma seperti nama anumerta. Waktu SMP dulu semua orang memanggilnya Delta. Iwama Iwama-san juga panggil saja dia Delta."
"Jangan membunuh orang sembarangan."
Bisa-bisanya dia mengoceh sembarangan begitu……
Saat kami sedang begini, bel tanda masuk pun berbunyi.
Sambil terburu-buru menghabiskan sisa bekal, jam istirahat siang pun berakhir.
"Katanya ada kejadian besar, lho."
Saat Mizusaki Mizusaki berkata begini, biasanya itu hanyalah kejadian yang sangat sepele.
"Wah gawat dong, ayo cepat pulang."
Kami mengganti sepatu dan keluar dari pintu loker tempat ganti sepatu (shoukoushi). Pelajaran sudah selesai, sisanya tinggal pulang.
"Oi oi, jangan pulang dong. Aku minta maaf deh. Kamu masih marah soal kejadian istirahat siang tadi?"
"Aku tidak bakal marah cuma karena hal segitu. Tapi tindakanmu itu sangat tidak sopan pada Iwama Iwama-san."
"Yah, memang sih. Aku gagal. Begitu dipanggil 'Mizusaki Mizusaki-kun', otakku langsung berubah jadi warna sakura."
"Bukankah otakmu memang dari awal warnanya sakura?"
"Yah memang sih, gabungan warna putih dari sel otak dan merah dari hemoglobin, otak manusia emang mirip warna merah muda pucat usubeni-iro."
Benar-benar pria yang pandai bersilat lidah di hal-hal konyol.
"Introspeksi diri, dong."
"Tenang saja. Aku sudah minta maaf secara halus kok karena sudah merepotkan."
Melihat dia lumayan menyesali perbuatannya, aku merasa lega. Mizusaki Mizusaki adalah tipe pria yang terkadang melakukan hal lancang dan tidak tahu malu sebagai dampak dari kemampuan komunikasinya yang tinggi, tetapi pada dasarnya dia anak yang cukup baik.
"……Lalu, kejadian besar apa yang kamu maksud?"
Saat aku bertanya, Mizusaki Mizusaki mendadak berhenti. Senyum lebar di wajahnya menatap ke arahku.
"Di bukit belakang sekolah, ada dua pohon sakura yang tumbuh."
"Bukit belakang?"
Aku menoleh ke belakang. Di balik bangunan sekolah, terlihat hutan yang berada di dataran agak tinggi.
Kota Tsunagai Tsunagai menghadap ke Samudra Pasifik di sebelah selatan, dan tiga sisi lainnya dikelilingi oleh pegunungan.
Semakin ke utara dari arah laut, ketinggian daratannya sedikit demi sedikit bertambah.
SMA Tsunagai Tsunagai tempat kami berada terletak di bagian utara tersebut.
Gerbang sekolah menghadap ke selatan ke arah laut, sedangkan di balik bangunan sekolah, di seberang lapangan olahraga, terdapat bukit.
"Iya, bukit belakang. Dari sini memang tidak kelihatan, tapi pokoknya ada dua pohon sakura di sana. Tumbuh berdampingan, dan katanya sering disebut Meoto-zakura (Sakura Suami-Istri). Tempat yang sangat populer."
"Baguslah kalau begitu."
"Bagus kan. Nah, sakura ini katanya sedang dalam masa mekarnya sekarang."
Aha, jadi dia ingin mengajakku melihatnya.
"Jenisnya tergolong lambat mekar, ya."
"Iya. Nah, sakura itu punya legenda──legenda yang sangat menarik."
Aku mengangguk mendorongnya melanjutkan.
"Katanya, di musim mekar bunga, kedua sakura itu membentuk pola tanda hati (heart) yang sangat indah. Lalu, laki-laki dan perempuan yang melihatnya──konon katanya bakal dipastikan bersatu!"
"Apakah harus laki-laki dan perempuan saja? Di era Reiwa begini?"
Saat aku menyela, Mizusaki Mizusaki memiringkan kepalanya dengan agak serius.
"Umm, itu cuma kiasan kata saja. Menurutku tidak harus pasangan laki-laki dan perempuan kok. Intinya adalah terwujudnya percintaan."
"Mizusaki Mizusaki, kamu ingin pergi melihat sakura itu bersamaku, kan?"
"Yah, begitulah."
Menerima jawaban gembira darinya, aku sengaja menyelipkan sedikit hening.
"……Apakah ini bisa kuanggap sebagai ungkapan perasaan?"
"Buh…… ya walau Delta itu sahabat pentingku, tapi…… a-aku tidak pernah menganggap Delta dengan cara seperti itu, tahu?!"
Maka dari itu, kami akhirnya pergi ke bukit belakang.
Saat keluar gerbang sekolah, di seberang deretan pohon ginkgo yang menurun, terlihat pusat kota. Lebih jauh dari sana terdapat laut. Sinar matahari yang cerah membuat gelombang laut berkilauan. Hari ini diperkirakan cuaca bakal buruk, tapi sepertinya masih akan bertahan untuk sementara.
Bukan turun melewati jalan deretan pohon, kami malah masuk ke jalan samping menuju belakang sekolah. Jalanan sempit tetapi sudah diaspal. Karena lahannya dikelilingi bukit, jalan ini tampaknya digunakan jika ada barang yang harus diangkut ke arah lapangan olahraga.
"Tapi agak meragukan ya. Kalau dibilang 'pasti bersatu asal melihatnya', bukankah kontradiksinya (counterexample) bisa dengan mudah ditemukan kalau dicari sedikit saja?" Terhadap sanggahanku, Mizusaki Mizusaki menggoyangkan jari telunjuknya sambil berdecak.
"Yah, memang sih, kata 'pasti' itu mungkin agak berlebihan. Tapi katanya selama 19 tahun terakhir ini, setiap tahunnya selalu ada satu pasangan yang berhasil. Hebat, kan?"
"Kisah mencurigakan begitu, kamu dengar dari siapa?"
"Dari senior yang bisa dipercaya. Lagipula, keajaiban 19 tahun itu adalah fakta yang nyata."
"……Itu kan cuma masalah probabilitas. Untuk sakura yang terkenal, jika ada bertumpuk-tumpuk pasangan yang melihatnya setiap tahun, tentu saja wajar jika ada satu pasangan yang berhasil. Lagipula, kalau hubungan mereka sudah sejauh pergi berdua melihat sakura yang punya legenda begitu, tanpa bantuan kekuatan sakura pun percintaan mereka bakal terwujud dengan sendirinya."
"Beneran deh, pria yang terlalu logis itu tidak akan populer, tahu."
Setelah menyedikitkan bahunya, Mizusaki Mizusaki menyeringai menatapku.
"Lagipula, kelanjutan dari kejadian besar ini masih ada, lho."
"Oh ya?"
"Iya dong."
Mungkin ingin memberi efek dramatis, Mizusaki Mizusaki menghela napas pelan lalu memberi jeda.
"Menurut senior itu, katanya tahun ini tidak ada seorang pun yang melihat bentuk tanda hati (heart) itu."
"……Kenapa?"
"Bukan apa-apa, aku juga penasaran sih. Katanya bentuknya rusak, dan sama sekali tidak kelihatan seperti tanda hati bahkan kalau dipuji sekalipun."
"Sayang sekali."
Pasangan laki-laki dan perempuan yang sengaja masuk ke bukit belakang dengan harapan terwujudnya percintaan, tetapi tidak bisa melihat tanda hati itu. Membayangkannya saja terasa kasihan. Malah akan terasa seperti hubungan mereka dihalang-halangi.
Dibandingkan tidak berharap dari awal, dikhianati oleh harapan terasa jauh lebih menyakitkan. "Yah, melihat sekali lebih baik daripada mendengar seratus kali. Pokoknya ayo kita pergi lihat. Kelihatannya seru, kan."
"Ya."
Aku menurut saja menuruti arahan Mizusaki Mizusaki yang berjalan maju dengan mantap.
Begitu berjalan menyusuri pagar, kami keluar di belakang gudang olahraga atau semacamnya. Di sana jalanannya meluas, dan bahkan disediakan bangku plastik.
Mungkinkah ini tempat anggota klub olahraga datang beristirahat? Karena sepertinya jarang dipakai, kaleng baja yang berkarat dan bola keras berlumpur tergeletak di sudut.
"Harusnya kita masuk ke bukit dari sekitar sini, sih……" Sambil bergumam begitu, Mizusaki Mizusaki melihat sekelilingnya.
Lalu mendadak, dia berbalik menghadapku.
"Ah. Sial."
Cara bicaranya terdengar sangat dibuat-buat.
"Maaf ya, hari ini aku ada urusan yang mendesak dan tidak bisa ditinggal. Sampai jumpa besok!"
"Ha?"
"Aku pasti bakal ganti rugi! Nanti kubelikan tomat ceri satu dus deh, maafkan aku ya. Dah!" Mizusaki Mizusaki mengedipkan sebelah matanya, menyatukan kedua tangan di depan wajah, lalu berlari kabur begitu saja. Apalagi, dia berlari ke arah yang berlawanan dari arah datang kami.
Jika ingin terburu-buru pulang, rute terpendek harusnya adalah melewati jalan yang tadi dilalui, tapi kenapa ya? Sambil memikirkan hal itu aku menoleh ke belakang jalan tadi──dan aku pun menyadari alasan mengapa Mizusaki Mizusaki mendadak menghilang.
Dan alasan tersebut juga sangat menjelaskan mengapa Mizusaki Mizusaki berlari ke arah berlawanan. Dari seberang jalan, sang alasan sedang berjalan sendirian.
──Iwama Iwama Rio Rio.
"Lho, Delta-kun, kenapa ada di tempat seperti ini?"
Iwama Iwama membawa tas sekolahnya. Mungkinkah dia sedang dalam perjalanan pulang? Dia berhenti di depanku.
"Tadi dipaksa ikut ke sini…… ngomong-ngomong, kamu tidak perlu memaksakan diri memanggilku Delta, kok."
"Begitu? Kalau begitu, Izuta Izuta-kun."
Itu jauh lebih baik. Panggilan "Delta-kun" rasanya kurang menyenangkan bagiku.
"Kenapa Iwama Iwama-san ada di sini?"
"Aku? Sebenarnya aku mendengar cerita yang cukup menarik, jadi datang untuk memastikannya."
Mendadak aku merasakan sesuatu yang tidak beres. Perasaan yang sangat tidak beres.
"……Cerita menarik apa?"
"Katanya di bukit belakang ini, ada sakura terkenal yang bisa membawa kebahagiaan jika dilihat. Hanya di musim penerimaan siswa baru saja, pola penangkal bahaya yang disebut Inome (mata babi) akan muncul!
Karena sangat penasaran, aku jadi datang untuk melihatnya."
Aha. Aku mulai paham situasinya sedikit demi sedikit.
Bahkan tanpa menjadi detektif terkenal pun, orang bisa tahu bahwa situasi ini tidak tercipta secara kebetulan.
"……Jangan-jangan cerita itu kamu dengar dari Mizusaki Mizusaki?"
"Iya! Aku tidak begitu paham, tapi sebagai permintaan maaf dia memberitahuku tentang cerita Inome itu."
Pria brengsek itu……
"Apakah Izuta Izuta-kun juga datang ke sini karena mendengar cerita dari Mizusaki Mizusaki-kun?"
"……Yah, bukannya mendengar sih, lebih tepatnya diseret ke sini."
Sebagai informasi, yang dimaksud Inome itu pada dasarnya adalah tanda hati (heart). Entah legenda sebenarnya itu tentang terwujudnya percintaan atau penangkal bahaya, Mizusaki Mizusaki dengan cerdik mengubah ceritanya tergantung lawan bicara demi mempertemukanku dan Iwama Iwama di sini. Benar-benar pria yang licik bagaikan penipu.
"Lho, tapi Mizusaki Mizusaki-kun di mana?"
"Dia bilang ada urusan lalu pulang."
Sambil meninggalkanku.
"Begitu ya…… Padahal Mizusaki Mizusaki-kun sepertinya juga tertarik dengan Inome. Kasihan ya."
Jika pria itu tertarik pada sesuatu hari ini, objek pilihannya tentulah hanya satu: rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi jika mempertemukan Iwama Iwama denganku──sambil memikirkan hal itu, aku merasa agak aneh dengan perkataan Iwama Iwama.
"……Kasihan? Mizusaki Mizusaki-nya?"
"Iya. Soalnya nanti malam ada tekanan udara rendah yang datang, dan diprakirakan cuaca bakal sangat buruk, kan. Sayang sekali kalau bunga yang indah itu sampai rontok semua."
"Aha, jadi kalau melewatkan hari ini tidak ada kesempatan lagi, ya."
Setelah berbicara sejauh ini, entah kenapa, hanya sekadar entah kenapa, aku bisa memprediksi perkembangan yang sangat tidak menguntungkan bagiku.
Buruknya lagi, Mizusaki Mizusaki sepertinya tidak menceritakan soal terwujudnya percintaan kepada Iwama Iwama. Iwama Iwama menganggap sakura di bukit belakang ini hanyalah tempat terkenal yang membawa keberuntungan.
Dan yang lebih buruk lagi, Iwama Iwama jadi tahu kalau aku juga datang untuk melihat sakura.
Jika alurnya begini, Iwama Iwama pasti akan──"Kalau begitu mumpung di sini, Izuta Izuta-kun, mau pergi lihat bersama?"
Sambil tersenyum riang, Iwama Iwama memancarkan senyuman tipe "kamu lihat tidak senyuman itu".
"A~……"
"Lho, apa kamu sudah berniat mau pulang?"
"Tidak kok, bukannya begitu."
"Kalau begitu ayo pergi! Biar kehidupan SMA kita diawali dengan pertanda baik!"
Kehidupan SMA diawali pertanda baik…… ya.
Sulit untuk menolaknya. Atau lebih tepatnya, tidak ada alasan untuk menolak. Di saat seperti ini, tidak mungkin aku mengungkit soal terwujudnya percintaan dan berkata "Nanti jadi canggung kalau cuma berdua".
Semua berjalan sesuai rencana Mizusaki Mizusaki. Pria itu pasti sedang membayangkan apa yang terjadi jika menyinari seorang anak penyendiri dengki dengannya ini menggunakan cahaya matahari yang begitu menyilaukan, dan pasti sedang (bersemangat) di suatu tempat. Aku berpikir.
Jika begitu──bukankah ini justru kesempatan untuk membuktikan bahwa tidak ada apa-apa di antara kami?
Aku tinggal menunjukkan padanya bahwa cara hidupku tidak akan goyah hanya karena hal sepele seperti ini.
"Yah, benar juga. Mumpung di sini ayo kita pergi lihat."
"Iya! Ayo kita cari sakura kebahagiaan!"
Begitu mengucapkannya, Iwama Iwama seakan tidak sabar dan langsung melangkah ke jalan setapak bukit. Tidak ada penunjuk jalan, tetapi tidak terlihat ada jalan lain untuk mendaki bukit. Jalan ini pasti sudah benar.
Karena merasa canggung, aku berjalan sedikit terlambat di belakang Iwama Iwama. Hutan ini terasa terang. Di bawah kaki kami, buah oak (donguri) tahun lalu berserakan di sana-sini. Hutan di bukit belakang ini didominasi oleh produsen buah oak tersebut──yaitu hutan gugur daun (deciduous broadleaf forest) yang berpusat pada pohon kunugi dan konara.
Karena menggugurkan daunnya di musim gugur, dinamakan gugur daun. Karena daunnya lebar dan pipih, dinamakan pohon daun lebar. Hutan ini dipenuhi oleh pohon-pohon jenis tersebut.
Sebenarnya, wilayah dengan iklim hangat seperti ini secara alami akan menjadi zona iklim hutan evergreen (pohon hijau abadi) yang daunnya tetap lebat bahkan di musim dingin, namun karena manusia masuk ke bukit dan menebang pohon, pohon gugur daun yang tumbuh cepat jadi makin banyak.
Dan hutan pohon gugur daun itu sifatnya terang.
Di musim dingin saat daun-daun sudah gugur sepenuhnya, sinar matahari bisa mencapai tanah. Di musim tunas baru ini, daun-daun hijau muda menghiasi ranting-ranting secara renggang, sehingga ketika menengadah ke langit, rasanya seperti sedang melihat kaca patri (stained glass).
Pohon sakura juga merupakan salah satu dari pohon gugur daun ini. Sosok populer di tempat terang yang tumbuh subur di hutan yang terang.
"Hei, Izuta Izuta-kun!"
Iwama Iwama berhenti dan menoleh ke belakang.
"Bunga Katakuri (Erythronium japonicum) mekar banyak sekali. Langka ya. Apa di gunung ini memang ada banyak?"
Di atas tanah yang sebagian besar masih berwarna cokelat. Di sana-sini, bunga-bunga berwarna merah muda keunguan berkumpul. Kelopak bunganya yang melengkung ke belakang saat mekar terlihat sangat indah bagaikan kincir angin kecil.
"Ah. Katakuri memang banyak tumbuh di hutan pohon gugur daun seperti di sini." Karena nama tumbuhan diungkit, mulutku refleks bergerak menjawabnya.
Ini pertanda tidak baik. Aku segera bungkam. Padahal aku sangat menyadarinya, tapi kalau sudah mulai bercerita, aku ini tipe orang yang bicaranya panjang. Di depan orang yang belum begitu akrab, aku selalu berhati-hati untuk menahan diri.
"Eh, kenapa begitu?"
Iwama Iwama menatap ke arahku dengan penuh rasa penasaran.
"Maaf…… kalau dijelaskan bakal panjang. Jangan terlalu dipikirkan."
"Eh, aku mau dengar! Ceritakan padaku sambil berjalan, dong."
Malah diminta bercerita.
Mungkin ini masih mending daripada hening canggung. Aku pun memutuskan untuk bercerita sedikit.
"Kamu tahu tepung katakuri (katakuriko), kan? Yang suka dipakai untuk mengentalkan masakan."
"Iya. Aku jarang menggunakannya untuk memasak, tapi aku pernah memakai sekitar tiga kilo untuk eksperimen dilatan (dilatancy)!"
…………?Rasanya dia baru saja mengucapkan sesuatu yang cukup nyeleneh. Apakah ada eksperimen yang mewajibkan penggunaan tepung katakuri sampai tiga kilogram? Setidaknya, rasanya itu bukan berada dalam cakupan eksperimen kimia.
"Dilatan (dilatancy)?"
"Ah, maaf ya, aku malah bicara hal yang aneh! Jangan dipikirkan."
Entah kenapa Iwama Iwama memintaku melanjutkan dengan wajah merasa bersalah. Karena aku juga tidak begitu tahu apa itu dilatan, aku memilih melanjutkan penjelasanku.
"……Tepung katakuri itu, kalau sekarang hampir semuanya dibuat dari kentang, tapi asalnya dulu dibuat dari bunga katakuri ini. Iwama Iwama-san mungkin sudah tahu."
"Pati dari akar katakuri yang jadi bahan bakunya, kan. Makanya dinamakan tepung katakuri."
"Benar. Katakuri adalah tumbuhan yang menyimpan nutrisi berupa pati di bagian batangnya di dalam tanah (rhizome). Nutrisi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun itu menumpuk, dan butuh waktu sekitar delapan tahun sejak bijinya berkecambah sampai bunga pertamanya akhirnya mekar."
"Delapan tahun…… Umurnya panjang sekali ya, padahal bunganya kecil begini."
"Itulah strategi bertahan hidup katakuri."
Di lereng yang menghadap ke selatan. Di bawah pohon dengan tunas baru yang menyilaukan, katakuri menyerap sinar matahari dan memamerkan kejayaannya yang singkat.
Mulutku sudah tidak bisa dihentikan lagi.
"Sinar matahari bisa langsung mencapai tanah pada musim seperti ini, saat daun-daun di pohon belum lebat. Katakuri membentangkan daunnya untuk fotosintesis hanya dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan saja, yaitu dari sejak udara mulai hangat sampai hijau daun menebal dan tanah menjadi teduh."
"Cuma dua hingga tiga bulan? Memang sih kalau musim panas tiba bunga ini sudah tidak kelihatan……"
"Benar. Nutrisi yang dibuat selama periode itu disimpan di dalam batang bawah tanah. Begitu daun pohon tumbuh lebat dan sinar matahari tidak mencapai tanah lagi, katakuri akan layu dan hanya menyisakan batang bawah tanahnya. Karena cara hidupnya adalah bertumbuh sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama, butuh waktu bertahun-tahun sampai bunganya mekar. Dari musim panas hingga musim dingin, bisa dibilang mereka melakukan hibernasi yang panjang."
"Aha, makanya tumbuhan ini ada di hutan pohon gugur daun, ya."
Iwama Iwama menepuk tangannya seolah-olah sudah paham sepenuhnya.
"Karena fotosintesis cuma bisa dilakukan saat tanah mendapat sinar matahari, yaitu saat daun-daun gugur. Kalau di dalam hutan yang daunnya lebat terus dari musim dingin, tempatnya jadi teduh dan nutrisinya tidak bisa terkumpul."
Pemahamannya yang cepat sangat membantu.
Strategi bertahan hidup katakuri hanya bisa terlaksana di hutan yang menggugurkan daunnya di musim dingin.
"Benar. Karena hanya memunculkan wujudnya di atas tanah saat momen singkat musim semi, tumbuhan yang memiliki cara hidup seperti katakuri ini terkadang dipanggil dengan sebutan──"
"Spring Ephemeral!"
Karena Iwama Iwama mendahului menyebutkan jawabannya, aku dibuat terkejut.
"Lho, kamu sudah tahu?"
"Ah, anu, aku tidak tahu secara mendetail sih…… tapi waktu membalik-balik buku pelajaran biologi, rasanya aku pernah melihat istilah itu. Aku cuma berpikir nama itu terkesan imut."
"Daya ingat yang luar biasa."
Pembagian buku pelajaran baru saja dilakukan belum lama ini. Aku bahkan belum membuka satu buku pun.
Spring Ephemeral──sang mahluk fana di musim semi. Penjelasan terjemahannya rasanya tidak perlu dijelaskan lagi pada Iwama Iwama.
Di jalan setapak bukit, tangga yang dibuat dari susunan batang kayu kecil terus berlanjut. Tersadar napas jalanku mulai memburu, aku menyadari bahwa aku sudah terlalu banyak bicara. Karena terlalu membiarkan kata-kata meluap begitu saja, aku bahkan mengabaikan asupan oksigen yang dibutuhkan untuk berolahraga. Dan perhatianku terhadap sekitar pun menjadi terabaikan.
Sok tahu, memamerkan pengetahuan. Ditambah lagi di depan anak perempuan yang baru pertama kali diajak bicara. Padahal dia mantan anggota Klub Sains, dan bahkan tahu istilah seperti struktur penataan ter rapat (close-packed structure) hingga Spring Ephemeral──meskipun mengaku sebagai tim penikmat (enjoy), pengetahuan sainsnya pasti lumayan luas.
Di hadapan orang seperti itu, aku malah──Iwama Iwama mendadak berhenti.
"……Ada apa?"
"Maaf ya, aku malah sok tahu…… Padahal aku tidak terlalu paham bidang ini."
Wajahnya benar-benar tampak merasa bersalah. Hal yang dipikirkannya aneh sekali.
"Sok tahu itu bukankah artinya berpura-pura tahu tentang hal yang tidak diketahui? Menyatakan tahu tentang istilah yang memang diketahui itu sama sekali tidak salah, kok."
"Masa sih…… tapi aku cuma sekadar membaca sepintas tentang Spring Ephemeral di buku pelajaran, dan akar katakuri pun belum pernah lihat secara langsung……"
Karena kebetulan ada ranting patah di dekatku, aku pun mengambinya.
"Kalau masalahnya begitu, bagian pertama sudah terselesaikan, dan bagian kedua bisa diselesaikan dengan cara ini."
Sambil mengamati tanah di sekitar, aku menancapkan ranting itu ke dekat bunga katakuri yang tumbuh di tanah yang tampak gembur. Mengulangnya beberapa kali, aku menggali katakuri bersama tanahnya.
Setelah membersihkan tanahnya dengan hati-hati, muncul umbi bersisik (bulb) putih kecil yang tampak seperti batang yang sedikit menebal.
Iwama Iwama menatap aksiku memanen katakuri dengan mata membulat. Menggali bunga memang agak kurang sopan, tapi karena ini masih di lingkungan sekolah, anggap saja ini bagian dari kegiatan pembelajaran.
"Ini adalah umbi bersisik (bulb) katakuri──atau dengan kata lain batang bawah tanahnya. Sebenarnya ini bukan akar, melainkan bagian batang yang menyimpan nutrisi sama seperti kentang."
Saat menyerahkannya, Iwama Iwama berkata "Terima kasih" dan memegangnya dengan hati-hati seolah-olah sedang menyentuh kerajinan kaca. Dia menatap umbi bersisik itu dengan penuh rasa tertarik. Menyentuhnya dengan jari, memegangnya dengan lembut.

"Kecilnya……"
"Zaman dulu pasti merepotkan sekali ya kalau mau membuat tepung katakuri (katakuriko)".
Aku mengeluarkan kantong plastik minimarket dari dalam tas, lalu membeberkannya. Bunga katakuri yang dikembalikan oleh Iwama aku masukkan ke dalamnya, membiarkannya terisi udara sebelum akhirnya mengikat ujungnya. Iwama mengamati rangkaian gerakanku itu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Itu mau kamu apakan?"
"Pikirku mau kubawa pulang, lalu kujadikan spesimen daun tekan (pressed leaf specimen)".
Spesimen daun tekan, secara sederhananya, adalah spesimen tanaman yang digencet dan dikeringkan seperti bunga tekan (pressed flower). Karena spesimen katakuri sebenarnya sudah ada di rumahku, dibuang di sini pun tidak masalah, tapi melakukannya di depan Iwama rasanya agak segan. Kantong plastik itu pun kumasukkan ke dalam tas. Tujuan kami hari ini adalah bunga sakura. Kami mulai berjalan kembali menyusuri jalan setapak bukit.
"Izuta-kun itu anak Klub Kimia (Bake-gaku), kan?"
"……Iya, sih".
"Kamu belajar tentang tumbuhan juga? Cerita katakuri tadi, bukannya bukan bidang kimia melainkan biologi…… Kamu tahu detail sekali, ya. Spesimen daun tekan juga rasanya bukan hal yang dibuat di Klub Kimia".
"Ah…… kalau itu sih, ya. Ada banyak alasan".
Saat aku mengelak secara asal, Iwama menyunggingkan senyum manis padaku.
"Kamu suka tumbuhan, ya"?
"Bukannya suka sih…… lebih ke mengaguminya".
"Mengagumi tumbuhan?"
"Iya. Karena tumbuhan itu selalu lurus (jurus), sih".
Melihat Iwama yang sedikit memiringkan kepalanya, aku tersadar bahwa penjelasanku kurang.
"Tumbuhan itu kapan pun selalu menjalani cara hidupnya sendiri dengan lurus tanpa ragu. Aku mengagumi hal itu".
Iwama menatapku dengan raut wajah terkejut. Namun dengan cepat, ekspresinya kembali ke senyuman yang tampak dibuat-buat.
"……Menjalani hidup tanpa keraguan, memang rasanya agak bikin iri, sih"
"Kan".
Apakah kami sudah berjalan cukup jauh? Saat menoleh ke belakang, atap bangunan sekolah sudah terlihat jauh di bawah.
Iwama mendadak berhenti, dan saat aku melayangkan pandangan ke depan, sepasang laki-laki dan perempuan sedang berjalan turun dari arah berlawanan sambil mengobrol dengan akrab. Iwama bergeser ke pinggir untuk memberi jalan. Aku pun mengikutinya.
"Padahal sudah capek-capek naik ya~ benar-benar di luar ekspektasi".
"Yah mau bagaimana lagi. Musim dingin kali ini kan anginnya kencang".
Dua orang yang berpapasan sambil mengobrol begitu tampaknya adalah murid kelas atas (senpai). Penampilan mereka mencolok, dan dilihat dari jarak di antara mereka, sepertinya mereka adalah pasangan kekasih (couple). Keduanya melirik ke arah kami sekilas, lalu melambaikan tangan sambil tersenyum.
Iwama menundukkan kepala, jadi aku pun membungkuk hormat secara ringan. Itu adalah alasan yang pas untuk mengalihkan pandangan.
Berpapasan dengan pasangan kekasih sempat membuatku cemas kalau-kalau Iwama bakal menganggap sakura yang kami tuju sebagai tempat yang 'seperti itu', tetapi sepertinya kecemasanku tidak beralasan. Iwama tetap berjalan di depan dengan sikap yang sama seperti sebelumnya.
Suasana bukit terasa tenang. Kata Mizusaki tempat ini seharusnya "spot yang sangat populer", tetapi tidak ada orang lain sama sekali. Padahal kami sudah mendaki cukup jauh, tetapi yang berpapasan dengan kami baru pasangan senpai tadi saja.
"Ah, bukankah itu pohonnya!"
Iwama menunjuk ke balik belokan.
Saat berhasil menyusulnya, di depan kami terlihat warna merah muda pucat dari bunga sakura. Sekitarnya didominasi oleh dedaunan hijau muda yang tampak seperti lukisan cat air, tetapi hanya di titik itu saja bunga sakura bermekaran dengan indahnya seolah-olah ditumpahi cat minyak yang mencolok. Tepat sedang mekar sepenuhnya (manukai).
Semakin kami mendekat, suara kicauan burung yang terdengar riang mulai terdengar.
Jika dilihat lebih dekat, ada banyak burung gereja (suzume) yang hinggap di pohon sakura. Dengan polosnya mereka menggigit bunga dari pangkalnya, menghisap madunya saja, lalu membuang sisanya ke tanah. Karena cara makan seperti ini tidak membantu menyebarkan serbuk sari, tindakan ini sering disebut sebagai 'pencurian madu' (toumitsu). Bagi bunga sakura, mereka adalah tamu yang membawa seribu kerugian tanpa satu pun keuntungan. "Benar-benar tindakan pengrusakan bunga (rakka rouzeki)".
"Tapi burung-burung gereja itu imut, jadi dimaafkan saja, kan"?
"Masa, sih……?"
Kami berdua entah kenapa berhenti di depan pohon sakura. Pohon-pohon di sekitarnya juga dipenuhi oleh kawanan burung gereja. Iwama menatap pemandangan itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Menurutku, burung gereja itu makhluk hidup yang didesain oleh Tuhan, lho".
Tiba-tiba, dia mengucapkan sesuatu yang fantastis dengan nada yang sama sekali tidak terdengar seperti lelucon. "Bentuk tubuhnya yang kecil dan bulat, matanya yang bulat sempurna, dan yang paling penting adalah bintik hitam di pipinya! Pasti Tuhan memikirkan hal itu saat ingin menciptakan makhluk yang sangat imut".
Saat aku terperangah takjub, Iwama mengibaskan kedua tangannya di depan dada dengan panik.
"Tentu saja ini cuma lelucon…… Zaman sekarang kan eranya Neodarwinisme (Neo-Darwinism), ya".
Sambil berkata demikian, Iwama memalingkan tubuhnya ke arah sakura.
Rasa curiga yang berputar-putar di dalam diriku mendadak berubah menjadi keyakinan. Neodarwinisme adalah teori evolusi modern yang memperkuat konsep seleksi alam yang dicetuskan oleh Darwin dengan pengetahuan-pengetahuan baru.
Jika dia seorang siswi teladan, tidak aneh jika dia belajar lebih awal, tetapi jika dia bisa mengeluarkan istilah seperti ini secara mulus di dalam percakapan sehari-hari, urusannya jadi lain. Sepertinya dia bukan sekadar siswi teladan biasa.
Iwama bukan sekadar tim penikmat (enjoy)──dilihat dari sudut mana pun, dia adalah tim garis keras (gachi-zei).
Dua pohon sakura gunung (Yamazakura) yang besar berdiri saling berdampingan di sisi lembah lereng bukit. Jalan setapak pendakian, setelah mendekati sakura hingga jarak tertentu, membelok memutar dengan tetap menjaga jarak. Bentuk yang menyerupai Inome (atau tanda hati) belum terlihat. Kami melangkah lebih jauh menyusuri jalan. Namun, ujung dari belokan itu ternyata langsung berupa jalan buntu.
"Uwaa, gawat……"
Sebuah batang pohon tumbang yang sangat besar. Pohon konara besar di dekat sakura patah dari pangkalnya dan melintang berat menutupi jalan. Menilik kondisi tanah di pangkalnya, belum lama sejak pohon ini tumbang. Musim dingin kali ini anginnya kencang. Pasti pohon ini tumbang selama musim dingin. Pita bermotif garis-garis hitam dan kuning melilit berkali-kali di batang pohon yang tumbang itu.
Kami berdua berhenti. Tampaknya kami tidak bisa lanjut kecuali memanjat melompatinya. Meski sepertinya masih bisa dipanjat, keberadaan pita yang melilit itu menandakan bahwa area ini dilarang masuk.
"Jalan buntu, ya".
"Tapi lihat deh! Sakura sepertinya dilihat dari sana".
Iwama menunjuk ke samping jalan setapak pendakian. Mengarah dari jalan menuju pohon sakura, terpasang sebuah panggung kayu yang pas untuk dinaiki dua orang secara berdampingan. Siapa sangka, bentuk keseluruhannya menyerupai tanda hati (heart).
Panggung itu dilengkapi dengan semacam papan petunjuk. Namun mungkin karena sudah dimakan waktu yang lama, permukaannya tertutup oleh lumut kerak (lichen) berwarna abu-abu sehingga sama sekali tidak bisa dibaca. Saat aku mengelupasnya menggunakan ranting yang jatuh di dekat situ, tulisan akhirnya muncul.
Tulisannya──Panggung Pengamatan Sakura (Kan'ou-dai). Di bawah tulisan itu, terdapat pula penjelasan tambahan.
【Jagalah Rumput dan Tanaman! Jangan keluar dari jalan pendakian, dan nikmatilah sakura dari atas panggung ini ♡】
【Dari Seluruh Alumni Tahun Ajaran 2004 (Heisei 16)】
Tampaknya ini adalah karya kenang-kenangan kelulusan (graduations project). Saat diperhatikan, buatannya memang terasa agak kasar. Mungkin murid kelas 3 SMA dari 20 tahun lalu yang memotong kayu dan merakitnya.
Dilihat dari tekstur serat kayunya, bahannya tampaknya berasal dari pohon daun lebar, dan hebatnya masih awet tanpa rusak meskipun telah melewati bertahun-tahun.
Kemungkinan besar ini kayu chestnut (kuri). Kayu yang keras dan mengandung banyak tannin ini tidak mudah membusuk bahkan di tempat lembap, sehingga sering digunakan untuk pondasi bangunan atau bantalan rel kereta api.
Iwama membaca penjelasan di Kan'ou-dai──atau mungkin setelah melihat tanda hati di akhir kalimat, dia lalu naik ke atas panggung dan memandangi sakura.
"Pemandangan yang indah! Dari sini, sakura memang kelihatan paling jelas, ya".
Di belakang Iwama yang tampak terkesan, aku tetap berdiri di jalan pendakian tanpa bergerak sedikit pun.
"Lho? Izuta-kun, ayo ke sini juga! Walau agak kotor, ternyata cukup kokoh lho!"
Iwama mengajakku dengan polos, tetapi masalahnya bukan di situ.
Panggung berbentuk tanda hati ini secara terang-terangan diperuntukkan bagi pasangan kekasih.
"Ada apa?"
Iwama memiringkan kepalanya. Tidak mungkin aku menolaknya dengan alasan seperti, "Aduh, berdiri berdua di atas panggung tanda hati bersama anak perempuan itu agak malu-maluin". Maka aku pun memasang wajah tidak peduli dan berdiri sejajar di samping Iwama.
Perancangnya pasti seorang ahli taktik. Ukuran Kan'ou-dai yang pas-pasan ini, meskipun kelihatan cukup untuk dua orang berdiri berdampingan, begitu dinaiki ternyata sangat sempit, sehingga jika bergerak sedikit saja bahu kami bisa bersentuhan.
Aku berusaha tidak memikirkannya semampuku sambil memandangi sakura.
Panggung ini diletakkan agar bisa sedikit lebih dekat ke arah sakura dibanding jalan pendakian. Tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu jauh, dua pohon sakura gunung yang mekar penuh tampak pas memenuhi area pandang.
Tiba-tiba napasku terhenti. Seolah-olah seluruh dunia telah berubah menjadi musim semi.
"Aha…… indah sekali".
Kelopak bunga merah muda pucat yang warnanya lebih pekat dari Somei-yoshino, beterbangan disapu angin kecil dan berguguran menimpa kami. Burung-burung gereja yang sibuk mencuri madu membuat bunga-bunga berjatuhan satu demi satu.
Tanah di sekitarnya tidak hanya dipenuhi oleh kelopak bunga sakura, tetapi juga tertutup rapat oleh bunga-bunga katakuri. Kan'ou-dai yang berada di luar jalan pendakian ini tampaknya juga berfungsi agar bunga katakuri ini tidak terinjak oleh para pengunjung.
Di bukit belakang yang dedaunan hijaunya belum pekat ini, ruang ini mungkin merupakan tempat yang paling kaya akan warna.
"Umm~……" Namun Iwama tampak seperti kurang puas terhadap sesuatu.
"……Hei, Inome itu yang mana, ya? Harusnya ada pola yang bisa bikin bahagia yang kelihatan, kan"?
"Kalau dipikir-pikir, memang ada cerita begitu ya".
Aku mengucapkannya sambil berpura-pura tidak tertarik sama sekali.
"Izuta-kun tahu tidak, Inome itu pola yang seperti apa?"
"Tidak, entahlah, bagaimana ya……"
Aku berharap pembicaraan ini berakhir menggantung, tetapi ternyata tidak semudah itu. Iwama malah mengeluarkan smartphone-nya dan mulai mencari tahu.
"……Sudah paham?"
Saat aku bertanya, Iwama menatap layar sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
"Iya. Inome itu ditulis dengan kanji 'Mata Babi', dan sepertinya menyebut pola yang mirip bentuk tanda hati (heart)".
"Aa, begitu rupanya. Makanya Kan'ou-dai ini juga berbentuk mirip tanda hati, ya".
"Aha, mungkin begitu maksudnya!"
Aku tergolong buruk dalam berakting, tetapi Iwama yang polos tampaknya sama sekali tidak meragukan kepura-puraanku yang mengaku tidak tahu.
Iwama memindahkan pandangannya dari layar smartphone kembali ke arah sakura.
"Tapi aneh ya, bentuk yang mirip Inome sama sekali tidak kelihatan…… Celah besar di antara dua pohon itu, apakah mungkin itu bentuknya?"
Pohon sakura pasangan itu masing-masing membentangkan dahan yang mekar penuh, memenuhi area pandang dengan warna merah muda pucat. Di antara keduanya terdapat celah yang berlubang, memperlihatkan langit biru yang terpotong. Namun itu adalah bentuk segitiga terbalik yang miring.
Bagaimanapun cara mengartikannya, itu bukanlah bentuk yang bisa disebut tanda hati──atau Inome.
"Menyebut bentuk ini sebagai Inome rasanya terlalu dipaksakan, deh".
"Iya, ya……"
Mendengar suara yang terasa lebih lesu dari perkiraanku, aku menoleh ke arah Iwama.
Mungkin ini cuma lelucon jahat dari pohon sakura. Namun di wajah Iwama, kulihat ada sedikit bayangan kekecewaan yang muncul.
Begitu rupanya.
Berbeda denganku yang sama sekali tidak berharap dari awal, Iwama benar-benar menantikan pola yang bisa membawa kebahagiaan itu.
──Biar kehidupan SMA kita diawali dengan pertanda baik! Aku teringat kata-kata Iwama sebelum kami masuk ke bukit. Siswi teladan yang polos ini mendengar rumor yang menarik, dan meskipun itu cuma cerita di tingkat mantra ramalan, dia mendaki bukit belakang demi mencari kebahagiaan.
Namun, kebahagiaan seperti itu tidak ada.
Mizusaki tadi bilang. Entah itu Inome atau tanda hati, tahun ini tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya. Bentuknya pasti sudah lenyap. Pria itu benar-benar melakukan dosa yang luar biasa. Cuma karena ingin mengerjaiku, dia sampai melibatkan Iwama dan membuatnya mengejar kebahagiaan yang tidak bisa digapai.
Dibandingkan tidak berharap dari awal, dikhianati oleh harapan terasa jauh lebih menyakitkan. Aku berusaha mencari kata-kata untuk menyemangatinya.
"Musim dingin kali ini kan anginnya kencang. Dahannya mungkin patah, dan bentuk H──Inome-nya jadi rusak. Nah, pohon besar saja sampai tumbang begini, kan".
Aku menunjuk ke arah pohon tumbang yang menutupi jalan di depan kami.
"Tapi…… pohon tumbang itu kan tidak menabrak sakuranya".
Sesuai ucapan Iwama, posisi pohon tumbang dan kedua sakura itu berada di posisi yang tidak mungkin bersentuhan.
"Bisa saja kan dahan sakuranya yang patah karena angin. Mau bagaimana lagi".
Iwama masih menopang dagunya dengan tangan, menatap sakura itu lekat-lekat.
"Masa sih. Masih belum tahu, kok. Bekas dahan patahnya juga belum ditemukan".
"A, aa……"
Tanpa sadar suara kebingungan terlontar dari mulutku.
Sikapnya agak aneh. Tatapan mata Iwama terasa jauh lebih serius daripada sebelum-sebelumnya.
Ini bukan lagi wajah samping seorang gadis ceria yang datang melihat sakura kebahagiaan di bukit belakang, melainkan wajah samping seorang peneliti yang sangat kukenal.
"……Ah! Maaf!" Tiba-tiba Iwama kembali ke wajah aslinya dan menatap ke arahku.
"Lupakan saja! Aku punya kebiasaan buruk, kalau ada hal yang tidak kupahami aku suka mendadak jadi serius…… Lagipula cuacanya bakal buruk, ayo kita pulang!"
Senyumannya memang cerah, tetapi aku menyadari bahwa sifat senyuman ini berbeda dari "kamu lihat tidak senyuman itu" yang biasanya.
Setidaknya untuk saat ini, dia tidak tertawa dari lubuk hatinya.
Cuacanya sepertinya masih akan bertahan. Meski aku tidak bisa membantunya menggapai kebahagiaan, setidaknya menemaninya sampai dia puas bukanlah hal yang buruk.
"Tidak, hal yang bisa diverifikasi di tempat ini, bukankah lebih baik kita verifikasi dulu sebelum pulang? Lagipula, aku tidak ada urusan lain setelah ini. Menurut Mizusaki, sampai tahun lalu selama 19 tahun, Inome sakura itu selalu kelihatan. Kalau tahun ini mendadak tidak kelihatan, pasti ada alasannya".
Ada jeda sejenak saat dia seolah mencoba mencari tahu niat sejatiku.
"……Kamu mau menelitinya bersamaku?"
"Iya. Kalau cuma analisis mengenai tumbuhan, aku mungkin bisa sedikit membantu".
"Beneran……?"
Dia memastikannya berkali-kali. Yah, kalau cuma memastikan apakah dahannya patah atau tidak, tidak akan memakan banyak waktu. Aku mengangguk.
Di wajah Iwama, senyuman "kamu lihat tidak senyuman itu" kembali memancar dengan cerah.
"Terima kasih! Kalau begitu ayo kita verifikasi…… secara ilmiah!"
Mendengar kata yang mendadak meluncur itu, aku merasa agak bingung.
"Secara ilmiah?"
"Iya. Kenapa Inome yang harusnya kelihatan sampai sekarang, tahun ini mendadak tidak kelihatan──aku ingin memastikannya dengan benar memakai pendekatan ilmiah".
Menggunakan kata "ilmiah" untuk memecahkan misteri kecil di sekitarnya terasa sangat berlebihan.
Iwama sudah berubah drastis hingga tidak berlebihan jika disebut berganti wujud (form change).
Entah karena dia terlalu antusias, atau karena cuma bisa melihat ke depan, intinya ada semacam semangat membara yang terpancar hingga tidak muat lagi di dalam wadah bernama siswi teladan.
Orang yang menarik, pikirku.
Sesuai dengan yang terpancar dari sela-sela percakapannya, Iwama ini tampaknya sangat menyukai sains. Sebagai sesama orang yang berkecimpung di dunia sains (rikei), menemani penelusurannya ini bukan hal yang buruk.
"Baiklah. Kalau begitu pertama-tama, ayo kita pastikan apakah ada dahan yang patah atau tidak. Dari sini tidak kelihatan jelas. Bagaimana kalau kita mendekat ke pohon sakuranya"?
"Benar juga! ……Tapi, kita harus hati-hati jangan sampai menginjak bunganya".
Mendengar ucapan Iwama, aku melihat ke tanah. Bunga katakuri bermekaran merata di sepanjang jalan pendakian. Mungkin karena kena sinar matahari dengan baik, begitu keluar dari jalanan, bunga katakuri tumbuh begitu padat hingga tidak mungkin tidak terinjak.
"Apakah ada jalan yang bisa dipakai mendekat ke pohon sakura tanpa menginjak bunga, ya"? Sambil berkata begitu, Iwama langsung mulai memeriksa sekeliling. Jalan pendakian dibuat berbelok memutar dengan menjaga jarak tertentu dari kedua pohon sakura. Sejauh mata memandang, hampir seluruh permukaannya dipenuhi bunga katakuri.
"Ah, Izuta-kun! Di seberang pohon tumbang ini, sepertinya kita bisa lewat".
Dipanggil oleh Iwama, aku mengintip ke seberang pohon tumbang. Memang ada bagian yang sama sekali tidak ditumbuhi bunga katakuri, dan jika melewati tempat itu kami bisa mendekat ke sakura sampai batas tertentu.
"Tapi, di pohon tumbang ini kan ada pita dilarang masuk──"
"Tidak ada tulisan dilarang masuk, kok. Cuma garis-garis kuning dan hitam saja!"
Pernyataan berbahaya mendadak meluncur dari mulutnya, membuatku sangat terkejut. Rasa ingin tahu Iwama ternyata bukan main-main.
Tapi kalau lawan bicaraku bukan Iwama, aku mungkin juga bakal memakai logika yang sama, sih.
"……Bukankah berbahaya?"
"Aman, aman! Izuta-kun, bisa tolong pegangkan sebentar?"
Iwama berkata begitu sambil menyerahkan tas sekolahnya padaku, lalu dengan santainya menumpukan tangan ke pohon tumbang.
Dengan lincah dia mengatur posisi tubuhnya menghindari dahan, lalu menginjajkan kakinya ke batang pohon itu.
"Tunggu, berbahaya".
Iwama menghentikan gerakannya dan menoleh ke belakang dengan heran.
"Lho, tapi dahannya kelihatan kokoh kok……"
"Bukan itu…… anu, itu loh".
Karena canggung untuk diucapkan aku memotong kata-kataku, tetapi karena sudah terlanjur diucapkan aku tidak bisa membiarkannya menggantung.
"……Itu, rokmu".
Aku mundur satu langkah, mengalihkan pandangan sambil memberitahunya. Jika Iwama mengambil satu langkah lagi, roknnya secara pasti diprediksi bakal masuk ke dalam area pandangku.
"Ah……"
Iwama terburu-buru turun kembali dari pohon tumbang.
"Maaf ya! Aku terlalu fokus sampai tidak sadar. Uwaa, padahal aku sempat bingung, tapi ternyata harusnya aku pakai celana panjang (slacks) saja ya".
Yah, sebenarnya aku tinggal berbalik badan saja sih, tetapi mungkin karena Iwama juga punya harga diri sebagai anak perempuan, rencana menyeberangi pohon tumbang menuju seberang pun dibatalkan. Setelah menerima tas sekolahnya dariku, Iwama membuka ritsletingnya dengan telinga yang memerah.
"Kalau dipikir-pikir aku membawa teropong (binocular). Mungkin ini bisa dipakai",
Sambil berkata begitu, dia mengeluarkan teropong lipat berukuran ringkas.
Persiapannya terlalu matang.
"Kenapa kamu sampai membawa-bawa teropong?"
"Nah, seperti saat perjalanan sekolah begitu, terkadang ada saat-saat di mana kita ingin melihat burung, kan?"
"……Masa, sih?"
Mungkin karena kejadian rok tadi, Iwama agak gugup dan gagap.
"Anu lho, ini dibelikan oleh ayahku sebagai hadiah masuk SMA".
Dia memperlihatkan teropong dengan bodi hijau tua yang indah padaku. Merek Swarovski. Aku tidak tahu apakah Iwama sendiri menyadarinya, tetapi ini pasti barang yang cukup mewah.
Seperti apa sebenarnya sosok ayahnya, apakah benda seperti ini boleh dibawa ke sekolah, apakah dia benar-benar melakukan bird watching saat perjalanan berangkat sekolah, berbagai pertanyaan berputar-putar di otakku.
Namun di sini, aku harus mengabaikan hal-hal sepele dan fokus pada penyelesaian masalah.
"Perbesaran 10 kali, ya. Kalau memakai ini untuk melihat sakura, kondisi dahannya sepertinya bisa dipastikan bahkan dari sini".
"Iya, ayo kita coba".
Iwama mengintip ke dalam teropong, lalu memutar fokusnya dengan gerakan terbiasa.
"Anu~, begitu ya…… lho? Umm~"
Setelah mencari sebentar, Iwama menurunkan teropongnya dan menyodorkannya padaku. "Aku tidak bisa melihat bagian mana yang patah. Izuta-kun coba lihat juga".
"……Tidak, aku tidak usah".
Mengintip teropong yang baru saja diintip oleh anak perempuan sekelas, entah kenapa, membuatku merasakan semacam resistensi kecil.
"Kemungkinan terlewat bakal jadi lebih kecil, lho, ayo!"
Sepertinya dia berniat menelitinya dengan sangat ketat. Karena tidak ada alasan untuk menolaknya sekeras itu, aku pun menerima teropong tersebut. Aku menaikkan kacamataku ke dahi sebelum mengintip.
"……Luar biasa. Ukuran se-ringkas ini tapi bisa kelihatan sejelas ini".
Bukan untuk menutupi rasa canggung, tetapi kesan pertama yang keluar dari mulutku adalah impresi terhadap teropong ini.
"Kan! Meskipun kecil tapi terang, jadi di dalam hutan pun bisa kelihatan jelas".
Pembicaraan jadi melenceng. Aku mengamati dahan-dahan sakura tempat burung-burung gereja bermain dengan teliti. Memang, tidak terlihat adanya bekas-bekas dahan yang rusak parah.
"Seperti kata Iwama-san. Sepertinya dahannya memang tidak patah".
"Kalau begitu, kenapa Inome-nya jadi hilang, ya? Mungkinkah tahun lalu dahannya tumbuh terlalu panjang?"
Aku mencoba berpikir sejenak. Menurutku kemungkinan itu kecil.
"Tidak mungkin. Sakura menghasilkan bunga pada dahan tahun sebelumnya (zenshinen-shi)──dahan yang tumbuh di tahun sebelumnya. Bagian yang ada bunganya tidak ada yang sepanjang itu. Untuk pohon sebesar ini, sangat jarang terjadi dahan ujungnya mendadak memanjang secara drastis hingga mengubah bentuk pohonnya. Kalaupun memanjang, aku tidak berpikir bentuk Inome secara keseluruhan bakal berubah".
"He~h…… Kamu sampai tahu hal seperti itu juga!"
Mungkin ini pengetahuan yang agak maniac. Setelah berterima kasih ringan, aku mengembalikan teropong itu ke Iwama. Iwama langsung melihat ke arah sakura menggunakan teropong itu lagi.
Saat menurunkan kacamata kembali, entah kenapa aku merasakan rasa gatal yang bukan disebabkan oleh serbuk sari Sugi di sekitar mataku.
"Umm~, bukan karena patah, bukan juga karena tumbuh terlalu lebat……"
Iwama menurunkan teropongnya dan bergumam. "Kalau begitu, kenapa Inome-nya tidak kelihatan lagi, ya?"
Kenapa bentuk wilayah yang dipotong oleh warna merah muda pucat itu berubah?
Sambil disiram hujan kelopak bunga, sambil mendengarkan kicauan burung gereja, aku berpikir.
Dan──"Aha…… aku mungkin sudah paham".
Seketika itu juga, Iwama berbalik menatapku dengan momentum yang luar biasa.
"Alasan kenapa Inome-nya tidak kelihatan?"
"Iya. Dan juga, cara agar tanda hatinya bisa kelihatan dengan jelas. Kalau meminjam kata-kata Iwama-san, aku pikir ini bisa dijelaskan secara lumayan ilmiah".
"Tanda hati?"
"Ah maaf. Maksudku Inome. Bukan tanda hati".
Ini hal yang penting.
"Lalu, kenapa?"
Saat ditanya oleh Iwama, alih-alih menunjuk langit tempat kelopak bunga menari, aku menunjuk ke tanah.
"Petunjuknya bukan pada sakura. Tapi ada pada katakuri".
Mendengar cara bicaraku yang berputar-putar, Iwama membelalakkan matanya terkejut.
"Eeeh? Apa maksudnya?"
"Dahan sakuranya tidak patah, tidak juga memanjang secara signifikan. Kalau bentuk pohon sakuranya tidak berubah, lalu apa yang berubah?"
Iwama sepertinya masih belum mendapat pencerahan. Aku melanjutkan.
"Pihak kita yang melihat sakura itulah yang berubah".
Hening sejenak.
"……Eh, apakah itu artinya, posisi melihatnya yang berbeda?"
"Benar. Tidak ada kemungkinan lain selain itu. Jika posisi berdirinya berbeda, bentuk gambar yang terlihat tentu saja akan berubah".
"Tapi, kalau begitu, Kan'ou-dai ini kan……"
"Mulai tahun ini, posisi Kan'ou-dai ini bergeser. Dan yang memberitahukan posisi yang benar adalah──"
Aku kembali menunjuk bunga katakuri yang mekar di sekitar Kan'ou-dai.
"Katakuri".
Iwama sepertinya masih belum menyadarinya. Aku melanjutkan penjelasanku.
"Katakuri adalah Spring Ephemeral. Untuk bisa memekarkan bunga, dia perlu melakukan fotosintesis dan mengumpulkan nutrisi hanya pada awal musim semi selama kurang lebih delapan tahun. Tapi, apa yang terjadi jika ada Kan'ou-dai di atasnya?"
Iwama akhirnya tersadar, pipinya merona sedikit memerah.
"Kalau ada panggungnya, bunga tidak bisa kena sinar matahari, jadi tidak bisa fotosintesis!"
"Benar. Inome yang dipotong oleh sakura selalu terlihat setiap tahun selama 19 tahun hingga tahun lalu. Kan'ou-dai berada di posisi yang benar dalam jangka waktu yang lama. Artinya, di posisi benar tempat Kan'ou-dai berada dulu, katakuri tidak akan bisa memekarkan bunga tahun ini".
"Luar biasa, ilmiah sekali!"
Tampaknya Iwama sangat menyukai kata 'ilmiah'.
"Di area sekitar sini yang dipenuhi bunga katakuri, ada satu titik tempat di mana bunga katakuri sama sekali tidak mekar, kan. Jika berdiri di sana, hipotesis ini bisa terverifikasi".
"Di seberang pohon tumbang……!"
Iwama bergerak seolah-olah tidak sabar lagi. Aku mengikutinya. Saat mengintip ke balik pohon tumbang, di samping jalan pendakian memang ada satu petak area di mana warna merah muda pucat dari bunga katakuri sama sekali tidak ditemukan.
Alasan Iwama nekat ingin melompati pohon tumbang tadi adalah karena dia mencoba mendekati sakura melewati area tanpa bunga ini.
Kemungkinan besar tempat inilah posisi Kan'ou-dai yang sebenarnya. Dengan kata lain, jika aku tidak menahannya tadi, Iwama sebenarnya sudah bisa menemukan Inome tersebut.
Niat bertanggung jawab, aku memanjat pohon tumbang itu terlebih dahulu.
Lalu mengulurkan tangan pada Iwama.
"Kalau begini, roknmu rasanya tidak masalah, kan".
"Terima kasih!"
Iwama menggenggam tanganku tanpa ragu. Sentuhan tangannya membuat lenganku mendadak kaku sesaat.
Kami berdua melompati pohon tumbang. Pegangan tangan langsung kami lepaskan.
Iwama segera berdiri di area yang dipotong oleh warna merah muda pucat dan memandangi sakura.
"Hei, Izuta-kun, hebat! Inome-nya indah sekali!"
Aku juga berdiri di samping Iwama, memindahkan pandangan ke arah yang ditunjuk oleh jarinya.
Seketika itu juga hatiku tercuri.
Dua pohon sakura saling berdampingan bagaikan pasangan suami istri, menumpuk dahan-dahan yang dihiasi bunga merah muda pucat.
Di antaranya terdapat langit biru tanpa awan sedikit pun. Terpotong oleh sakura menjadi bentuk tanda hati (heart) yang sangat indah.
"……Ternyata, di sini posisi yang benar, ya"
Iwama bergumam pelan. Aku mengangguk.
"Pasti ada orang ceroboh yang memindahkan Kan'ou-dai ini karena menganggap pohon tumbang ini berbahaya".
Pasti pertimbangannya demi keselamatan para murid yang datang melihat sakura. Agar tidak perlu melompati pohon tumbang, selama musim dingin Kan'ou-dai dipindahkan ke depan pohon tumbang. Namun begitu musim semi tiba, karena posisinya bergeser sedikit, bentuk tanda hati pada sakura jadi tidak kelihatan lagi.
Iwama menyatukan kedua tangannya di depan dada, matanya bahkan tampak berkaca-kaca.
"Luar biasa! Bisa menyadari dari bunga katakuri, ini benar-benar berkat Izuta-kun!"
Iwama mengepalkan tangan kanannya dan menyodorkannya padaku. Aku pun mengepalkan tangan kanan secara tidak mencolok, lalu membenturkan tinjuku secara ringan dengan tinjunya.
"Ini juga berkat Iwama-san. Kalau cuma aku sendiri, aku tidak bakal berpikir untuk melompati pohon tumbang. Memastikan apakah dahannya patah atau tidak pun pasti tidak akan kulakukan".
"Begitu? Kalau begitu, ini berkat kita berdua".
Iwama mengucapkannya sambil tersenyum, lalu berbalik menghadap sakura dan menyatukan kedua tangannya. Dia memejamkan mata seolah-olah sedang memanjatkan doa. Sepertinya dia sedang memohon sesuatu.
Sambil memandangi sakura, aku pun berharap agar kehidupan SMA gadis polos ini diawali dengan pertanda baik. "Terima kasih ya sudah menemaniku".
Ketika Iwama berterima kasih sekali lagi, aku bingung harus merespons apa.
"Tidak kok…… aku juga merasa senang. Kalau dipikirkan secara mendalam, misterinya ternyata bisa terpecahkan seperti ini".
"Kemenangan sains, ya!"
Ini juga cara bicara yang berlebihan, tetapi rasanya tidak salah juga.
Jika ada masalah atau pertanyaan, pertama-tama mengamati objeknya, menggerakkan seluruh pengetahuan yang telah dipelajari untuk mempersempit kemungkinan secara objektif.
Dari sana menyusun hipotesis lalu memverifikasinya. Meski ada perbedaan skala dan rentang waktu dibanding kegiatan penelitian, pencarian Inome kali ini bisa dibilang sebagai bentuk upaya ilmiah dalam batas tertentu.
"Ungkapan yang khas dari mantan anggota Klub Sains".
Angin sepoi-sepoi berembus lewat, kelopak bunga sakura membungkus kami berdua. Iwama berkata dengan riang. "Aku sangat menyukai sains. Menggunakan kearifan yang dikumpulkan oleh orang-orang di seluruh dunia untuk menghadapi misteri di sekitar kita. Berdiri di atas bahu raksasa (standing on the shoulders of giants), kita bisa memandang seluruh kota tempat tinggal kita. Tidak ada hal yang menyenangkan selain ini, kan"?
Aku merenungkan kembali kata-kata Iwama. Dari atas bahu raksasa, melihat kotanya sendiri──menarik juga.
Seperti yang diharapkan dari SMA Tsunagai. Sama sekali tidak menyangka ada teman seangkatan yang punya pemikiran seunik ini.
Merasakan keberuntungan bisa bertemu orang seperti ini tepat setelah masuk sekolah, dadaku refleks berdebar kencang.
"……Sudut pandang itu tidak pernah terpikirkan olehku".
"Masa sih? Padahal Izuta-kun juga kelihatan sangat menyukai sains".
"Penelitian memang menarik. Tapi itu karena memberikan rasa bahwa dengan kemampuanku sendiri, aku bisa berkontribusi pada umat manusia. Sains itu pada dasarnya adalah upaya untuk memperluas potensi umat manusia──begitulah pikirku dulu".
Setelah menghirup angin musim semi perlahan, aku menambahkan.
"Tapi memang benar, melihat sekeliling dari atas bahu raksasa juga bukan hal yang buruk. Karena begini kita jadi bisa melihat pemandangan yang indah".
Iwama yang mengangguk tampak sangat gembira.
"Hanya dengan mengubah sedikit sudut pandang, dunia bisa jadi begitu indah, ya".
Kesimpulan yang sangat khas dari siswi teladan. Dari mulutku, diancam pun kata-kata seperti itu tidak bakal keluar.
Tindakan yang kuambil setelahnya, terasa mendadak, atau lebih tepatnya mungkin seperti semacam kecelakaan. Terseret oleh suasana hangat musim semi, aku jadi kepikiran begitu.
"Kalau tidak keberatan, apakah Iwama-san mau membawa ini pulang?"
Dari dalam tas, aku mengeluarkan bunga katakuri yang ada di dalam kantong plastik minimarket. Sambil menyesal, kalau tahu bakal begini harusnya aku memakai kantong yang sedikit lebih bagus.
"Eh, boleh?"
"Sebenarnya aku sudah punya spesimen katakuri. Kalau Iwama-san tertarik, bagaimana kalau coba dibuat jadi spesimen daun tekan? Bisa dibuat dengan bahan sederhana seperti kertas koran atau kardus, kok".
Biasanya, aku bukan tipe orang yang menawarkan hal semacam ini pada anak perempuan yang baru pertama kali diajak bicara.
Namun bertemu dengan orang yang sefrekuensi──atau bisa dibilang sesama penggemar seperti Iwama adalah hal yang langka.
Mungkin aku agak terbawa suasana.
Bunga katakuri yang masih tersisa tanah, dan kantong plastik yang penuh kerutan. Sebagai hadiah untuk anak perempuan ini tergolong sangat kumal, tetapi Iwama menerimanya dengan gembira.
"Aku akan coba buat, terima kasih!"
Tanda hati──bukan, Inome sudah berhasil dilihat, jadi kami memutuskan untuk turun bukit.
Sebelum keluar dari posisi asli Kan'ou-dai, Iwama seolah teringat sesuatu dan mengeluarkan smartphone-nya. Mengaktifkan kamera lalu mengarahkannya ke sakura.
Suara jepretan kamera terdengar beberapa kali. Meski begitu sambil tetap memegang smartphone, Iwama tampak memikirkan sesuatu.
"……Ada apa?"
Saat aku bertanya, Iwama mengerang bingung "Umm~".
"Memang indah sih, tapi kalau cuma begini, dari foto saja tidak bakal kelihatan kalau ini diambil tahun ini, kan".
Memang benar, foto sampai tahun lalu pasti sudah melimpah di luar sana. Aku bisa memahami perasaannya yang ingin menghargai kelangkaan bahwa foto ini ditemukan tahun ini. "Bagaimana kalau memfoto surat kabar hari ini juga?"
Saat aku mengucapkannya sebagai lelucon, Iwama menatapku dengan cukup serius.
"Eh, kamu bawa koran?"
"Tidak, tidak bawa. Aku cuma bercanda. Maaf".
"Tidak usah minta maaf sampai segitunya…… Bisa saja sih menampilkan kalender hari ini di smartphone Izuta-kun lalu difoto, tapi rasanya malah seperti penculik dan merusak suasana". Benar juga.
"Foto selfie saja bagaimana? Atau, aku yang memfoto Iwama-san di dalamnya".
Kupikir itu saran yang bagus, tetapi Iwama sedikit merengut dan menggelengkan kepala.
"Wajahku sih…… tidak perlu sampai sengaja difoto, kok".
Tidak, tidak, jangan rendah hati begitu──kata-kata itu kutelan di sekitar tenggorokan.
Seperti yang dikatakan Mizusaki, penampilan Iwama memang bukan main-main, tetapi di luar itu, perasaan ingin mengambil foto tetapi tidak ingin wajah sendiri masuk ke dalamnya adalah hal yang sangat kupahami.
Setelah berpikir sejenak, Iwama menyodorkan tangannya yang bebas ke depan kamera smartphone-nya.
"Sedang apa……?"
"Pikirku, bagaimana kalau tanganku saja yang difoto".
Sepertinya dia sangat berkomitmen untuk memasukkan sesuatu ke dalam foto. Tapi memang benar, jika ada tangan Iwama di dalamnya, foto itu tidak lagi sekadar foto pemandangan biasa melainkan menjadi foto yang tiada duanya (unique).
Secara logika aku bisa memahaminya. Iwama mencoba pose peace hingga thumbs up, tetapi ekspresinya tampak masih belum puas.
"Ada apa?"
"Umm, rasanya tidak ada yang pas…… kurang cocok dengan bentuk Inome-nya".
Karena aku tidak memiliki selera estetika yang biasa disebut aesthetic (gaya instagramable), aku tidak percaya diri bisa membantu Iwama. Aku mencoba memberi saran seadanya.
"Karena latar belakangnya adalah Inome, bagaimana kalau membuat bentuk Inome juga pakai tangan? Seperti membuat tanda hati".
"Aha!"
Begitu berucap, Iwama membuat setengah bagian tanda hati menggunakan satu tangan. Lalu dia menatapku dengan mata penuh harapan.
"…………?"
Aku bingung.
"Tangan satunya kan terpakai, Izuta-kun, tolong bantu dong!"
Logika ini tidak kupahami.
"Bukankah ada cara membuat tanda hati pakai ibu jari dan jari telunjuk? Yang sering dilakukan anak perempuan".
"Itu kan finger heart! Kalau ini kan Inome, jadi agak beda".
"Aha……?"
Memang benar, yang dinamakan finger heart itu kelihatan seperti tanda hati karena di pasaran disebut tanda hati. Meskipun bentuknya sama, itu tidak bisa menjadi Inome yang tidak menerapkan konsep tanda hati.
Di sisi lain, jika ingin membuat Inome dengan cara Iwama, dibutuhkan dua belas tangan. Iwama sedang memegang smartphone. Tangan kurang satu. Sampai di situ aku bisa paham.
Tapi apakah tangan yang kurang itu, bakal diminta padaku?
Tapi yah, jika Iwama tidak keberatan, mungkin aku saja yang terlalu berlebihan memikirkannya. Ini bukan tanda hati, melainkan Inome, bentuk yang membawa kebahagiaan.
Berdiri di sampingnya, aku mencoba mencocokkan tanganku dengan tangan Iwama yang terangkat.
Tapi tidak bisa, jantungku rasanya seperti mau melompat. Aku bisa merasakan telingaku memanas. Keringat menetes.
Pada akhirnya, aku segera menarik tanganku kembali.
"……?"
"Tidak, kalau sesama anak perempuan sih mungkin masih mending, ya……"
Karena tidak ingin dikira berpikiran yang aneh-aneh, aku mengucapkannya secara samar-samar.
Iwama tampaknya baru tersadar, pipinya merona merah tipis dan matanya membulat. "Ah…… maaf ya! Aku terlalu sok akrab, ya!"
"Tidak, tidak perlu minta maaf. Aku cuma menyarankan bagaimana kalau bentuk yang lain saja". "Kalau begitu, bagaimana kalau kita berdua pose peace?"
Logika yang ini sama sekali tidak kupahami.
"……Kalau pose peace, bukankah satu orang saja cukup?"
Terhadap saranku, Iwama menggelengkan kepala pelan.
"Aku baru sadar. Alasan kenapa aku ingin menyertakan tangan di foto ini adalah karena aku ingin mengabadikan keunikan (uniqueness) dari momen saat ini".
"Keunikan……?"
Istilah yang biasanya cuma kudengar di pelajaran matematika.
"Iya. Karena aku ingin merekam fakta bahwa aku menemukan pemandangan indah ini bersama Izuta-kun, jadi kalau cuma pemandangannya saja tanpa ada Izuta-kun dan aku yang tertangkap foto, rasanya sayang banget……"
Memang penjelasan logis yang tidak salah lagi.
Yah kalau cuma pose peace sih tidak masalah. Karena tidak ada alasan menolak, aku pun berdiri di samping Iwama. Lalu membuat pose peace yang kurang bersemangat, dan menyodorkannya ke depan kamera smartphone Iwama.
"Mendekat sedikit lagi!"
Iwama melangkah satu langkah mendekat ke arahku. Bahu kami hampir bersentuhan. Jantungku melompat lagi.
Mengingat para pria yang mungkin telah digugurkan oleh gadis ini secara tidak sadar, aku merapatkan kedua tangan berdoa di dalam hati.
Cekrek──Iwama menekan tombol shutter.
Di depan langit biru berbentuk tanda hati yang dibingkai oleh sakura merah muda pucat, dua pose peace yang agak gelap karena melawan cahaya (backlight) berjejer rapi. Bentuknya pas menyerupai huruf alfabet 'W'.
"Sip, baguss. Terima kasih!"
Iwama tampaknya sudah puas dengan itu.
Setelah itu, karena matahari mulai tenggelam, kami bergegas turun dari bukit. Saat kembali ke gerbang sekolah, waktu sudah menunjukkan hampir malam.
"Oiya. Izuta-kun, berikan kontakmu dong".
Sambil berjalan turun menyusuri jalan deretan pohon ke arah kota, Iwama memberi saran. "Foto yang tadi bakal kukirim, ya".
"Ah…… terima kasih".
Begitulah, aku dan Iwama saling bertukar LINE.
Begitu jalan deretan pohon berakhir, ada persimpangan jalan. Rumahku berada di dalam kota dan berbelok ke kiri dari jalan deretan pohon, sedangkan Iwama yang pulang naik kereta api sepertinya harus terus turun melewati jalan deretan pohon ke arah stasiun.
Kami berdua melangkah menuju rute pulang masing-masing.
Awan hujan tebal di atas laut membentangkan lengannya yang gelap ke arah matahari terbenam.
"Uwah, hujannya deras banget!"
Malam harinya, mendengar suara adikku, aku melihat ke luar dan pemandangan di luar sudah seperti badai.
Sambil mendengarkan suara hujan deras yang memukul jendela dan suara gemuruh angin yang berembus kencang, sebelum tidur aku melihat sekali lagi foto yang dikirim oleh Iwama. Kemajuan teknologi sungguh luar biasa. Meskipun cuma kamera smartphone kecil, kontras antara sakura dan langit terasa sangat berdefinisi tinggi dan cerah.
Di depannya, tangan Iwama dan tanganku berjejer. Apakah dilakukan grading setelah pemotretan, kegelapan akibat melawan cahaya tadi tidak begitu terasa.
Pose peace yang membusungkan dada penuh percaya diri, dan pose peace yang bungkuk lemas.
Aku bahkan merasa kagum bahwa perbedaan kepribadian bisa terpancar sejauh ini hanya dari tangan saja.
Badai tak kunjung reda. Bunga sakura yang mekar penuh dengan indah itu pasti sudah gugur dengan mengenaskan.
Tiba-tiba aku berpikir.
Mungkinkah──Iwama dan aku telah menjadi satu-satunya pasangan laki-laki dan perempuan yang melihat tanda hati itu tahun ini?
Jika memang begitu, dengan mengasumsikan takhayul konyol itu benar, urusannya bakal jadi gawat.
Sakura di bukit belakang yang selama 19 tahun selalu mewujudkan percintaan.
Apakah rekor 20 tahun berturut-turut bakal tercapai atau tidak, kini bergantung pada kami berdua, aku dan Iwama.
Aku memutuskan bahwa fakta mengenai tanda hati yang kelihatan dengan jelas ini harus dirahasiakan rapat-rapat dari Mizusaki.