Memuat...
Hari itu, awal pekan dimulai dengan sisa-sisa hawa awal musim panas yang masih tertinggal di udara pagi.
"Yuta-niisan, bisa ke sini sebentar?"
Dipanggil oleh Saki, aku mematikan penyedot debu.
Saat ini cuma ada aku dan Saki di rumah, jadi harusnya dia tidak perlu memanggilku secara formal. Tapi seperti biasa, Saki selalu telaten membedakan cara memanggilku tergantung apakah kami sedang berada di dalam atau di luar rumah.
Aku berjalan menuju sumber suara. Kamar tidur orang tua kami. Begitu mengintip ke dalam, aku melihat sebuah ranjang bayi yang masih baru dipasang. Saki sedang sibuk memasang dan menyesuaikan mainan gantung di sudut pagar ranjang. Mainan yang sering kita lihat kalau berkunjung ke area mainan bayi. Beberapa mainan kain flanel digantung pada sebuah lingkaran, berputar pelan ditiup angin atau pergerakan udara. Katanya, mainan ini disebut bed merry atau mobile. Aku pernah melihatnya, tapi baru tahu namanya sekarang.
Mainan klasik untuk bayi akhirnya hadir juga di rumah ini.
Mungkin dulu waktu aku masih bayi, orang tuaku juga menyiapkan hal seperti ini, walau aku sama sekali tidak ingat. Jujur saja, sebelumnya aku tidak begitu peduli apalagi paham kenapa mainan sederhana semacam ini dibutuhkan.
Sampai Ibu Tiri Akiko hamil....
Aku dan Saki bakal punya adik perempuan.
Setelah tahu hal itu, aku mulai mencari tahu berbagai hal. Ternyata, bayi yang baru lahir itu penglihatannya masih kabur dan cuma bisa melihat sekelilingnya secara samar. Baru setelah berusia sekitar dua bulan, fokus matanya mulai terbentuk secara bertahap. Nah, pergerakan bed merry yang berayun-ayun ini konon bisa menarik perhatian bayi dan melatih fokus matanya, sehingga dipercaya dapat merangsang perkembangan indra penglihatannya.
Kalau dipikir-pikir, dibandingkan zaman dulu, interior apartemen modern saat ini sangat bersih. Anggota keluarga yang lalu-lalang sedikit, hampir tidak ada gantungan angin yang berdering, lalat terbang, atau burung gereja yang terlihat dari jendela. Karena itulah mainan seperti ini mungkin perlu dipasang. Kira-kira begitulah pikirku.
Mainan kain flanel yang aman disentuh bayi ini mengusung warna-warna primer yang cerah, berguna untuk merangsang perkembangan indra penglihatannya terhadap warna. Ditambah lagi, mainan yang dibeli Ayah ini bahkan bisa memutar musik. Bisa pilih lagu lewat remote control dan mengatur volume suaranya—benar-benar fasilitas yang serba ada.
"Kalau begini gimana?"
Posisi mobile sekarang pas berada di tengah-tengah ranjang. Bukannya aku tidak percaya pada kekokohan mainan ini, tapi kalau dipasang tepat di atas wajah bayi, rasanya agak mengerikan saja.
"Iya. Menurutku sudah bagus."
Saki menyalakan tombol di remote control, memastikan apakah musiknya berputar dengan benar dan volume suaranya bisa diatur. Sambil melirik Saki, aku melihat ke arah jam dinding di kamar.
Sudah hampir jam 11.
Ayah yang pergi menjemput ke rumah sakit seharusnya sebentar lagi sampai.
"Pekerjaan Yuta-niisan sudah selesai?"
"Setidaknya aku sudah menyedot debu. Di sini sudah selesai belum?"
"Yup. Persiapan menyambutnya sudah mantap!"
Ya, kami sedang bersiap menyambut kedatangan anggota baru.
Sudah seminggu berlalu sejak Ibu Tiri Akiko melahirkan. Di rumah ini, di kamar tidur ini, adik perempuan kami akhirnya akan datang.
Saat memandang sekeliling kamar tidur orang tua kami, aku kembali dibuat takjub oleh perubahannya.
Bukan cuma ranjang bayi. Perlengkapan bayi bertebaran di mana-mana di dalam kamar. Setiap kali aku pulang ke rumah, rasanya barang-barang itu makin bertambah. Cuma karena kedatangan satu orang bayi, isi rumah terasa seperti dirombak total. Kaleng susu formula dan kotak berisi popok sekali pakai menumpuk, belum lagi pakaian dalam bayi yang jumlahnya lumayan banyak mengingat frekuensi ganti baju dan cucian. Bicara soal popok, nenek di Nagano pernah bercerita kalau dulu beliau sangat kerepotan waktu harus mencuci dan memakai ulang popok kain. Ya, itu cerita perdesaan di era Showa, sih. Beliau bercerita bagaimana dua tiang jemuran di halaman belakang selalu penuh dengan popok yang dijemur setiap harinya.
Dibandingkan era itu, perlengkapan mengasuh anak zaman sekarang memang jauh lebih praktis. Mungkinkah ini yang dinamakan kemajuan teknologi? Ya, walau zaman modern pun pasti punya kerepotannya sendiri.
"Akari bakal senang nggak, ya?"
Saki bergumam sambil mematikan dan menyalakan tombol bed merry.
"Pasti senang, kok."
Akari adalah nama adik perempuan kami.
Asamura Akari.
Berharap dia tumbuh menjadi anak yang cerah dan penuh kehangatan, yang bisa menjadi pelita serta tempat pulang bagi seseorang. Nama itu dipikirkan bersama oleh Ayah dan Ibu Tiri Akiko dengan harapan tersebut.
Saat aku sedang hanyut dalam rasa haru, bel pintu depan berbunyi.
Aku dan Saki bergegas berlari ke arah pintu.
Pintu terbuka memperlihatkan Ayah yang menahan daun pintu, serta Ibu Tiri Akiko di belakangnya yang sedang menggendong bayi. Sambil menggendong bayi, beliau melepas sepatu ketsnya dengan menginjak bagian tumit, lalu melangkah ke koridor.
"Kami pulang. Saki, Yuta-kun."
"...Selamat datang."
Suara jawabanku dan Saki refleks memelan karena bayi di dalam dekapan beliau sedang tertidur lelap. Mata kami tidak bisa lepas dari bayi itu. Kesan pertamaku: kecil sekali. Jauh lebih kecil dari yang kubayangkan. Padahal aku sudah melihatnya beberapa kali, tapi melihat sosok mungil di depan mata ini membuatku menahan napas karena dia terlihat begitu rapuh dan tak berdaya sampai-sampai aku ragu apakah dia bisa bertahan hidup.
Begitu kami pindah ke kamar tidur, Ibu Tiri Akiko mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya menghela napas lega.
"Yup, sempurna."
"Beneran nggak apa-apa? Kami cuma menghias dan merapikan seadanya. Beneran oke?"
Saki bertanya dengan raut cemas.
"Nggak apa-apa, kok. Terima kasih ya sudah merapikannya, Saki, Yuta-kun."
Sambil berkata begitu, beliau menatap Akari di dalam dekapannya.
"Akari. Kakak laki-laki dan kakak perempuanmu sudah berusaha keras, lho."
Meski dibisiki seperti itu, bayi di tangannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bakal terbangun.
Ibu Tiri Akiko tersenyum, lalu menyodorkan Akari ke arah Saki.
"Nah, coba gendong."
"Eh...? Iya."
Padahal Saki sudah pernah menggendongnya di rumah sakit, tapi dalam sekejap raut wajahnya berubah tegang.
Dengan ragu-ragu dia mengulurkan kedua tangannya.
"Nah, tangannya."
"Aku tahu. Ditopang di bagian kepala dan lehernya, kan?"
Saki menerima bayi itu sambil menopang lehernya yang belum tegak.
...Apa tidak apa-apa, ya? Napas Saki seperti berhenti. Aku yang melihatnya malah jadi ikut khawatir. Rasa tegang karena takut menjatuhkannya menyebar sampai-sampai napasku sendiri rasanya ikut tertahan. Saki pasti juga berpikir bagaimana kalau bayinya menangis. Terlihat sangat rapuh sampai-sampai terasa menakutkan. Jari-jari bayi itu amat kecil, sampai aku ragu apakah jari sekecil itu bisa dipakai memegang sesuatu. Ya, yang jelas dia belum bisa main batu-gunting-kertas. Yang bisa dilakukan bayi saat ini mungkin cuma mengepal dan membuka jemarinya.
Di dalam dekapan Saki, mulut Akari bergerak-gerak kecil. Melihat hal itu, senyum gemetar terukir di bibir Saki.
"Yuta-kun juga coba gendong, deh."
Mendengar ucapan Ibu Tiri Akiko, Saki menyodorkan Akari ke arahku. Jujur saja, dalam hati aku agak tersentak—uh... giliranku, ya. Ada rasa takut saat menerimanya, rasa waswas muncul lebih dulu ketimbang rasa gemas. Makhluk kecil ini hampir tidak bisa melakukan apa pun sendiri. Kalau saja kami bisa saling memahami lewat kata-kata tentu bakal sangat membantu, tapi kita tidak bisa mengharapkan hal itu dari bayi yang baru lahir seminggu. Seorang 'orang asing' yang tidak akan memaklumi situasi kita, namun tidak bisa kita abaikan begitu saja. Itulah pertama kalinya aku berhadapan dengan keberadaan semacam ini.
"Ini."
"A-ah, iya."
"Yuta-kun. Waktu menerimanya, topang seluruh tubuhnya memakai lengan kiri, lalu posisikan kepala Akari di dekat jantungmu. Tangan kanan tinggal menyeimbangkan saja."
"P-paham."
Mengingat pesan Ibu Tiri Akiko di dalam kepala, aku menerima bayi itu. Akari kini berada di dalam dekapanku. Ringan. Meski ringan, terasa ada bobot yang mantap. Kecil, tapi aku bisa merasakan secara nyata bobot dari sebuah nyawa manusia.
Lengan kiri Akari terjulur dari kain bedongnya. Ujung tangan kecil yang terangkat ke udara itu bergerak-gerak seperti sedang mencari sesuatu. Saat Saki menyentuh ujung tangan itu dengan jari telunjuknya, tangan kecil itu refleks mengepal dan menggenggam jari Saki erat-erat. Saki menggoyangkan jarinya yang tergenggam itu dengan perlahan.
"Ternyata cengkeramannya lumayan kuat, ya."
"Katanya itu dinamakan refleks menggenggam."
"Refleks menggenggam?"
Saki mengulangi kata-kataku sambil memiringkan kepalanya.
"Salah satu refleks yang cuma dimiliki sewaktu masih bayi. Walaupun baru lahir, kalau telapak tangan atau telapak kakinya tersentuh sesuatu, mereka bakal refleks menggenggamnya erat-erat."
Sejak Ibu Tiri Akiko mengandung, riwayat pencarianku jadi makin banyak diisi hal-hal tentang bayi. Walau ada berbagai teori, katanya ini adalah sisa-sisa peninggalan dari zaman nenek moyang manusia yang masih berupa kera—atau lebih tepatnya kera purba berbulu. Kemampuan ini dulu dibutuhkan bayi untuk berpegangan pada bulu tubuh ibunya. Mengulurkan tangan dan menggenggam apa pun yang tersentuh adalah hal yang sangat krusial untuk bertahan hidup.

"Kalau ujung tangan yang terulur itu tidak menyentuh apa-apa, berarti ibunya tidak ada di dekatnya. Tidak ada orang yang memberi nutrisi, tidak ada juga yang melindungi. Kalau sudah begitu, pasti dia akan menangis. Sebab, menangis adalah satu-satunya cara untuk menyampaikan keinginannya. Dengan begitu, dia berusaha menerima perlindungan yang diberikan sebagai sesuatu yang wajar. Prinsip give and take tidak berlaku di sini. Makhluk bernama bayi itu adalah sosok yang hanya bisa meminta secara terus-menerus.
Bayi mengulurkan tangannya dengan harapan bahwa dunia ini adalah tempat yang ramah.
Apakah sudah merasa puas? Cengkeraman tangan Akari di jari Saki perlahan terlepas. Entah mimpi apa yang sedang dia lihat, tapi Akari kini tertidur dengan napas yang tenang.
Setelah mengembalikan Akari ke dekapannya, Ibu Tiri Akiko perlahan membaringkannya di ranjang bayi.
"Ooi. Kalian capek, kan? Mau istirahat di sini dulu?"
Ayah memanggil dari arah ruang makan. Karena suara Ayah agak keras, refleks aku langsung melihat ke arah Akari. Tapi ternyata dia sudah tertidur lelap dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bakal terbangun.
Ibu Tiri Akiko terkekeh pelan.
"Nggak apa-apa. Dia nggak bakal gampang bangun, kok."
Rupanya Ayah juga tahu batasan suaranya, ya. Soal pengalaman beginian, kami yang masih awam memang tidak ada apa-apanya dibanding mereka, jadi aku memilih untuk percaya saja.
"Ibu. Perlu kubuatkan susu formula?"
"Nggak usah, nggak perlu. Kalau bisa, Ibu mau tetap mengusahakan ASI eksklusif dulu."
"Oh, begitu. Soalnya Ibu sempat minta tolong dibelikan susu formula, jadi aku kira bakalan dibesarkan pakai susu itu."
"Cuma buat jaga-jaga saja, kok. Siapa tahu jumlah yang dibutuhkan tidak keluar dengan lancar, atau ada rasa sakit di bagian puting."
"Paham, deh. ...Oke kalau gitu."
Sambil mendengarkan percakapan ibu dan anak itu di belakangku, aku berniat melangkah menuju ruang makan.
Saat hendak keluar kamar, tanpa sadar aku menoleh ke belakang. Mataku menangkap pemandangan Ibu Tiri Akiko yang sedang mengelus lembut rambut Akari, serta Saki yang menatap mereka berdua lekat-lekat. Dalam tatapan Saki yang tertuju pada mereka berdua di dekat ranjang bayi, terdapat kelembutan yang menenangkan... tapi di saat yang sama, ada juga secercah emosi yang bertolak belakang dari itu.
Siang harinya, aku dan Saki sama-sama ada kuliah.
Sebenarnya, alasan kenapa Akari baru dipulangkan hari ini adalah karena kami berdua sama-sama tidak mengambil jadwal kuliah di pagi hari.
Aku dan Saki melangkah keluar dari pintu depan dengan perasaan berat. Begitu keluar, kami berdua menghela napas secara bersamaan, lalu saling bertatap muka. Saat naik lift menuju lantai bawah pun, kami berdua sama-sama bungkam.
Sambil berjalan menyusuri jalan menuju stasiun, tanpa ada yang memulai, mata kami kembali bertatapan.
Di hadapan keberadaan sosok seperti Akari, aku merasa rasa janggal karena terus menyembunyikan hubungan kami dari keluarga makin bertumpuk dari hari ke hari.
"Melihat Ayah dan Ibu Tiri Akiko punya anak lagi, dan melihat betapa bahagianya mereka berdua, kan..."
"Emm."
"Perasaan ingin menyalami dan mendoakan kebahagiaan mereka dari lubuk hati yang paling dalam itu muncul begitu saja."
"Aku paham."
"Makanya aku berpikir... Aku ingin kita berdua juga diusap dan diberkati oleh Ayah dan Ibu Tiri dengan cara yang sama."
Bukan cuma itu. Ada juga rasa bersalah karena terus bertindak bohong di hadapan sosok polos yang tidak tahu apa-apa tentang kebohongan.
Namun, untuk bisa mendapatkan restu dan ucapan selamat dari orang tua, semuanya tidak akan dimulai sebelum kami mengakui hubungan ini.
"Dan yang bakal jadi masalah saat itu nanti, mungkin adalah kesadaran kita sendiri... Atau lebih tepatnya, dilema ini."
"Dilema..."
"Perasaan bertolak belakang antara 'harus memberitahu' tapi di saat yang sama 'tidak ingin memberitahu'."
Masalahnya bukanlah pada logika, melainkan pada perasaan.
Kami adalah kakak-adik, tapi di saat yang sama juga sepasang kekasih.
Jujur saja, seandainya hal ini dibongkar ke publik pun, secara praktis tidak ada masalah apa-apa. Setidaknya menurut hukum perdata Jepang saat ini, selama tidak ada ikatan darah, dua orang yang tercatat sebagai saudara di kartu keluarga tetap bisa menikah.
Hal ini sudah kucari tahu sejak pertama kali aku menyadari bahwa aku menyukai Saki.
Akan tetapi, tidak adanya kendala hukum dan urusan perasaan adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
Kalau ditanya apakah aku bisa langsung mengaku kepada Ayah dan Ibu Tiri Akiko bahwa aku dan Saki berpacaran, jawabannya tentu sangat sulit.
Benar-benar sulit.
Diterpa angin bulan Juni yang relatif kering, rambut Saki berkibar. Sambil menahan helai rambutnya yang berterbangan, Saki bungkam dan berpikir sejenak.
"Kalau aku... Sebelum berpacaran dengan Yuta, ada masa di mana aku berusaha menekan perasaanku sendiri. Saat itu, aku tidak mau merusak pemandangan keluarga Asamura yang akhirnya bisa hidup tenang dan stabil."
Dia memilih untuk tetap berada di posisinya sebagai seorang adik.
Mungkin itu terjadi di masa-masa ketika dia mulai mengubah panggilannya untukku, dari 'Asamura-kun' menjadi 'Niisan'.
Semakin seseorang menyadari ikatan sebagai 'kakak dan adik', secara alami kesadarannya akan tergerak ke arah 'karena kita kakak-adik, kita tidak boleh berpacaran'. Rasanya seperti melanggar moralitas. Padahal secara logika kita tahu, tidak ada masalah genetika sama sekali dan ini tak ada bedanya dengan percintaan antar-orang asing biasa.
"Lagi pula, awalnya aku kira cuma aku sendiri yang punya perasaan seperti ini. Meskipun aku menyukai Yuta, belum tentu Yuta merasakan hal yang sama, kan? Kalau ternyata perasaan kita bertolak belakang dan hal itu terbongkar, aku merasa tidak akan sanggup lagi tinggal di rumah itu."
"Soal itu, aku juga sama."
"Tapi, begitu menyadari bahwa aku menyukai Yuta dan sadar perasaan ini tidak bisa dihentikan lagi, aku merasa sangat senang saat Yuta bilang kalau kamu juga menyukaiku. Tapi, begitu berada di situasi itu, yang kupikirkan selanjutnya adalah: apa yang akan terjadi kalau kita memberi tahu Ibu dan Papa Taichi, lalu setelah itu kita berdua malah putus?"
Pengakuan Saki membuat dadaku terasa sesak. Kenyataan bahwa hal pertama yang dipikirkannya saat baru mulai berpacaran adalah 'bagaimana kalau putus', membuatku melihat bayangan kelam dari perceraian orang tua yang mengintai pikirannya.
Padahal aku sendiri juga mengalami perceraian orang tua yang sama, tapi kalau ditanya apakah aku berpikir sejauh itu saat menyadari menyukai Saki, rasanya tidak juga. Aku tidak berniat menegaskan bahwa ini adalah perbedaan gender. Namun dalam situasi seperti ini, menurutku pemikiran Saki terasa sedikit lebih dewasa. Dulu Ibu Tiri Akiko pernah berkata: Ibu ingin memberinya lebih banyak waktu untuk menjadi anak-anak yang manja...
"Yah, memang sih, kalau diingat-ingat aku pernah membaca di buku kalau peluang pacaran anak SMA bisa bertahan sampai ke jenjang pernikahan itu, paling tinggi sekalipun tidak sampai 10%."
Kalau kami nekat mengaku lalu ujung-ujungnya putus, hal itu bisa saja merusak keharmonisan rumah tangga yang akhirnya berhasil dicapai oleh Ayah dan Ibu Tiri Akiko. Kalau begitu, wajar saja timbul keinginan untuk tetap diam sampai hubungan kami berdua benar-benar mantap dan pasti.
"Tapi, sejak hubungan kita berubah menjadi adik sekaligus kekasih, aku tidak pernah menganggap hubungan ini sebagai sesuatu yang memalukan, kok."
Di tengah terpaan angin dari arah depan, Saki menatap lurus ke arah jalan sambil berbicara.
"Kalau ini adalah hubungan yang tidak bisa kubanggakan, aku pasti sudah menghentikannya dari dulu."
Pasti begitu, pikirku setuju.
Ayase Saki adalah tipe wanita yang seperti itu. Begitu dia mengambil keputusan, dia akan sangat tegas dan berani. Walaupun dia sendiri sepertinya memang tidak suka menjadi pusat perhatian umum.
Pemandangan di dalam taman terlihat dari balik jalanan di sampingnya. Pepohonan yang di musim dingin hanya menyisakan ranting-ranting cokelat kini telah ditumbuhi daun-daun muda dengan indahnya. Warna dedaunan yang belum pekat menjelang musim panas. Terasa sejuk di mata dan menenangkan hati saat dipandang.
"Berarti Saki sendiri sebenarnya tidak keberatan untuk memberi tahu mereka, kan?"
Saki mengangguk.
"Tapi, alasan-alasan untuk tidak mengatakannya selalu saja terlintas di kepalaku... Jadi ini yang dinamakan dilema, ya."
"Ya, dilema. Aku juga merasakan hal yang sama, termasuk dilema itu. Meskipun aku tahu lebih baik mengaku secepatnya, ada juga perasaan yang menahanku. Perasaan sulit untuk mengucapkannya, rasa segan."
Masalahnya bukan terletak pada logika, melainkan tingginya tembok hambatan psikologis.
Meskipun aku dan Saki sama-sama enggan menyembunyikan sesuatu dari keluarga, kami tetap tidak sanggup mengutarakan hubungan ini kepada orang tua kami....
"Sekarang aku merasa bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Yuta, tapi..."
"Kalau kita mengaku ke keluarga, kita tidak akan bisa kembali ke keadaan semula."
"Emm."
Justru karena hubungan keluarga saat ini terasa sangat nyaman, bayangan bahwa keharmonisan itu bisa hancur membuat kami ragu untuk mengaku—mungkin begitu.
"Tapi, kalau memikirkan Akari..."
"Aneh, ya. Dibandingkan merahasikannya dari Papa Taichi atau Ibu, rasanya justru seperti sedang melakukan hal yang salah di depan Akari."
Mendengar ucapan Saki, aku pun mengangguk setuju.
Di hadapan sosok yang sama sekali belum ternoda oleh kebohongan dunia, seorang pembohong pasti akan merasa ciut dan ragu.
Karena itulah kami menyadarinya. Kami harus memberitahukan hubungan kami kepada orang tua, agar hubungan ini menjadi jujur dan tanpa kebohongan, bahkan di depan Akari sekalipun.
"Aku rasa kita berdua sudah sama-sama paham kalau kita memang harus mengatakannya. Bagaimana menurutmu?"
"Boleh. Aku juga tidak yakin bisa terus menyembunyikannya selamanya."
"Kalau begitu..."
Masalahnya adalah kapan dan bagaimana cara mengatakannya.
"Kalau sekarang juga... jelas tidak mungkin, kan? Apalagi setelah melihat situasi tadi."
"Iya, sih."
Aku dan Saki sama-sama teringat pemandangan tepat sebelum meninggalkan rumah tadi.
Setelah itu, hanya Ibu Tiri Akiko yang tersisa di dalam kamar tidur. Alasannya langsung kami ketahui tak lama kemudian. Sebab saat kami sedang beristirahat sebentar di ruang makan, terdengar suara tangisan Akari dari dalam kamar.
Ayah langsung berdiri dan mengintip ke dalam kamar tidur. Beliau bertukar satu-dua kata dengan Ibu Tiri Akiko yang sedang menggendong Akari untuk menyusuinya—menanyakan apakah jumlah ASI-nya cukup, atau apakah perlu dibuatkan susu formula. Aku dan Saki juga sempat memperhatikan situasi kalau-kalau ada yang bisa kami bantu, tapi orang tua kami hanya tertawa sambil berkata, "Nggak apa-apa, nggak apa-apa."
Yang bisa kami lakukan hanyalah bolak-balik tak tentu arah antara ruang makan dan area di dekat Akari yang menangis kelaparan.
"Katanya menyusuinya itu setiap 3 jam sekali, ya?"
"Sepertinya begitu. Lebih tepatnya setiap 2 sampai 3 jam sekali."
"Dan itu berlangsung terus-menerus?"
"Ah, iya."
Bayi yang baru lahir belum bisa membedakan siang dan malam. Ukuran lambungnya juga masih sangat kecil, jadi begitu makan akan cepat lapar lagi. Makanya setiap 2 sampai 3 jam sekali mereka akan menangis meminta susu. Hal itu terus berlanjut tanpa kenal siang atau malam. Katanya, bayi baru bisa membedakan siang dan malam setelah berusia 3 sampai 4 bulan.
"Menyusui setiap 3 jam sekali selama 4 bulan berturut-turut..."
"Melakukan hal itu... untuk jangka waktu sepanjang itu..."
Aku baru menyadari secara nyata, kenapa suara tangisan bayi bisa membuat hati orang yang mendengarnya terasa begitu panik dan gelisah. Secara logika aku paham. Kalau orang-orang di sekitarnya tidak merasa panik, bayi itu bisa meninggal. Jika memikirkan keberlangsungan spesies, sangat wajar jika kita merasakan rasa mendesak seperti itu.
Padahal aku dan Saki tidak bisa melakukan apa-apa selain panik dan kebingungan, tapi hanya dengan mendengar suara tangisan Akari dari jarak dekat saja sudah sukses membuat kami merasa lelah luar biasa.
"Hari ini aku baru benar-benar paham untuk apa sebenarnya cuti melahirkan itu ada."
"Aku juga."
Mengalami hal itu... selama 4 bulan ke depan.
Lagipula, itu bukan berarti bagian tersulit dari mengasuh anak sudah selesai. Itu baru tahap di mana sang bayi mulai bisa membedakan antara siang dan malam. Masa-masa di mana kita tidak boleh lengah mengawasinya masih akan terus berlanjut.
"Kalau sekarang jelas tidak mungkin."
Saki mengangguk-angguk setuju di sampingku.
Seandainya kami mengaku bahwa kami berdua berpacaran dan sedang memikirkan masa depan dengan serius, sudah terlihat jelas seperti menyiram minyak ke dalam api—hal itu hanya akan menambah beban Ayah dan Ibu Tiri Akiko yang sedang keteteran mengurus bayi. Kami tidak mau mengambil risiko nekat di tengah situasi seperti itu.
Mungkin, waktunya bukan sekarang.
Tapi, bukan berarti hal ini bisa ditunda-tunda terus.
"Mari kita tentukan batas waktunya."
"Maksudmu, kita butuh momen yang pas?"
"Yap, benar. Kalau dari pihak Saki bagaimana? Sekarang lagi sibuk, kan?"
Seingatku, proyek baru di kantor desain tempatnya magang baru saja dimulai.
"'Pameran Horor' bakal dimulai awal Agustus. Jadi sampai saat itu aku bakalan agak sibuk. Momen paling gentingnya mungkin di akhir Juli."
"Begitu pamerannya mulai, kamu sudah tidak terlalu sibuk?"
"Kalau sampai saat itu masih sibuk juga, bisa gawat. Makanya yang paling sibuk itu sepertinya bulan Juli. Apalagi ada ujian akhir juga."
"Aah. Ujian akhir semester, ya."
"Yuta juga ada, kan?"
"Ichinose ada ujian di pertengahan Juli."
"Kalau kampusku sedikit lebih akhir."
Ujian akhir semester di Universitas Wanita Tsukinomiya sekitar akhir Juli, ya. Kalau begitu, puncak kesibukan Saki memang akan jatuh di bulan Juli. Padahal aku di akhir Juli harusnya sudah senggang karena ujiannya sudah selesai.
"Kalau begitu... bagaimana kalau awal Agustus?"
"Boleh. Di waktu itu harusnya aku juga sudah punya banyak waktu luang."
Sambil mengobrol, Stasiun Shibuya mulai terlihat di depan mata.
Setelah melewati gerbang tiket, kami pun berpisah menuju kampus masing-masing.
Dengan begini, kami telah menetapkan batas waktu untuk mengakui hubungan kami kepada orang tua.
Di balik atap yang menutupi peron, langit tampak biru membiru dan cerah, memancarkan hawa awal musim panas bahkan sebelum aroma hujan musim kemarau sempat tercium.