Memuat...
Kaca-kaca apartemen yang kutatap mendongak memantulkan warna langit, terwarnai biru cerah.
Hari cerah yang langka di antara sela-sela musim hujan. Hari yang sangat sempurna untuk pergi berbelanja.
Yah, walau begitu, kalau cuaca cerah, hawanya memang makin menyengat.
Padahal masih pagi hari, tapi begitu memasuki perjalanan pulang setelah berbelanja, suhunya sudah menembus 30°C. Berjalan di luar sambil membawa barang-barang bawaan seperti ini sukses membuatku terengah-engah. Ditapped lagi, aku cuma sempat memakai sunscreen. Aku sedang berada dalam fase menyesali diri—aduh, harusnya tadi aku membawa payung peneduh.
Ah, tapi tidak ding, toh kedua tanganku sedang penuh, jadi percuma saja tidak akan bisa memegang payung....
Sambil menggenggam barang belanjaan yang cuma ditempeli stiker logo toko obat di kedua tanganku, aku menaiki jalan menanjak yang landai dengan keringat yang mulai bermunculan di dahi. Barang bawaan di tanganku adalah popok sekali pakai harga diskon, popok sekali pakai, dan popok sekali pakai. Mumpung ada kesempatan bisa membeli sekaligus 3 pak alih-alih dibatasi 1 atau 2 pak per orang, aku jelas tidak boleh melewatkannya.
Akhirnya aku sampai juga di area pintu masuk apartemen.
Aku menghela napas lega setelah berhasil melarikan diri dari sengatan terik matahari.
Baru saja hendak menekan tombol lift, seorang wanita yang naik secara bersamaan bertanyaku, "Lantai berapa?" Begitu kujawab, dia menekan tombolnya untukku.
Saat kulirik dengan sopan agar tidak terkesan lancang, terlihat sosok wanita berusia sekitar empat puluhan dengan warna rambut agak kemerahan. Rasanya kami pernah beberapa kali berada di dalam lift yang sama. Beliau mengangguk pelan memberi hormat, dan aku pun ikut menundukkan badan sedikit. Apartemen di daerah perkotaan biasanya berkesan individualis dan jarang berinteraksi dengan sesama tetangga, tapi karena ini urusan sehari-hari, lama-lama ada juga beberapa wajah yang dihafal. Lagipula, sudah 3 tahun berlalu sejak aku pindah ke apartemen keluarga Asamura ini saat kelas 2 SMA.
3 tahun. Kenyataan itu membuatku kembali merasakan betapa cepatnya waktu berlalu.
Siapa sangka aku bakal pulang ke rumah sambil membopong sebundel gunung popok sekali pakai seperti ini—
"Duluan, ya."
Mendengar suara itu, aku tersentak dan mendongak. Wanita berambut merah tadi hendak turun di lantai sebelum lantaiku. Aku pun buru-buru menundukkan kepala. Saat itulah, aku menyadari wanita yang sedang turun itu beberapa kali melirik ke arahku. Lebih tepatnya, matanya bergerak bolak-balik antara menatapku dan popok sekali pakai di tanganku.
—Jangan-jangan...
"B-bukan... ini bukan punyaku...!"
Bahkan sebelum aku sempat membela diri, pintu lift sudah tertutup rapat. Aku sendiri tidak tahu apakah harus menyesali kebodohanku karena gagal meluruskan kesalahpahaman, atau justru merasa lega karena tidak sampai terlihat seperti orang aneh yang mendadak melontarkan alibi tak jelas padahal tidak ada yang menuduhnya. Ya ampun... Jangan-jangan wanita tadi bakal menceritakan tentang diriku ke keluarganya di meja makan malam nanti? Lalu berakhir jadi bahan gosip tetangga?
"...Yah, tidak apalah. Toh aku tidak sedang melakukan hal jahat ataupun hal yang tidak bermoral."
Benar, ini kan belanjaan demi adik perempuanku yang lucu. Tidak ada yang perlu dimalukan, kan? Tidak ada sama sekali.
Meski begitu, aku tetap melangkah membuka pintu depan rumah sambil agak menundukkan bahu.
"Aku pulang," seruku ke dalam rumah sambil melepas sepatu.
Tiba-tiba...
Sangat samar, tapi saat itulah aku kembali menyadari aroma yang mengelus ujung hidungku.
—Aroma bayi.
Pada kenyataannya, aku tahu itu adalah campuran antara aroma susu dan sabun bayi. Bagian dalam rumah telah diinvasi oleh berbagai macam barang yang disiapkan demi Akari. Hanya karena kedatangan satu orang bayi di rumah, siapa sangka aroma di dalam rumah bisa berubah sampai sejauh ini. Perubahan yang terjadi rasanya jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Manusia tidak akan menyadari satu per satu perubahan kecil yang bertumpuk setiap harinya. Tapi begitu tumpukan itu menggunung, tanpa disadari tingginya sudah lumayan mengagumkan.
Sama halnya seperti aku yang secara tidak sadar bisa menghafal wajah orang yang sesekali bertatap muka di lift.
Terdengar bunyi selop bertepuk-tepuk, dan Ibu mengintip dari balik koridor sana.
"Selamat datang kembali, Saki."
"Aku sudah membelikannya, nih."
Ucapku sambil mengangkat dan memamerkan popok sekali pakai di tanganku.
"Bisa tolong kumpulkan dan taruh di kamar tidur saja?"
"Paham," jawabku, dan Ibu pun kembali masuk dengan bunyi selop yang bertepuk-tepuk. Mungin beliau kembali mendekati Akari di kamar tidur.
Setelah menaruh timbunan popok di rak, aku membawa satu bungkus yang tersisa menuju kamar tidur.
Akari bangun tidak, ya?
Sudah sekitar setengah bulan berlalu sejak Ibu keluar dari rumah sakit.
Memasuki masa-masa itu, ritme kehidupan keluarga kami sudah sepenuhnya dirombak dengan menjadikan Akari sebagai pusatnya.
Akari akan menangis meminta susu setiap 3 jam sekali, dan begitu minum dia akan tidur. Kalau popoknya basah dia akan menangis, begitu diganti dia berhenti menangis, lalu tidur lagi. Tentu saja, kalau tidak ada apa-apa pun dia tetap tidur. Ritme hidup bayi sama sekali berbeda dengan manusia dewasa, dan hebatnya lagi dia sama sekali tidak peduli ataupun memaklumi situasi kita.
Jujur saja ya. Sebagai orang yang belum pernah punya pengalaman mengasuh anak, ritme hidupku dibuat berantakan dan pada awalnya aku sukses dibikin kesal terus-menerus.
Ibu dan Papa Taichi memang sudah berusaha bergerak sehalus dan sehening mungkin di tengah malam, tapi tetap saja begitu terdengar suara tangisan Akari dari balik pintu, aku yang tipe tidurnya tidak nyenyak ini sering kali ikut terbangun gara-gara suara itu.
Kalau kebetulan sedang begadang mengerjakan tugas kuliah sih masih mending, aku bisa beralasan ingin cari angin segar sambil membantu membuatkan susu. Tapi kalau pekerjaan di kantor desain tempat magangku molor sampai pulang larut malam, ditambah lagi esok harinya ada kuliah jam pertama, waktu tidurku yang dari awal sudah tipis makin tergerus habis, sampai-sampai rasanya sangat menyiksa.
Ini dia. Hal yang sering jadi bahan perbincangan itu. Hal yang terjadi antara ibu penanggung beban tunggal (one-parenting) dan ayah yang terus-menerus lembur gara-gara tidak bisa mengambil cuti melahirkan serta tidak mendapat bantuan dari generasi kakek-nenek. Stres pengasuhan anak yang menjadi pemicu tipikal memburuknya hubungan suami istri. Oh, jadi begini rasanya, aku bisa memahaminya secara nyata.
Meski begitu, aku merasa keluarga kami masih termasuk beruntung.
Pertama, Papa Taichi mengambil cuti melahirkan dengan sangat mantap. Sesuai perkiraan dari orang yang sudah berpengalaman mengasuh anak, beliau sangat lihai dalam mengganti popok maupun menyiapkan botol susu. Ngomong-ngomong, ada hal memalukan yang membuat ketidakpahamanku terbongkar secara gamblang—dulu dengan bodohnya aku mengira kalau pakai popok sekali pakai, cucian bakal berkurang, atau bahkan hilang sama sekali. Karena kotoran kencing dan kotoran BAB semuanya tertampung di sana, jadi pikirku tinggal digulung lalu dibuang, kan.
Pemikiran yang terlalu naif. Padahal kalau dipikir-pikir baik-baik, hal itu sudah sangat jelas. Mau kain atau kertas, yang namanya popok itu bukanlah pakaian dalam, dan tugasnya cuma menampung sebagian besar kotoran saja. Kalau semburannya kencang, ya bakal meluber juga.
Akari adalah bayi yang sangat bertenaga.
Makanya, tergantung situasi, 'barang' itu bisa saja menjebol benteng pertahanan popok dan meluber ke mana-mana.
Kalau pakaian dalam cuma menyerap keringat sih tinggal dilempar ke mesin cuci, tapi kalau pakaian dalam sampai menampung kotoran yang meluber, mau tidak mau harus dicuci pakai tangan. Yah, mumpung masa-masa sekarang dia cuma minum susu, biarpun meluber sebenarnya kotorannya belum parah-parah amat, sih.
Ibu dan Papa Taichi sama sekali tidak menunjukkan raut wajah jijik, malah dengan tersenum lebar bilang "Wah, adiknya bertenaga banget ya," sambil mengganti popok, memakaikan pakaian dalam yang bersih, dan dengan tekun mencuci pakaian kotor itu pakai tangan di kamar mandi. Setiap kali melihat pemandangan itu, aku malah merasa cemas: apakah kelak di masa depan aku sanggup melakukan hal yang sama seperti mereka?
Pemandangan di mana Papa Taichi dan Ibu berdua berada di rumah seharian penuh awalnya terasa asing bagiku, tapi setelah setengah bulan berlalu, aku mulai terbiasa. Karena mereka berdua sudah menangani sebagian besar urusan pengasuhan bayi, aku lebih banyak mengambil peran membantu urusan rumah tangga lainnya.
Dan Yuta yang tinggal sendirian pun terbilang cukup sering pulang ke rumah.
Bukan cuma Sabtu-Minggu saja, di hari saat dia tidak ada kuliah pagi pun dia akan pulang di malam sebelumnya, membantu urusan rumah tangga, baru kemudian berangkat ke kampus.
Makanya, seandainya aku tidak ada di rumah pun, aku yakin perawatan Akari tidak akan terbengkalai.
Tapi, tetap saja aku merasa penasaran dan kepikiran.
Suara tangisan Akari itu menggemaskan, tapi di saat yang sama terasa menyiksa. Secara logika aku tahu dia adalah adikku dan bukan anak kandungku, aku juga tahu hal yang bisa kulakukan sangat terbatas, dan aku tahu ini adalah kecemasan berlebihan yang kubuat-buat sendiri. Namun di atas semua itu, wajah tidur Akari sangatlah imut. Hanya dengan memandangnya saja, diriku sendiri yang tergerak ingin memberikan perawatan sebanyak yang kubisa untuknya.
Suatu hari di sore hari.
"Ibu mau tidur sebentar, bisa tolong jagakan sebentar?"
Rupanya tangisan malam tadi benar-benar menguras tenaganya, sampai-sampai Ibu secara tidak biasa meminta tolong padaku.
Hari itu hari Minggu, Papa Taichi sedang pergi ke supermarket untuk berbelanja barang diskon, sedangkan Yuta sedang masuk kerja di hari libur ke kantor redaksi tempatnya magang. Sudah hampir dua minggu sejak Akari datang ke rumah, dan Akari juga mulai tertarik dengan lingkungannya. Walau matanya mungkin belum bisa melihat jelas, dia sudah mulai bisa memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.
"Serahkan padaku."
Aku memindahkan ranjang tempat tidur Akari secara perlahan ke arah ruang makan.
"Kalau dia menangis, jangan ragu untuk bangunkan Ibu, ya."
"Paham."
Aku memang menjawab begitu, tapi karena tahu beliau butuh tidur yang berkualitas untuk menghilangkan kantuknya, aku berniat merawat Akari sebisa mungkin. Toh setidaknya kalau cuma mengganti popok saja aku sudah sanggup.
Akari sedang bernapas tenang dan tertidur lelap di dalam ranjangnya.
Kalau sudah begini, aku tahu hal kecil tidak akan membuatnya mudah terbangun. Semua bakal aman-aman saja.
"10 menit... kalau sudah 20 menit berlalu bangunkan Ibu, ya."
"Kalau ada apa-apa pasti kubangunkan, kok. Ibu tidur saja yang tenang."
Setelah menasihatinya, aku menyuruh Ibu masuk ke kamar tidur.
Aku menggeser kursi ke samping ranjang bayi dan memperhatikan wajah tidur Akari. Seperti biasa, entah mimpi apa yang sedang dilihatnya, bibirnya bergerak-gerak kecil melontarkan gumaman halus yang bahkan tidak membentuk kata-kata.
Sore hari di hari libur. Dari jendela yang terbuka lebar, hembusan angin sepoi-sepoi yang menandakan akhir musim hujan bertiup lembut, membuat bed merry di atas ranjang berputar secara perlahan. Musik yang dimainkannya adalah versi kotak musik dari lagu klasik terkenal yang bahkan aku pun tahu: Eine kleine Nachtmusik.
Suara perlahan khusus bayi yang berdering tan-tan... ta, ta-ta-ta-tan, ta-ta-ta itu bahkan memancing rasa kantukku sendiri yang sedang menjaganya.
Tepat saat kesadaranku mulai samar-samar dan kelopak mataku hampir terpejam.
Akari mulai menangis.
Kesadaranku langsung tersentak bangun. Aku membuka mata dan menatap Akari. Di saat seperti ini tidak boleh panik.
Dia baru saja minum susu, jadi kemungkinan besar bukan karena itu. Kalau begitu... mungkinkah, pikirku sambil mendekatkan wajah ke arah Akari untuk mengendus bau. Tapi aroma yang kukira bakal tercium ternyata tidak ada, membuatku kebingungan—Lho? Saat kucoba raba untuk memastikan pun, teksturnya masih kering dan halus.
Suara tangisannya makin melengking tinggi. Tunggu, tunggu sebentar.
"Anu, Akari... kamu bukan mau makan, kan? Popoknya juga bukan. Apakah tidurmu merasa tidak nyaman?"
Aku mencoba menggendong dan menimangnya secara perlahan, tapi tidak ada efeknya sama sekali.
Ada apa, sebenarnya apa sih yang bikin kamu tidak puas? Apakah karena musim panas sudah makin dekat jadi rasanya panas? Apakah aku harus menurunkan suhu AC? Tapi kalau nanti dia malah masuk angin kan gawat.
Meskipun sudah memikirkan berbagai hal, aku tetap tidak paham. Saat kutanya pun hanya suara tangisan yang membalas, dan hal itu makin membuatku panik.
Pintu kamar tidur terbuka dan Ibu bergegas datang mendekat. Sambil mengarahkan wajah Akari ke arah Ibu, aku menyampaikan situasinya.
"Popoknya tidak basah, kok. Tapi entah kenapa tangisannya tidak mau berhenti."
Sambil mengangguk-angguk, Ibu berkata, "Tidak apa-apa, kok. Maaf ya," lalu mengambil alih Akari dari dalam dekapanku.
"Iya, iya. Ada apa, ya?"
Beliau bertanya dengan nada yang sangat lembut.
"Nah, Akari. Tidak apa-apa, kok. Mama ada di sini, lho"
Sambil menasihatinya, Ibu menimangnya dengan perlahan. Padahal tadi dia menangis sampai merusak gendang telinga, tapi perlahan-lahan suara tangisannya mulai mereda.
"Hebat banget."
"Biasa saja, ah. Cuma segini saja."
"Tapi aku tadi cuma bisa panik sendiri. Aku bahkan tidak tahu kenapa dia menangis."
Namun saat itulah Ibu mengucapkan hal yang sangat tak terduga.
"Lho. Ibu juga bukannya tahu pasti, kok."
Eh?
"Tapi Ibu bisa mengira-ngira. Mungkinkah anak ini ingat dengan suara Ibu atau detak jantung Ibu, lalu begitu bangun dan tidak mendengar suara yang biasa didengarnya di dekatnya, dia jadi merasa cemas."
"Suara yang biasa didengar... Tapi kan selama 2 minggu ini aku juga terus memperhatikan Akari."
"Harusnya dibilang baru 2 minggu, ya. Kalau Ibu kan sudah bersamanya jauh dari sebelum itu?"
Mendengar hal itu, barulah pemikiran itu meresap ke dalam otakku.
Begitu, ya. Benar juga. Berarti Akari sudah mendengarkan suara Ibu dan detak jantung Ibu sejak dia masih berada di dalam kandungan.
"Makanya, kalau dia lebih manja ke Ibu dibanding ke Saki itu sudah sewajarnya, kan?"
"Iya... sih, benar."
"Bahkan buat Ibu sekalipun, apa yang sedang dipikirkan Akari saat ini cuma bisa dikira-kira saja. Ibu tidak pernah berpikir kalau Ibu bakal tahu segala hal cuma gara-gara dia anak kandung Ibu. Lagipula waktu Saki baru lahir dulu, Ibu juga cuma bisa pasrah kebingungan sambil menggendongmu yang terus-menerus menangis dan rewel."
"Begitu, ya..."
"Mengubah cara menggendong, membawanya berjalan-jalan di sekitar rumah sambil menggendongnya, menyanyikan lagu untuknya... Kalau dilakukan begitu, perlahan-lahan dia akan tertidur. Tapi biarpun begitu, Ibu tidak pernah punya keyakinan pasti apakah Ibu sudah benar-benar paham apa yang sebenarnya kamu inginkan saat itu."
"Kalau begitu, tidak apa-apa tuh?"
"Karena kamu sekarang bisa hadir di sini dengan selamat, ya Ibu cuma bisa berpikir kalau semuanya akhirnya bisa terlewati dengan baik."
Ucapan itu terdengar seperti pernyataan pasrah, tapi mungkin itu adalah wujud dari rasa percaya diri yang tenang yang didapatkan dari akumulasi pengalaman.
Apakah kelak aku juga akan bisa berpikir seperti itu?
Perasaan kalah yang mirip saat berdiri kepayahan menggendong Akari yang tak berhenti menangis kembali terlintas di dalam dadaku.
Sama sekali tidak bisa kubayangkan, sih...
"Tapi yah, kalau sudah membesarkan satu orang anak, mental seseorang bakal lumayan tergembleng, dan kita bisa merasa sedikit lebih paham dibanding saat pertama kali dulu. Nah, makanya Saki, Ibu ada satu permintaan, nih."
Aku yang tadinya tenggelam dalam pemikiran mendongak mendengar suara Ibu.
"Emm? Apa?"
"Maaf ya. Bisakah tolong ambilkan popok dari kamar tidur?"
Melihat raut alis Ibu yang melengkung ke bawah, aku langsung paham.
Ini... insiden yang itu. Sepertinya benteng pertahanan popok sekali pakai baru saja berhasil ditembus. Aroma samar-samar mulai tercium di udara. Katanya kalau sudah bisa makan makanan padat aromanya bakal makin aduhai, tapi berhubung sekarang masih masa-masa cuma minum susu, untunglah aromanya tidak sampai seberbahaya itu.
"Tunggu sebentar, ya."
"Toh sudah telanjur basah, jadi tidak usah terburu-buru."
Sambil mendengarkan ucapan Ibu di belakangku, aku tetap merangsek masuk ke dalam kamar tidur secepat yang kubisa, menyambar popok sekali pakai yang baru, lalu kembali. Kami berdua bekerja sama mengganti popoknya. Barulah setelah itu Akari bisa tertidur lelap. Setelah menyalakan tombol bed merry, aku dan Ibu akhirnya bisa bernapas lega.
Yah, walau 1 jam lagi sudah memasuki jadwal minum susu jadi dia bakal bangun dan menangis lagi, sih.
Meski begitu, perbedaannya sangat jauh.
Perbedaan kemampuan mengasuh anak antara aku dan Ibu. Akari yang bisa berhenti menangis di dalam dekapan Ibu, sedangkan aku cuma bisa berdiri kebingungan saat menggendongnya. Perbedaan itu tidak bisa kubawa santai sampai bisa diselesaikan cuma dengan kata-kata "perbedaan pengalaman" atau "ikatan batin ibu dan anak".
Sebab kalau dipikir-pikir baik-baik, aku baru menyadari kalau Ibu mengandungku dulu tepat di usianya yang seumuran denganku sekarang.
Tapi makin kupikirkan, makin terasa kalau aku sama sekali tidak ada apa-apa dibanding Ibu.
Aku tidak bisa menggantikannya.
Padahal kelihatannya sangat berat, tapi aku tidak bisa menggantikan posisinya.
Setidaknya aku ingin merawatnya sebagai seorang kakak, sih. Karena aku tidak bilang ingin jadi ibunya. Aku belum—dan sepertinya tidak akan jadi seorang ibu dalam waktu dekat ini, kan? Eh, tunggu, ini kan urusanku sendiri, kenapa aku malah bertanya ke siapa coba? Yah, mungkin karena ini bukan hal yang bisa kuputuskan sendirian saja, sih. Tergantung bagaimana perasaan pasangan juga.
Malam itu, bahkan setelah masuk ke dalam selimut, pikiranku terus berputar-putar membayangkan tentang bagaimana rasanya menjadi seorang orang tua.
Dan tanpa sadar, aku pun tertidur.
Tapi, aku tidak bisa terus-terusan mengakhirinya hanya dengan berpikir saja.
Alasan kenapa Ibu dan Papa Taichi nekat menikah lagi padahal sudah punya anak laki-laki dan perempuan yang sedang beranjak remaja adalah karena kalaupun Ibu dan yang lainnya ingin punya anak baru, mereka ingin menghindari persalinan di usia yang terlalu tua. Kalau beliau bisa bertemu dengan seseorang yang membuatnya ingin punya anak sampai seantusias itu, sebagai seorang anak perempuan tentu itu hal yang membahagiakan.
Ah, pembahasannya melenceng. Nah, kalau logika ini diterapkan pada diriku sendiri, artinya seandainya aku melahirkan anak pertama sekarang, dan melahirkan anak terakhir nanti, batas waktunya adalah sekitar 18 tahun dari sekarang.
Cuma ada rentang waktu 18 tahun.
Di suatu tempat dalam rentang waktu itulah aku akan melahirkan...
Tentu saja, secara biologis rentang waktu usia subur wanita jauh lebih panjang dari itu. Aku tahu hal ini karena pernah mengubrak-abrik internet untuk mencari tahu saat Ibu mengumumkan deklarasi program hamilnya dulu. Secara biologis, masa-masa bisa hamil itu dimulai dari menstruasi pertama di usia sekitar 12 tahun sampai menopause yang rata-rata terjadi di usia sekitar 50 tahun. Artinya, ada rentang waktu sekitar 38 tahun.
Tapi, tepat setelah menstruasi pertama tubuh masih terlalu muda, dan di akhir usia 30-an tingkat kemungkinan hamil secara alami akan menurun.
Masa kehamilan yang paling optimal berkisar antara usia 20 sampai 35 tahun, makanya kalau buat Ibu yang baru pertama kali melahirkan di usia segitu akan disebut sebagai kehamilan risiko tinggi di usia lanjut (advanced maternal age). Tapi istilah 'usia lanjut' itu kedengarannya terlalu kejam, ya. Dunia medis kan sudah maju, harusnya mereka bisa mengubah istilahnya jadi kata yang sedikit lebih menenangkan hati, kan?
Aku rasa sampai di titik itu pikiranku tenggelam dalam lautan perenungan.
Makanya hal yang terlontar dari mulutku hanyalah satu kalimat keluhan terakhir.
"Padahal menurutku usia 35 tahun itu masih tergolong usia yang dibilang muda, lho..."
Begitu mengucapkan hal itu, aku baru teringat sedang berada di mana aku sekarang.
Teman di depanku menganga menatapku dengan mulut terbuka. Dia memiringkan kepalanya dan berkata:
"Kalau sudah lewat 30 tahun kan bukannya sudah panggilannya Tante?"
"Ibuku masih muda, tahu!"
...Eh?
Seketika setelah menyemprotkan kalimat itu aku tersentak. Gawat.
"Mana aku tahu. Memangnya ibunya Saki umur berapa, sih?"
Gadis di depanku bertanya dengan tatapan polos tanpa niat jahat.
"Kyoka, tidak boleh menanyakan umur seorang wanita, tahu?"
"Aah, ngomong-ngomong bukannya Saki baru saja jadi seorang kakak, ya? Oh begitu, berarti ibumu kemarin itu kehamilan di usia lanjut, ya?"
"A-ah, iya."
Setelah mengangguk ragu, aku memasukkan sendok ke atas piring di depanku dan menyendoknya. Lalu memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya. Rasa pedas yang menyengat timbul karena isi di atas piring itu adalah kari.
Padahal tadi aku sedang melamun tenggelam dalam pikiran, tapi nyatanya aku sedang makan siang bersama dua orang temanku di kafetaria kampus. Setelah itu aku lanjut makan dalam diam untuk beberapa saat. Siapa sangka pikiranku bisa bocor keluar lewat mulut tanpa kusadari. Semoga aku tidak melontarkan hal-hal aneh lainnya.Nyam, nyam... Emm, kari seafood ini enak.
"Nama adik perempuanmu sudah diputuskan?"
Orang yang bertanya untuk mengalihkan topik dari masalah umur adalah Mayu. Dia adalah tipe gadis imut berwajah lembut, tapi menurutku di antara kami bertiga dia adalah orang yang paling berpengalaman. Bisa dibilang tipe penakluk atau orang kuat.
"Ditulis memakai kanji 'pelita' dan 'desa', dibaca Akari."
"Akari-chan, ya."
"Namanya bagus, ya~ Kanjinya juga keren!"
"Keren... kah?"
Aku belum pernah melihatnya dari sudut pandang seperti itu.
"Masih mending dibanding Kyoka yang artinya 'Bunga Cermin'."
"Kyoka juga rasanya nama yang masuk kategori keren, kok... Kamu tidak suka dengan namamu sendiri?"
Saat ditanya oleh Mayu, Kyoka menggelengkan kepalanya sambil menggigit roti lapisnya. Tidak sopan, tahu.
"Pelafalannya sih bagus, pelafalannya. Tapi coba lihat, 'Cermin'! Kanji ini jumlah goresannya kebanyakan, tahu! Ditambah lagi dikombinasikan sama kanji 'Bunga'. Yang ini jumlah goresannya kedikit porsi. Waktu ditulis susah banget menyeimbangkan ukurannya, gara-gara itu aku sempat diejek habis-habisan tulisan tanganku jelek banget sampai akhirnya bisa nulis rapi."
Begitu, ya. Aku mencoba menuliskan nama Kyoka memakai kuas di dalam kepalaku dan sedikit bisa memahaminya. Memang benar kanji 'Cermin' itu jumlah goresannya banyak sekali. Kelihatannya sulit untuk menyeimbangkan ukurannya.
"Kalau aku sih tidak terlalu memperhatikannya, ya."
"Itu sih gara-gara namamu Kaneko Mayu! Buat orang dengan nama yang jumlah goresannya seimbang 8, 3, 11, 4 seperti dirimu, kamu mana paham penderitaan pemilik nama Mizukami Kyoka dengan kombinasi 4, 3, 19, 7 ini! Dasar Kaneko Mayu!"
Sambil tersenyum kecut mendengar kalimat Kyoka yang secara inovatif mencaci lawan bicaranya memakai jumlah goresan kanji, aku mencoba melontarkan pertanyaan yang mendadak terlintas di kepalaku.
"Kalian berdua. Aku ingin bertanya sedikit, menurut kalian kalau misal mau punya anak, bagusnya di usia berapa tahun, ya?"
Tangan mereka berdua yang sedang memegang makanan seketika terhenti. Lho?
"Anu... jangan-jangan. Saki, dengan cowok yang kemarin itu..."
"Tidak boleh, lho~ Apa kamu sudah memikirstannya baik-baik? Memang sih ada beberapa orang dewasa yang melontarkan argumen kalau melahirkan di usia mahasiswa dengan bantuan orang tua itu efektif sebagai langkah penanganan penurunan angka kelahiran dan penuaan populasi, tapi zaman sekarang belum maju sampai sejauh—"
Tanpa sadar aku mengulurkan kedua tanganku, menyodorkan telapak tangan di depan wajah mereka berdua untuk menghentikan pembicaraan.
"Bukan begitu!"
Seketika itu juga mereka berdua mengatupkan mulut secara bersamaan.
"Aku tidak sedang membicarakan hal itu. Ini cuma pengandaian. Seandainya kalau mau melahirkan anak, kalian berniat melahirkan di usia berapa, ini cuma obrolan imajiner!"
Setelah keheningan berlangsung sejenak, Kyoka mulai membuka suara.
"Aah, aku sih belum pernah memikirkannya. Kelihatannya merepotkan sekali. Lagipula aku benci rasa sakit."
"Kalau aku sih asal sudah melewati batas garis lulus kapan saja boleh. Soalnya kalau makin cepat melahirkan anak, pihak cowok juga bakal makin sulit buat minta putus, kan."
"Pemikiranmu sadis amat?"
"Masa, sih? Menurutku itu strategi bertahan hidup yang wajar buat wanita, kok."
"Aah, begitu. Paham, deh. Terima kasih ya kalian berdua."
Rasanya jawaban yang kudapatkan agak sedikit melenceng dari apa yang ingin kudengar, tapi kalau bertanya pada mereka berdua, aku sudah punya firasat jawabannya bakal jadi seperti ini. Lagipula setidaknya aku tahu kalau mereka memang pernah memikirkannya.
Bahkan buat Kyoka sekalipun, dia bisa berkata begitu karena setidaknya pernah memikirkannya sekali.
Bagaimana dengan Yuta, atau teman-temannya Yuta, ya? Apakah semua orang kalau sudah menginjak usia seumuran kami bakal mulai memikirkan hal seperti ini? Tapi karena laki-laki punya rentang waktu usia subur yang lebih panjang untuk menghasilkan keturunan, ada kemungkinan mereka bisa bersikap lebih santai. Dibandingkan laki-laki, rasanya wanita mau tidak mau harus memikirkan perjalanan hidup dengan mode fast-forward...
Hal itulah yang kupikirkan sambil menyantap makan siang, sebagai seseorang yang baru saja berubah status dari bukan siapa-siapa menjadi seorang kakak perempuan.
Sore harinya aku cuma ada jadwal 1 mata kuliah, jadi sebelum matahari terbenam aku sudah bisa masuk ke kantor desain tempat magangku, Lucca Design. Studio.
Di kantor, seperti biasa aku menjalankan tugas mirip sekretaris (atau lebih tepatnya seksi sibuk?) untuk Ibu Ruka sang direktur, sembari melanjutkan latihanku di bidang desain. Sebagai murid dari Pakar Desainer senior di kantor, Higashide Yume-san, saat ini aku sedang diajari tentang gambar dan pencahayaan warna.
Hari ini pun begitu tugas sekretaris selesai, masuklah ke sesi bimbingan dari Yume-san.
Yume-san sendiri punya pekerjaannya sendiri, jadi mau bagaimana lagi karena jam kerja operasional tidak bisa dipakai untuk waktu bimbingan. Atau lebih tepatnya, Yume-san sengaja lembur demi memegang peran sebagai guruku, jadi aku merasa sangat bersalah padanya.
"Aah, tidak usah dipikirkan hal-hal seperti itu. Walau tidak ada bimbingan pun aku memang biasa lembur, kok. Lagipula biarpun kubilang mengajari, aku cuma memberikan tugas lalu meninggalkannya begitu saja"
"Memang benar sih aku ditinggal begitu saja."
Gaya mengajar Yume-san sangat kental berbau gaya perkuliahan. Berkat hal itu, aku bisa merasakan secara nyata bahkan di tempat magang sekalipun bahwa kampus adalah tempat untuk melakukan riset secara mandiri.
Secara spesifik, aku lebih dituntut untuk berpikir daripada sekadar menghafal.
Yah, walau begitu katanya dibanding tugas-tugas awal dulu yang terlalu kelewat praktis, sekarang aku diberikan tugas yang sedikit lebih condong ke arah dasar-dasar.
Tapi seperti biasa, beliau cuma melemparkan tugas dengan santai "Nih, coba kerjakan yang ini," lalu aku sendiri yang harus mencari tahu bagaimana cara mengerjakannya sambil menggerakkan tangan mengusahakan sesuatu agar bisa selesai. Begitulah proses yang diulang-ulang. Kalau ditanya beliau pasti mau mengajari sih, tapi karena merasa gengsi aku jadi jarang bertanya.
Meski begitu, dibanding saat awal-awal datang ke kantor dulu, sekarang tanganku sudah bisa bergerak tanpa perlu sering terhenti di tengah jalan.
Walau kalau dibandingkan dengan Ibu Ruka atau Yume-san, aku merasa diriku masih sebatas 'mahasiswa yang baru menyicipi sedikit dunia desain'.
"Lalu, buat tugas hari ini nih ya..."
—Nih ya?
"...Baik."
Yume-san kalau sedang lelah terkadang bahasanya berubah jadi mirip kucing. Kalau diingat-ingat sepertinya hari ini beliau kelihatan sibuk sekali...
"Kita bakal kembali sedikit ke praktik lapangan, lho"
"Ya?"
"Ada proyek baru masuk."
"Aah... baik."
'Proyek' yang dimaksud di sini adalah 'sebungkus pekerjaan yang menghasilkan imbalan'. Sepertinya ini istilah yang sering terdengar di kalangan jagat internet. Apakah ini bahasa gaul yang sedang tren?
"Pihak klien mau mengadakan lokakarya untuk orang tua dan anak."
Lokakarya tersebut sepertinya adalah acara di mana anak-anak akan membuat mobile yang dapat berayun menangkap cahaya menggunakan kertas dan film transparan. Skalanya tidak terlalu besar, jadi jumlah peserta yang ingin dikumpulkan pun tidak terlalu banyak.
"Tapi ukurannya juga tidak sekecil itu sampai-sampai cuma memanggil tetangga kanan-kiri-depan rumah saja sudah cukup."
"Menurutku di kawasan pemukiman Shibuya sudah tidak ada lagi istilah 'tetangga depan' maupun 'kanan-kiri'."
"Bener juga."
"Iya."
Mungkin tadi itu niatnya mau melucu, tapi karena kutanggapi dengan serius, Yume-san bukannya marah melainkan membalas dengan anggukan mengantuk. Beliau benar-benar lelah rupanya.
Ngomong-ngomong, 'tetangga depan' dan 'kanan-kiri' adalah istilah untuk menyebut rumah yang berada tepat di seberang jalan dari rumah kita serta rumah di sebelah kiri dan kanan dari rumah kita. Maksudnya adalah rumah yang letaknya sangat dekat, atau ringkasnya berarti tetangga yang sering berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi di pemukiman Shibuya zaman modern sekarang, jangankan tetangga seberang jalan, bahkan dengan tetangga sebelah rumah sekalipun kalau ditanya apakah sering berinteraksi sehari-hari... jawabannya tidak.
Kalau tinggal di apartemen seperti keluarga Asamura, dari awal mayoritas memang tidak punya istilah 'tetangga depan', dan walau ada rumah di sebelah kanan-kiri, kenyataannya jumlah bertatap muka sejak pertama pindah bisa dihitung dengan jari.
"Maksudku, jumlah pesertanya tidak sebanyak itu sampai harus memanggil orang-orang secara langsung, tahu?"
"Aku paham."
"Makanya, diputuskanlah untuk menyebar selebaran."
"Maksudnya selebaran untuk promosi, ya?"
"Yup, betul. Pekerjaan kali ini adalah mendesain selebaran itu."
Di Lucca Design. Studio, penanggung jawab untuk pekerjaan ini diserahkan kepada Higashide Yume.
Aku membuka jadwal karyawan di dalam kepalaku.
Sebagai sekretaris, harusnya aku bisa melihat seluruh pekerjaan yang diterima kantor melalui alat penjadwalan bersama... Apakah ada di dalam alat manajemen tugas internal kantor?
"...Kalau tidak salah ingat, sepertinya ada pekerjaan singkat berdurasi sekitar 1 minggu yang dimasukkan ke dalam daftar tugas Yume-san."
"Nah, yang itu."
"Aku belum sempat memahaminya secara detail, tapi ternyata desain 1 lembar selebaran itu bisa selesai dalam waktu 1 minggu, ya."
"Ya ampun, mana mungkin bisa selesai secepat itu."
...Eh?
"Tidak bisa selesai?"
"Tergantung jenisnya sih, tapi kalau dikerjakan dengan serius rasanya bakal makan waktu 2 minggu. Kalau cuma 1 minggu, paling baru sampai draf kasar. Ya walau kalau pakai mode super kilat bisa saja didaur ulang dalam beberapa hari sih~ tapi pekerjaan kali ini sepertinya bukan jenis yang seperti itu. Lagipula jadwal yang itu kan pada dasarnya seperti tidak ada saja."
"...Bukankah itu agak berbahaya?"
Sebagai seorang sekretaris, itu adalah kalimat yang tidak bisa kubiarkan begitu saja.
"Aman, kok. Yang menyusun jadwalnya kan Ruka. Dia itu tahu kalau aku tipe orang yang perfeksionis, makanya dia memasang jadwal yang punya banyak ruang longgar. Itu cuma jadwal formalitas di permukaan. Yah, batas waktunya masih bisa dimundurkan sampai dua kali lipat kok."
Ibu Direktur, gawat nih. Di sini ada karyawan yang sejak awal bekerja memakai jadwal rahasia.
"Jangan memasang muka begitu, dong"
"Sebagai sekretaris Ibu Ruka, wajar kalau aku memasang raut muka begini."
"Nyaa Iya deh, aku bakal berusaha dengan benar. Emm. Kalau ada waktu 1 minggu sih santai-santai saja"
Apakah benar begitu, ya?
Yah, lagipula bukan porsiku untuk memusingkan hal itu, sih. Tapi karena berbahaya, aku memutuskan untuk menjadikan progres Yume-san sebagai prioritas utama yang harus kuawasi. Aku menempelkan catatan pengingat di dalam hatiku.
"Nah, soal desain selebaran promosi itu..."
"Ya."
"Sebagai pemanasan, coba Saki-chan buatkan draf rancangan selebaran versi dirimu sendiri."
"Draf... versiku?"
"Bukan berarti aku mau menjiplak draf itu buat leha-leha, lho"

"Bukan berarti aku mencemaskan hal itu, sih."
Desainku yang kualitasnya cuma seperti hasil karya amatir yang sedikit dipoles ini mustahil sampai bisa dipakai—level kantor ini tidak serendah itu.
"Tapi ukurannya pas sekali buat latihan desain."
"Oh, begitu ya..."
"Cuma satu lembar A4. Isi kontennya juga untuk anak-anak, jadi tidak bisa tulis hal yang kelewat rumit. Ah, tentu saja di dalam selebaran yang sama tetap perlu dimasukkan informasi untuk memberi tahu orang tuanya."
Menurut Yume-san, dokumen yang dibutuhkan sudah bisa ditarik langsung dari alat manajemen tugas. Tugasku adalah membaca dan memahami isinya, lalu mencoba membuat draf rancangan selebaran ukuran A4 satu lembar.
"Batas waktunya sampai kapan?"
"Oho, bagus. Bertanya batas waktu dulu. Itu hal yang penting."
"Soalnya aku sudah ditempa, sih."
Sebab, baik dari Ibu Ruka maupun Wada-san yang seperti sosok ayah bagi seluruh karyawan, aku sudah berulang kali ditegur bahwa saat membicarakan pekerjaan, hal yang harus dikonfirmasi pertama kali adalah imbalan dan batas waktu.
"Sementara kuberi waktu 1 minggu, deh. Tapi, setiap hari harus menyerahkan 1 rancangan. Mulai hari ini, satu per satu setiap harinya. Sampai dapat kata 'OK'. Tunjukkan hasil latihanmu ya"
"Baik, aku paham."
Saat mengangguk, begitu mendengar "batas waktunya 1 minggu", rasa kesal mendadak ikut membuncah di dalam dada. Itu adalah batas waktu yang sama dengan yang diberikan kepada Yume-san untuk menyelesaikan selebaran tersebut. Di rentang waktu itu, Yume-san dituntut untuk menyelesaikannya mulai dari draf kasar sampai jadi produk final. Artinya, rancanganku sejak awal memang sama sekali tidak diandalkan.
Peluang untuk diadopsi secara resmi itu nol persen, ini murni sebatas tugas latihan.
Sebagai pemula, aku sadar betul akan ketidakmampuan keterampilanku sendiri. Aku sadar, tapi bukan berarti rasa tidak terima dan kesal itu tidak muncul.
"Ekspresi muka yang bagus."
Mendengar ucapan itu, aku tersentak dan mendongak.
"Saki-chan ini ternyata tipe yang pantang menyerah dan benci kekalahan ya"
Ugh.
"...Mungkin memang begitu."
Saat kubalas begitu, Yume-san mengukir senyum jahil di wajahnya lalu menepuk bahuku pelan.
"Yah, bakal kutunggu hasilnya, ya."
Ucapnya, lalu melangkah menuju mesin pembuat kopi.
Saat menyadari bahwa aku sedang menggigit bibir bawahku sendiri, aku menghela napas pelan. Lalu mencoba mengubah suasana hati. Yah, memang benar aku ini tipe yang benci kekalahan. Meskipun aku tidak terlalu tertarik untuk menang, tapi aku sangat benci jika harus kalah.
Aku menghadap kembali ke layar komputetku, lalu mulai membaca dokumen proyek yang diterima Yume-san.
Aku harus mendapatkan kata 'OK' dalam waktu 1 minggu.
Meski sudah memantapkan hati seperti itu saat memulai, kenyataan ternyata tidak semanis yang kubayangkan.
Di hari yang sama, setelah membuat 3 draf kasar dan memperlihatkannya, 3 draf itu dibeberkan di atas meja lalu aku ditanya:
"Lalu, menurut dirimu sendiri mana yang paling bagus?"
Saat aku menunjuk draf yang di tengah, Yume-san cuma mengambil 1 draf itu dan mengembalikan 2 draf sisanya padaku.
"Kalau aku butuh melihat opsi jumlah, baru aku bakal bilang begitu. Buat kali ini, kalau kamu bisa menunjukkan 1 karya terbaikmu saja itu sudah cukup. Pilih dengan benar ya. Terus, warnanya jangan cuma ditulis keterangan saja, tapi sapukan warnanya langsung."
"Ugh... Baik, paham."
Kalau tujuannya adalah memeras ide, membawa banyak draf memang ada maknanya. Namun baru setelah ditegur aku menyadarinya: saat ini aku sedang berada dalam tahap latihan gambar dan pewarnaan. Memang tidak ada gunanya jika di draf tulisan pensil cuma ditambahi catatan "bagian ini warna merah". Merah pun ada bermacam-macam jenisnya. Alih-alih melahirkan banyak ide, aku harus melatih penataan warna dengan menempatkan warna sementara secara riil pada 1 lembar draf kasar...
Makanya dibanding mengejar jumlah, hal yang dituntut dariku di sini adalah 1 lembar draf kasar yang digambar dan diwarnai dengan benar, yang kupercayai sebagai karya terbaikku.
Aturan ketat "harus memilih satu" di hari pertama ini terasa sangat menyiksa.
Kalau boleh membawa banyak draf, aku bisa menyisakan ruang lega di dalam hati dengan berpikir salah satunya pasti ada yang bagus. Namun begitu dituntut cuma boleh 1 lembar, aku bisa merasakan sudut pandangku saat menilai karyaku sendiri seketika berubah. Di bawah tekanan rasa takut salah pilih, pemikiran seperti jangan-jangan ini masih bisa dibuat lebih bagus lagi? mendadak terus bermunculan.
Hasilnya, biarpun ide yang muncul ada banyak, aku jadi memakan waktu lama cuma untuk memilih mana yang terbaik.
Dari hari ke hari waktu penyerahanku makin molor. Di hari ketiga, waktu yang kubutuhkan untuk membuat 1 lembar draf sudah membengkak dua kali lipat dibanding hari pertama.
Dari sana harus menempelkan materi foto, memasukkan penjelasan, menggambar ilustrasi jika dibutuhkan, menata warna... Kalau sudah begitu, tidak mungkin aku bisa memproduksi draf secara masal seperti hari pertama. Biarpun di level draf kasar sekalipun.
Aku sudah membentur tembok penghalang di awal-awal proses.
Hari itu pun, begitu pekerjaanku selesai sejenak, aku berdiri di samping meja kerja Yume-san sambil membawakan draf kasarku.
"Ini untuk bagian hari ini."
Walau sudah kuperlihatkan, jujur saja aku masih tidak merasa akan mendapatkan kata 'OK'.
Soalnya, tatapan mata Yume-san saat menatap draf kasarku terlihat sangat tajam.
Padahal menurutku ini sama sekali tidak buruk...
Draf kasar hari ini menempatkan foto mobile yang berayun memantulkan cahaya—yang dikirim sebagai materi promosi—secara besar di tengah-tengah. Informasi detail mengenai acara kuposisi dari kanan atas ke kiri bawah secara rapi dan mudah dibaca. Dilihat dari sudut mana pun takes isinya tersampaikan dengan jelas, mudah dibaca, dan menurutku hasilnya tidak buruk.
Benar, tidak buruk. Namun "tidak buruk" itu tidak sama dengan "bagus".
Sorot mata Yume-san masih tetap terasa dingin dan tajam.
Sejak hari pertama situasinya selalu begini.
"Hmm..."
"Tidak bagus... ya?"
Bahuku kembali melorot. Aku sudah bersiap-siap kalau draf ini bakal ditolak lagi hari ini. Selama 3 hari ini, kata yang kudengar dari mulutnya cuma "buat ulang".
"Dengar ya."
Aku tersentak dan mendongak. Kuilrasa dia bakal melontarkan kata "buat ulang" lagi, tapi sepertinya hari ini ada yang berbeda.
"Coba kamu lihat sendiri baik-baik."
"Eh?"
Selebaran itu dibalikkan dan digantungkan tepat di depan wajahku.
Yah, karena sudah kulihat sampai bosan, aku sudah menghafal seluruh isinya, tapi... emm, aku tidak menemukan bagian yang aneh secara menonjol. Rapi, dan walau terkesan membanggakan diri sendiri, menurutku ini selebaran yang tidak buruk.
Tepat, tidak berlebihan, dan mudah dipahami.
"Menurutmu, kalau anak-anak melihat ini, apakah mereka bakal berpikir 'aku ingin datang'?"
Eh?Anu...
Sebelum menyadarinya, aku sudah menatap draf kasar yang seharusnya sudah kuhafal luar kepala itu dengan tatapan mata yang seolah-olah sanggup membakar kertasnya.
Melihat ini—apakah anak-anak bakal berpikir 'aku ingin datang'?
Kata-kata itu bergaung berulang kali di dalam kepalaku. Ingin datang, ingin datang, ingin datang... Kalimat dengan akhiran "...ingin" biasanya dipakai dalam situasi seperti apa, ya? Ingin makan, ingin minum, ingin terbang, ingin berenang...
Itu adalah sebuah keinginan. Saat kata-kata itu diucapkan, dalam istilah yang agak rumit butuh hal yang dinamakan "motivasi intrinsik". Kalau begitu, artinya apa? Yang terpenting adalah: apakah selebaran ini sanggup membangkitkan motivasi intrinsik anak-anak yang melihatnya hingga menggerakkan mereka untuk bertindak?Aku ingin datang! Mampukah selebaran ini memicu pemikiran seperti itu?
"...Itu... anu..."
Di dalam kepalaku, saat itu aku sudah menyadarinya. Ini gagal.
Memang benar selebaran ini dibuat agar mudah dibaca, bahkan anak-anak pun tidak akan kesulitan menangkap isinya. Di bagian penjelasan memang dipakai kanji-kanji yang agak rumit, tapi karena bagian itu ditujukan untuk orang tua, jadi tidak ada masalah.
Akan tetapi, hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan apakah anak-anak yang melihat selebaran ini bakal berpikir "aku ingin datang!" atau tidak.
"Coba kamu jelaskan sendiri~ Buat selebaran ini, di bagian mana dan kalau dilihat dengan cara seperti apa yang bisa bikin anak-anak sampai napasnya memburu, alias mendadak antusias?"
"Rasanya tidak perlu sampai napasnya memburu..."
"Itu kan cuma perumpamaan. Di bagian mana anak-anak bisa merasa 'wah, bikin kerajinan ini kelihatan seru banget!'?"
"...Tidak ada."
"Anak-anak pasti bakal berpikir kalau mobile-nya kelihatan cantik, sih. Foto ini memang dibuat dengan sangat bagus sebagai materi promosi~ Aku paham kenapa kamu mau memakainya. Tapi kan"
"Aku paham. Kesan bahwa hasil jadinya cantik memang tersampaikan, tapi lewat ini kita tidak bisa tahu apakah proses membuatnya itu menyenangkan atau tidak, kan..."
"Betul. Aku juga berpikir begitu."
Aku tidak punya kata-kata lagi untuk membalasnya.
"Lalu, masih ada satu hal lagi yang kurang."
Ugh. Di atas semua ini, masih ada lagi...?
"Apakah orang tua bakal merasa tenang melihat ini?"
"...Boleh aku tanya apa maksudnya?"
Yume-san mengangguk sekali sebelum menjelaskan.
"Contohnya begini Bayangkan ada selebaran acara di mana ada poster gunung dengan lubang gua gelap gulita, di depannya cuma ada jejak kaki dan papan penanda kecil bertuliskan 'Selamat Datang di Pemakaman Tempat Vampir Tertidur', lalu ditulis 'Satu Kali Masuk 500 Yen'."
"Kalau poster film sih aku paham, tapi kalau acara dunia nyata seperti itu, bukankah kelewat mencurigakan?"
"Nah, tepat sekali. Seandainya anakmu sendiri menggenggam selebaran itu lalu bilang padamu, 'Aku mau pergi ke sini!', apa yang bakal kamu lakukan?"
Anak... Contohnya seandainya Akari yang sudah jadi anak SD membawa selebaran seperti itu lalu datang padaku dan bilang, "Kakak!"?
"Kutolak. Mengerikan sekali."
"Kan?"
...Emm.
"Kalau tidak bisa yakin bahwa itu acara yang benar, mana mungkin aku sudi membawa adikku yang lucu ke acara mencurigakan seperti... Ah."
Begitu rupanya.
Selebaran ini ditujukan untuk dilihat oleh orang tua dan anak.
Harus sanggup membuat anak-anak berpikir "aku ingin datang!", dan di saat yang sama harus membuat orang tua berpikir "kalau acara ini sepertinya aman untuk melepas anak ke sana".
"Berarti selebaran yang kubuat ini cuma ditujukan untuk orang-orang yang dari awal memang sudah punya niat ikut acara. Ini cuma sebatas selebaran yang menyampaikan isi acara secara mudah dipahami saja, ya..."
Yume-san mengangguk.
"Membayangkan sosok orang yang akan menerima selebaran itu. Lalu mencoba menempatkan diri jadi mereka, dan melihat ulang selebaran tersebut dari sudut pandang mereka. Ini hal yang sangat penting. Jawaban mutlak berupa 'selebaran yang bagus' itu sebenarnya tidak pernah ada di mana pun, lho"
"...Baik."
"Kalau mau dibahas lebih detail, masih banyak hal lain yang harus dipikirkan. Ada banyak sekali. Contohnya warna atau simbol yang dipakai di selebaran, makna 'mudah tersampaikan buat anak-anak' dan 'mudah tersampaikan buat orang dewasa' itu beda, lho. Selebaranmu yang ini sama sekali belum memikirkan hal itu, kan"
Aku mengangguk dalam diam.
"Yah, berhubung kali ini fokus utamanya di pewarnaan, masalah simbol bisa ditaruh belakangan. Tapi warna yang nyaman dilihat itu tergantung usia, jadi ada baiknya kamu riset soal itu. Tapi yang pertama, mulai dari sudut pandang anak-anak dulu kali, ya."
"Sudut pandang anak-anak..."
"Iya. Karena lokakarya ini kan acara yang diadakan demi anak-anak."
Yume-san mengulangi kalimat terakhirnya itu sekali lagi.
Bahwa jawaban mutlak berupa 'selebaran yang bagus' itu tidak ada.
Apakah sesuatu itu dibilang 'bagus' atau tidak, semuanya tergantung pada siapa target yang dituju.
Jika selebaran ditujukan untuk orang tua dan anak, maka selebaran itu harus bernilai 'bagus' dari sudut pandang orang tua maupun sudut pandang anak-anak. Jika dalam kasus selebaran ini, 'bagus dari sudut pandang orang tua' berarti 'keamanan anak terjamin' dan 'bermanfaat bagi anak', sedangkan 'bagus dari sudut pandang anak-anak' adalah 'kelihatan seru dan ingin coba datang'.
Apakah desainnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga saat anak-anak melihat sekilas lembaran selebaran itu, mereka bisa langsung merasa bahwa itu seru?
Pemikiranku ke arah sana masih sangat amat kurang...
Setelah itu, aku terus memikirkan draf rancangan sampai akhirnya diusir keluar dari kantor karena dinilai kelewat banyak lembur, namun pada akhirnya sampai hari itu berakhir pun ide perbaikan desain tidak kunjung muncul di kepalaku.
Dalam perjalanan pulang, saat tubuhku terayun-ayun di dalam kereta, hal yang mendadak kuingat adalah momen ketika aku pertama kali diajak berkunjung ke rumah keluarga Asamura di Nagano. Di rumah utama saat itu ada anak-anak dari kerabat yang datang. Seingatku mereka masih anak SD. Hal yang membuatku terkejut adalah betapa lihainya Yuta dalam mengemong dan menemani anak-anak itu. Sedangkan aku justru merasa tegang di hadapan anak-anak yang tak kukenal, sampai-sampai tidak bisa mengemong mereka dengan baik.
Yuta seolah-olah tahu apa yang harus dilakukan agar anak-anak bisa merasa senang.
Dia sanggup melihat dari sudut pandang anak-anak.
Deretan gedung pencakar langit di tengah malam terlihat dari balik jendela kereta yang terayun. Pemandangan malam yang sengaja tidak kufokuskan dan cuma kupandang sebagai gumpal pancaran cahaya samar itu kini makin kabur. Begitu menyadari bahwa ini hujan, kaca jendela kereta sudah ternoda oleh bintik-bintik tetesan air. Di balik pandangan yang mengabur itu, tirai warna-warni yang tak lagi berkejelasan bentuk terbentang luas.
Di tengah guyuran hujan yang seolah memberi tahu kedatangan musim hujan, kereta melaju menuju Shibuya sambil memercikkan titik-titik air.
Di balik jendela yang buram berembun, hanya kerlap-kerlip lampu kota malam hari yang berayun lembut kaya akan warna.
Saat menatapnya, pikiranku kembali berkelana mencari ide draf rancangan. Menempatkan diri di posisi orang yang akan melihat desain tersebut. Bahwa sudut pandang setiap orang itu berbeda-beda. Orang tua punya sudut pandang orang tua, dan anak-anak punya sudut pandang anak-anak.
"Bagus dari sudut pandang siapa... ya."
Orang tua. Anak-anak. Pria. Wanita. Orang tua rentan. Atau bahkan... sudut pandang seorang bayi. Kalau mau dibahas secara mendalam, sudut pandang itu ada sebanyak jumlah manusia yang melihatnya. Rasanya sampai ingin pusing membayangkan betapa rumitnya dunia ini. Desain yang bernilai 'bagus' untuk semua orang itu mungkin memang tidak pernah ada.
Namun setidaknya, desain itu harus bernilai 'bagus' bagi orang yang menjadi targetnya.
Benar, sama seperti desain bed merry yang dibuat dengan memperhitungkan sudut pandang bayi yang baru lahir...
Musiknya diputar dengan tempo pelan yang menenangkan, dan mobile yang berputar berayun-ayun itu dirancang agar bisa memancing rasa tertarik bayi yang menatapnya. Itu pun adalah sebuah desain. Benar, seingatku di kertas petunjuk saat membeli barang itu tertulis kalau benda itu dibuat dengan cara seperti itu.
Padahal aku sama sekali tidak memahami apa-apa.
Kereta bergerak bergemuruh gatan-tatan melintasi hujan. Sambil menatap pemandangan malam yang basah tak terlihat dari balik jendela, aku terus berpikir tentang apa artinya melihat karya buatan sendiri dari sudut pandang orang lain, sampai Stasiun Shibuya akhirnya mulai terlihat di depan mata.