Memuat...
Di tengah musim panas Jepang modern, pendingin ruangan (AC) adalah hal yang wajib hukumnya.
Matahari yang terik tanpa ampun merenggut kadar air dari dalam tubuh, dan keringat yang mengalir bahkan ikut merenggut kadar garam. Keseimbangan cairan tubuh yang hancur akan menuntun seseorang menuju gejala dehidrasi. Tanpa perlu dilebih-lebihkan, hal itu adalah awal dari perjalanan menuju alam baka. Maka, nyalakan AC dengan patuh.
...Yah, ini sih sekadar mengutip mentah-mentah kalimat dari Maru, sih.
Bulan Agustus telah tiba, disinari oleh matahari dengan intensitas panas luar biasa yang sanggup membungkam siapa pun hingga terpikat oleh argumen tersebut.
Perkuliahan kampus telah meluncur masuk ke masa liburan musim panas.
Hasil ujian akhir semester bisa dibilang lumayan. Meski begitu, karena di Universitas Ichinose jika nilainya buruk ada kemungkinan tidak bisa mengambil seminar (zemi) yang diincar, bagian yang menuntut kerja keras harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh, kalau tidak, jalan untuk menuntut ilmu di universitas yang susah payah kumasuki ini bakal tertutup.
Yah, setidaknya aku berhasil mengamankan nilai yang cukup untuk bisa menyeimbangkan antara zemi dan kerja paruh waktu secara berdampingan, jadi anggap saja semua aman.
Ayah sudah menyelesaikan masa cuti melahirkannya dan kembali bekerja ke kantor.
Kendati demikian, urusan mengasuh anak masih menuntut banyak tenaga dan waktu.
Akari telah menginjak usia 2 bulan, tapi masa MPASI masih sangat jauh, dia masih terus meminum susu, dan lehernya belum tegak sepenuhnya. Meski begitu, persis seperti yang dikatakan Ibu Tiri Akiko, urusan merawat Akari sejauh ini bisa kami kerjakan secara bergantian tanpa kendali yang memaksakan diri.
Akari yang berhasil melewati pemeriksaan kesehatan bayi usia 1 bulan dengan predikat "Tidak ada masalah, perkembangan lancar", bobot tubuhnya kini telah melonjak hingga hampir 2 kali lipat. Dibilang 'hampir 2 kali lipat' mungkin agak sulit dibayangkan, tapi jika dibeberkan secara konkret, bobotnya setara dengan dua botol plastik besar ukuran 2 liter ditambah setengahnya. Saat diangkat, lenganku merasakan bobot yang mantap. Tinggi badannya pun bertambah hingga 1,2 kali lipat. Dibandingkan dengan bobot tubuhnya kelihatannya tergolong sedikit, tapi sebenarnya, berat itu berbanding lurus dengan volume, dan volume berbanding lurus dengan pangkat tiga dari panjang. Jika tinggi badan bertambah 1,2 kali lipat, beratnya adalah pangkat tiga dari angka tersebut, sehingga jika dihitung hasilnya mendekati 2 kali lipat. Matematika (atau lebih tepatnya berhitung, ya) ternyata ada gunanya juga di kehidupan sehari-hari.
"Sudah makin besar, ya"
Sambil menatap ke arah Akari yang sedang tertidur lelap dengan napas teratur di ranjangnya, di tengah melamunkan hal-hal acak tanpa guna itu aku teringat perjalanan 2 bulan terakhir ini, lalu dari arah ruang keluarga terlihat wajah Saki yang mengintip ke dalam kamar tidur. Hanya lewat gerakan bibirnya, dia memanggilku.
Aku melangkah keluar perlahan dari kamar tidur. Saat kulihat, di atas meja ruang keluarga entah sejak kapan sudah disiapkan es kopi. Lengkap dengan es batu di dalamnya, gelas itu ditaruh di atas alas gelas (coaster) agar embun airnya tidak membasahi meja.
"Terima kasih."
"Kamu masih mau mengerjakan tugas, kan?"
Tanya Saki, dan aku mengangguk.
Aku dimintai tolong oleh Torigoe-san untuk melakukan double check draf manuskrip milik seorang komikus. Aku berniat menyelesaikannya sebelum makan malam.
"Saki juga?"
"Aku mau mengulang bagian materi yang tidak bisa kukerjakan saat ujian kemarin."
Dengan membiarkan pintu antara ruang keluarga dan kamar tidur tetap terbuka agar kondisi Akari bisa diawasi kapan saja, aku dan Saki mulai mengerjakan tugas masing-masing di ruang keluarga.
Ibu Tiri Akiko sedang pergi berbelanja. Padahal aku maupun Saki berpikir bukankah lebih baik kami berdua yang pergi berbelanja dan biarkan Ibu Tiri Akiko yang menjaga Akari, tapi beliau malah berseru, "Kalian berdua kan punya hal yang harus dikerjakan juga," lalu menitipkan rumah pada kami dan bergegas pergi keluar.
Memang benar jika berada di rumah kami bisa mengerjakan tugas sambil menjaga Akari, tapi kalau boleh jujur sebenarnya rasanya menakutkan. Memikirkan bagaimana jika terjadi sesuatu pada Akari sewaktu Ibunya tidak ada membuat hatiku tidak tenang.
Meski begitu, karena sudah ditugaskan, mau tidak mau aku harus melanjutkan pekerjaanku sendiri sambil menjaganya. Ini juga menandakan bahwa kami dipercaya, dan lagipula ada ponsel pintar untuk melakukan kontak darurat jika terjadi apa-apa.
Sesekali aku mendongakkan kepala mengawasi keadaan Akari. Setiap beberapa menit sekali aku beranjak dari kursi dan pergi ke kamar tidur untuk melihat wajahnya. Pembagian fokusku jadi terpotong-potong dalam jeda singkat yang jauh lebih sibuk daripada Pomodoro Timer, tapi manusia adalah makhluk yang sanggup beradaptasi, sehingga aku perlahan-lahan mulai terbiasa dengan ritme itu.
Setelah menuntaskan satu bagian pekerjaan, aku mendesah lega. Meminum es kopi yang esnya sudah mencair dan menjadi dingin suam-suam kuku ke dalam tenggorokan, lalu merenggangkan badan lebar-lebar.
"Kelihatannya bakal sanggup terkejar?"
Tanya Saki yang mendongakkan wajahnya, dan aku mengangguk.
"Titik terangnya sudah kelihatan, sih. Bagaimana dengan bagianmu?"
"Emm, aman. ...Hei."
Meskipun terasa mendadak, perubahan nada suaranya membuatku sanggup menebak kalimat Saki selanjutnya.
"Kamu masih ingat, kan?"
Aku mengangguk sekali lalu bersuara:
"Sudah masuk bulan Agustus, ya."
Bulan yang kami tetapkan sebagai batas waktu penentuan untuk pengakuan (caming out).
Bulan di mana kami memutuskan untuk mengakui hubungan antara aku dan Saki kepada orang tua.
Aku meresapi bahwa dia ingin berkonsultasi mengenai kapan dan bagaimana cara mengungkapkannya.
Dari dalam diriku sendiri, tekad untuk mengakui hubungan antara aku dan Saki kepada Ayah dan yang lainnya sudah tidak memiliki keraguan lagi. Namun melihat raut wajah Saki yang muram, mendadak aku merasa cemas jangan-jangan tekadku ini justru sedang memojokkan dirinya. Aku tidak bisa memaksakan hal yang sama pada Saki. Memasuki tahap ini, aku merasakan ada sedikit perubahan lagi di dalam batin Saki.
Jika tekad untuk mengakui hal ini pada orang tua justru memberikan tekanan stres berlebih pada Saki, maka seberapa pun besarnya penekanan bahwa hal ini adalah sesuatu yang dibutuhkan, dari sisiku aku tidak boleh hanyut menuruti arus secara gegabah.
"Bagaimana kalau kita perpanjang batas waktunya sedikit lagi?"
Mendengar kata-kataku, Saki mendongak kaget seolah tersengat.
"Itu tidak boleh! ...Menurutku, tidak boleh."
Suaranya mengecil tanpa tenaga.Di dalam butir pertanyaan dibutuhkan jalan melarikan diri—
"Mari kita coba pikirkan ulang dengan tenang dari paling awal. Jika tidak ada pembenaran (justifikasi) untuk mengaku, berarti memendamnya dalam diam pun sah-sah saja, kan. Mari kita pikirkan dari sana."
"U... mm?"
"Kenapa kita tadinya berpikir bahwa kita 'harus' mengaku? Kenapa tanpa disadari kita menangkapnya seolah-olah itu adalah sebuah kewajiban? Kenapa bisa begitu, ya?"
Diucapkan begitu, Saki tenggelam dalam pemikiran.
Raut wajahnya yang tadinya muram dan ketakutan seketika melenyap di momen tersebut. Manusia jika mencoba memikirkan hal yang rumit, untuk sementara waktu akan mengesampingkan masalah yang ada di depan mata. Tentu saja ini adalah metode yang hanya mempan untuk Saki yang memang jago dalam hal berpikir. Fakta bahwa dia adalah tipe orang yang menjadikan proses berpikir sebagai wadah pelarian adalah sebuah keberuntungan.
"Emm. Karena Akari lahir..."
Sambil berpikir dia mengucapkannya, lalu merenungkan kembali apa yang diucapkannya dan tenggelam dalam pemikiran lagi.
"Aku menjadi Kakak Perempuan Akari, dan Yuta menjadi Kakak Laki-lakinya."
"Benar."
"Saat memanggilnya pun, aku menyebut diriku sendiri sebagai Kakak, kan."
"Aku pun sama. Lalu, mungkin itu tanpa kesadaran penuh sih, tapi Ibu Tiri Akiko sewaktu ada Akari dan aku sering kali memanggilku sebagai 'Kakak', jadi kata-kata itu pasti tertangkap oleh telinga Akari. Di dalam otak Akari pasti sudah tertanam bahwa aku adalah Kakak Laki-lakinya dan Saki adalah Kakak Perempuannya. Aah, Ayah juga mengucapkan hal yang sama seperti Ibu Tiri, sih."
Kemarin lusa pun sambil menggendong Akari, beliau melakukan dubbing langsung dengan berkata, 『Selamat datang kembali, Kakak』. Apakah orang tua itu memang sering kali berubah menjadi pengguna suara tambahan (dubber) untuk bayinya, ya?
Hal itu sendiri terasa seolah-olah mengambil alih posisi sebagai juru bicara tanpa izin, sehingga sempat membuatku penasaran.
Sebab kata-kata Ayah pasti didengar juga oleh Akari.
Lalu, sewaktu merasa penasaran dan mencarinya, aku sampai pada kesimpulan bahwa jika komunikasi harian terhadap bayi tergolong wajar dan tepat, maka biarpun ada suara tambahan yang agak aneh, celah timbulnya masalah tergolong sangat kecil. Justru meskipun isi responsnya tepat, tapi disampaikan dengan cara membentak, hal itulah yang bakal menimbulkan masalah. Jika mengucapkan kalimat seperti "Waktunya minum susu" tapi disampaikan dengan nada suara kencang yang mengancam, hal itu justru jauh lebih bermasalah. Bayi pada dasarnya belum sampai ke tahap berkomunikasi murni lewat makna kata-kata.
Tentu saja ini sebatas rentang pencarian yang kulakukan sendiri jadi tidak mutlak.
Dan untuk saat ini di rumah kami tidak ada orang yang menimang Akari dengan suara dingin atau bentakan, jadi tidak akan ada masalah. ...Eh, pembahasannya melenceng.
"Tapi, kita ini juga sepasang kekasih."
"Meskipun kita rahasiakan dari Ayah dan Ibu Tiri, sih."
"Kenapa kita jadi berpikir apakah hal itu boleh dibiarkan begitu saja. Maksud pertanyaan Yuta begitu, kan?"
Aku mengangguk.
Selama ini kami merahasiakannya dari orang tua. Jika hal itu memiliki pembenaran, maka terhadap Akari pun dibiarkan dalam kerahasiaan seperti ini kudunya sah-sah saja.
Saat kusampaikan hal itu, Saki memiringkan kepalanya.
"Tapi, menyimpan rahasia di dalam keluarga itu secara umum rasanya tidak bagus, deh."
"Menurutku ada banyak pengecualian, kok. Jika dengan mengaku justru membuat keharmonisan keluarga menjadi hancur, belum tentu hal itu tidak bagus."
"...Maksudmu, kemungkinan untuk putus... masih tersisa?"
"Nah, di situ poin utamanya."
Hal yang disadari maupun tidak disadari sangat ditakuti oleh aku dan Saki.
Justru karena kami mengetahui dari pengalaman masa kecil bahwa tidak ada hubungan asmara antara laki-laki dan perempuan yang abadi, makanya terbentuk sebuah sensasi yang tak tertahankan di akar batin kami yang paling dalam.
"Saat situasi itu tiba, kita bakal terjebak pada pola hidup yang sangat berat: sepasang mantan kekasih yang canggung harus tetap tinggal di bawah satu atap yang sama, tapi secara posisi harus tetap akur sebagai Kakak dan Adik."
"...Rasanya, tidak sanggup, deh."
Bagaimana pun dipikirkan, yang terlintas di kepala hanyalah pemandangan di mana kami berdua menghabiskan waktu dengan serba canggung.
"Ayah maupun Ibu Tiri pasti bakal bersikap dengan serba sungkan pada kita. Hal itu kan membuat suasana rumah jadi tidak enak. Makanya kita tidak bisa memberitahu Ayah dan yang lainnya. Tentu saja penyebab di antara kita berdua bukan cuma ini saja, tapi kesadaran semacam itu pasti ada di dalam kepala kita."
"Emm. Aku paham. Aku pun sama. Di masa-masa itu, aku tidak bisa mengimajinasikan masa depan di mana aku terus bersama Yuta sampai ke depannya..."
"Apalagi saat itu kita berdua masih SMA. Kita belum cukup dewasa untuk bisa menggambar peta bayangan masa depan yang riil, kan."
"Tapi, kalau begitu sekarang kan..."
"Kalau aku, jika memungkinkan aku ingin terus bersama Saki."
Saat kuucapkan hal itu, Saki mengukir senyuman. Agak sedikit membuat malu.
"...Emm. Aku juga, sih. Begitu ya, kalau begitu, alasan kenapa kita yang sekarang tidak membocorkannya pada keluarga bisa dibilang sudah berkurang satu, dong..."
Lalu dia melanjutkan.
"Jika kita ingin Akari menjadi anak yang sanggup berkonsultasi apa saja pada Kakak-kakaknya, maka kita sendiri pun harus menyampaikan hal yang kudunya bisa disampaikan jika kita adalah sebuah keluarga."
"Benar sekali."
"Emm. Paham. Itu adalah alasan kenapa kita tidak bisa mengaku selama ini, dan merupakan motivasi kenapa kita berniat mengaku sekarang. ...Lho?"
"Emm?"
"Tunggu. Ada yang mengganjal."
Saki mengembalikan posisi kepalanya yang miring sambil bersuara seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Alasan kenapa aku tidak sanggup bilang kalau sudah jadi sepasang kekasih dengan Yuta adalah karena jika setelah mengaku lalu kita putus bakal memicu kehidupan di atas papan duri—kalau yang itu aku paham. Tapi bukankah itu adalah pola pikir yang baru muncul 'justru karena kita sudah jadi sepasang kekasih'? Dulu, di masa sebelum memutuskan untuk berpacaran, saat aku baru tersadar kalau menyukaimu, aku pun sudah berusaha menyembunyikannya."
"Aah... Kalau diingat-ingat memang begitu."
"Di paling awal, kenapa aku berpikir harus menyembunyikan perasaan menyukaimu, ya? Padahal aku tahu kita ini saudara tiri. Lagipula di Jepang, biarpun saudara, selama tidak ada hubungan darah kan sebenarnya bisa sampai ke jenjang pernikahan."
Kata 'pernikahan' sempat membuat jantungku berdegup kaget, tapi karena aku memahami isi ucapannya, aku tidak melontarkan komentar apa pun soal bagian itu. Ada hal yang jauh lebih krusial dari itu.
"Karena tadi kubilang mari kita pikirkan ulang dari paling awal, makanya kamu benar-benar memikirkannya dari paling awal dan teringat kembali, ya?"
Emm, dia mengangguk.
"Bukankah alasannya secara wajar ya karena 'saudara', kan?"
"Secara logika mungkin memang begitu, tapi aku tidak bisa mengingat kembali emosinya. Kenapa aku merasa harus menyembunyikannya. Emosi di masa itu kalau sekarang terasa..."
"Maksudmu, kesadaran bahwa kita adalah 'saudara' di dalam diri Saki yang sekarang sudah mulai menipis... Apakah ada bayangan kenapa bisa begitu?"
Saat kutanyai, Saki bungkam dalam diam yang cukup panjang.
Perlahan-lahan sambil merangkai pemikirannya dia membuka suara.
"Emm... Mungkin, belakangan ini gara-gara Yuta tidak ada di rumah, sih. Papa Taichi juga sudah mulai bekerja ke kantor lagi, jadi di siang hari yang ada di rumah cuma aku dan Ibu saja, sekarang."
Selama ini sebenarnya waktu-waktu seperti itu tidak terlalu banyak ada.
Sewaktu Ibu Tiri Akiko masih bekerja sebagai bartender, beliau memiliki pola hidup malam jadi siang dan di siang hari pada dasarnya tidak ada di rumah. Setelah mulai menjalani program kehamilan beliau berubah menjadi ibu rumah tangga penuh, tapi sebelum aku mulai tinggal sendirian, di rumah ada aku juga, sehingga Saki tidak berada dalam posisi berduaan saja dengan ibunya. Setelah aku keluar rumah, Ibu Tiri Akiko mengalami masa kehamilan sehingga percakapan hangat tidak terlalu terjalin. Setelah melahirkan, Ayah mengambil cuti melahirkan sehingga berada di rumah.
Maksudnya, situasi di mana aku dan Ayah tidak ada di rumah, lalu Saki berada dalam durasi waktu yang lama bersama ibunya dan bisa mengobrol secara hangat, sebenarnya adalah hal yang baru-baru ini saja terjadi.
"Makanya, emm—"
"Tidak usah terburu-buru, pelan-pelan saja."
"—Iya, yang belakangan ini sesekali kurasakan adalah sensasi seperti 'kembali ke masa lalu'."
"Maksudmu saat kalian hanya tinggal berdua dulu?"
"Mungkin lebih lampau lagi. Waktu Papa masih pergi bekerja dan usahanya mulai gagal tapi belum sampai ke tahap harus keluar dari rumah yang biasa dikunjungi. Rasanya waktu aku masih SD. Saat pulang ke rumah ada Ibu, dan Papa tidak ada. Aku menceritakan hal-hal yang terjadi di sekolah pada Ibu, dan mendengarnya Ibu tersenyum untukku. Saat kubilang lapar, Ibu bakal bilang mau bagaimana lagi ya sambil membuatkan camilan. Sampai sekarang pun lihat deh, sesekali Ibu masih membuatnya, kan. Itu lho, donat yang tidak ada lubangnya."
Aah... Yang itu, ya.
Saat membuat ayam goreng tepung (karaage), tepung kanji dan air dimasukkan ke dalam mangkuk lalu diaduk. Begitu membentuk adonan bulir, tepung terigu ditambahkan. Cairan kental itulah yang menjadi adonan pelapis. Melumuri daging dengan adonan pelapis tersebut lalu menceburkannya ke dalam minyak goreng adalah proses membuat karaage.
Saat selesai membuat karaage, adonan cairan yang dibuat untuk pelapis terkadang masih tersisa. Ke dalam sisa adonan cairan tersebut dimasukkan gula dan baking powder lalu ditambahkan tepung terigu secukupnya, sehingga menghasilkan cairan dengan tingkat kekentalan yang lebih tinggi. Saat cairan ini disendok lalu diceburkan ke dalam minyak goreng, adonan akan mengembang berubah menjadi gumpalan berwarna cokelat yang empuk.
Ibu Tiri Akiko mengklaim hal ini sebagai "Donat yang tidak ada lubangnya, lho", dan sesekali menyajikannya di meja makan sebagai pengganti camilan. Waktu pertama kali melihatnya aku sempat kebingungan, tapi...
"Waktu pertama kali mendengar ceritanya, aku sempat terkejut mengira adonan itu dibuat dari sisa adonan yang sudah dicelupi daging rawat, lho."
"Kalau yang itu salah paham. Kalau Ibuku, sejak dulu metodenya adalah memasukkan bahan yang mau digoreng ke dalam kantong berklip (Ziploc), lalu mengucurkan adonan cairan ke dalam kantong dan meremas-remasnya. Adonan pelapis bisa tersisa itu gara-gara kalau sudah malas Ibu tidak pernah menimbangnya."
"Begitu rupanya."
"Padahal kalau di tempat kerja Ibu selalu bilang menimbangnya dengan benar, sih. Nah, di masa-masa itu, sewaktu usaha Papa gagal, Ibu tidak punya cukup uang simpanan untuk membeli jajanan mahal, makanya kue itu lumayan sering disajikan."
"Makanan kenangan (soul food), ya."
"Emm?"
"Nggak, bukan apa-apa, lanjutkan."
"Hal-hal seperti itu mendadak teringat kembali sekaligus. Papa tidak ada, dan Ibu ada. Aku dan Ibu terus-menerus membicarakan hal-hal sepele di dalam rumah. Tentu saja sekarang di sana ada Akari, sih, tapi Akari kan belum bisa diajak mengobrol. Saat memasuki sore hari, sinar merah merangsek masuk dari balik jendela, mewarnai bagian dalam rumah menjadi merah, memicu perasaan haru yang sayu. Saat ruangan mulai remang-remang, kami menyalakan lampu kamar dan menyiapkan makan malam berdua. Di momen itulah aku merasa sedikit lega."
Meskipun itu adalah ingatan di masa-masa sulit keluarga, kenangan yang dibeberkan Saki terasa jauh lebih kuat diwarnai oleh kehangatan nostalgia dibandingkan rasa tragis.
"Lalu, saat sedang berduaan saja dengan Ibu, ada telepon masuk atau pesan terkirim dari Yuta..."
"Karena sedang liburan musim panas, aku berpikir apakah lebih baik aku berada di rumah utama setiap hari, sih. Tapi barang-barang yang berhubungan dengan kampus semuanya kutinggalkan di kontrakan."
Pekerjaan paruh waktu pun tentu saja tidak bisa semuanya dikerjakan secara remote. Yang terpenting, kalau secara remote aku tidak bisa mencuri ilmu dari cara kerja Torigoe-san maupun para senior.
"Yah emm, kalau dibilang kesepian sih memang benar, tapi kalau yang itu aku masih bisa menahannya. Cuma, yang mau kusampaikan adalah... emm, saat ini terasa 'biasa' (wajar)."
Bukan memojokkan lewat pertanyaan, melainkan menunggu. Mendampingi. Lalu pihak penerima mengategorikan kata-kata yang telah dibeberkan padanya.
Aku menaruh perhatian pada kesimpulan yang dicapai oleh Saki. Apa nuansa di balik kata 'biasa' tersebut?
Mungkin hal itu ada hubungannya dengan alasan kenapa Saki memasuki tahap ini jadi ingin menghindari tindakan mengaku itu sendiri, atau alasan kenapa dia ketakutan...
"Rasanya mirip seperti pemandangan keluarga sebelum hancur yang kuingat dulu. Seolah-olah jika di masa itu aku tetap bertumbuh jadi mahasiswi lalu punya pacar di kampus, rasanya bakal seperti ini. Tidak sanggup bilang ke Ibu kalau sudah punya pacar, tapi merasa suatu saat nanti pasti bakal memberitahunya. Hal-hal semacam itulah yang kurasakan sebagai sesuatu yang 'biasa'."
"Perbedaan itu datangnya dari mana, ya?"
"Mungkin, karena 'Yuta tidak ada di rumah', sih. Aku berpikir apakah dengan terpisah, 'sensasi bersaudara' dengan Yuta jadi berkurang, ya..."
Artinya, persepsi yang tadinya cenderung menangkap diriku sebagai 'Kakak sekaligus Kekasih'—sebuah hal yang rumit dan terkadang tergolong terlarang—kini telah bergeser berubah menjadi 'Kekasih yang ada di luar rumah'.
"Durasi waktu merasakannya sebagai Kakak Laki-laki jelas-jelas berkurang, sih."
"Begitu rupanya."
Aku jadi sedikit bisa memahaminya.
Dengan terpisah, elemen 'asmara antara kakak dan adik' yang tadinya memojokkan batin Saki kini telah menipis.
Dan di titik itulah kondisinya menjadi stabil.
"Makanya aku takut kalau 'keadaan biasa' ini hancur gara-gara mengaku..."
Saki mengerutkan dahinya lalu mendesah pelan.
"Aku jadi berpikir seandainya urutannya terbalik."
"Urutan?"
"Seandainya sewaktu Yuta masih ada di rumah aku sudah mengaku, secara psikologis mungkin bakal jauh lebih ringan."
"Aah... Karena jika diucapkan bakal jadi lebih lega, ya."
Saat aku dan Saki berada di dalam rumah, di tengah kuatnya sensasi janggal di dalam diri Saki yang memandagku sebagai saudara sekaligus kekasih, jika diakui saat itu maka rasa janggal itu akan terurai sehingga tingkat stres Saki bakal berkurang.
Bisa dibilang dalam kondisi ini mengaku justru memiliki nilai kelebihan. Ya bukannya ada keuntungan konkret secara langsung, sih. Tapi jika doktrin itu ditanamkan, hal itu bisa menjadi kayu bakar pemantik keberanian untuk berterus terang.
Akan tetapi, gara-gara aku berada di luar rumah dan rumah utama berubah menjadi terkesan seperti keluarga 'biasa', di dalam diri Saki timbul risiko baru terhadap tindakan mengaku.
Berterus terang kepada orang tua itu artinya—
—Takut kalau 'keadaan biasa' ini hancur...
Itulah bentuk verbalisasi dari Saki.
Bukan cuma rasa takut kalau tidak bisa diterima oleh Ibu Tiri Akiko saja.
Rasa takut bahwa dengan mengaku, hal itu akan menjadi pemicu munculnya salah satu bentuk masa depan secara konkret pun nyata ada di dalam batinnya.
Masa depan yang mulai kelihatan ujungnya—kehidupan pernikahan.
Rasa takut—terhadap masa depan.
"Kalau begitu kita boleh menunggu sedikit lagi, kok."
Bukannya aku ingin membuat Saki menderita makanya berniat mengaku.
Namun mendengar kata-kataku, Saki menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak boleh. Saat ini Akari bersandar pada kita secara murni dengan seluruh tenaganya. Makanya...!"
Tepat di saat itu, bagaikan disulut api, Akari di kamar tidur menangis histeris.
Kami menghentikan diskusi dan bergegas lari menuju kamar tidur.
Pada akhirnya, tanpa ada kepastian tanggal kapan akan mengaku kepada orang tua, satu hari pun berlalu, hingga tiba di Sabtu pertama bulan Agustus. Aku dan Saki pergi keluar berdua.
Kami turun di Stasiun Roppongi lalu berjalan menyusuri jalur Kereta Hibiya Line menuju arah Kamiyacho.
Di sekitar persimpangan Roppongi 5-Chome kami berbelok ke kanan.
Tak lama kemudian kelihatan tembok susunan bata merah di atas tembok beton. Menyusuri tembok tersebut dalam durasi jalan kaki yang lumayan, terdapat bangunan yang bisa dimasuki dari celah tembok yang terputus.
Yah, kenyataannya kami datang ke sini bukan dengan berjalan kaki melainkan mengendarai mobil, sih.
Meskipun menyetir mobil yang dipinjam dari Ayah membuatku tegang, aku berhasil sampai di area parkir umum di dekat fasilitas tersebut (karena fasilitas itu tidak memiliki area parkir). Di bangunan yang biarpun tidak tinggi tapi terlihat sangat luas itu, acara yang sedang digelar adalah—
"Jadi di sini tempatnya, ya."
—Pameran Horor.
"I-iya."
Saki yang bertindak sebagai pemandu menelan ludahnya kencang. Dia jelas-jelas terlihat tegang.
Ayah yang baru selesai cuti melahirkan sepertinya menumpuk banyak pekerjaan, tapi hari ini libur dan berada di rumah merawat Akari bersama Ibu Tiri Akiko (sebagai gantinya saat libur Libur Obon nanti beliau hampir tidak bisa libur). Maksudnya, akhir pekan depan Ayah mungkin bakal jauh lebih sibuk.
Jika melewatkan kesempatan ini, tidak tahu kapan lagi kami berdua bisa pergi keluar bersama. Berbekal perasaan semacam itu, aku dan Saki mengesampingkan sejenak berbagai pemikiran maupun diskusi kami, lalu melangkah menuju acara 'Pameran Horor' yang ikut dibantu pengerjaannya oleh Saki.
"Eh, antrenya lumayan panjang nih."
"Beneran..."
Begitu komentar jujur atas pemandangan di depan mata meluncur dari mulutku, Saki di sampingku pun melongo menyetujuinya.
Padahal masih ada waktu lebih dari 10 menit menuju jam buka pukul 10 pagi, tapi orang-orang sudah mengantre meluap keluar dari pintu masuk bangunan. Karena antrean mengular dari papan petunjuk 'Pameran Horor', mereka jelas-jelas pengunjung yang mengincar acara ini.
Berada di bawah guyuran matahari awal bulan Agustus, mengekspos kulit di tempat terik yang tersengat sinar matahari langsung terasa perih menusuk. Petugas pemandu mengarahkan barisan pengunjung agar sedapat mungkin berada di area teduh.
Kami berbaris di belakang petunjuk papan genggam bertuliskan "Ujung Antrean Final".
Saki mengeluarkan tisu basah pembersih keringat dari dalam tasnya.
"Nih."
"Terima kasih."
Saat mengusapkan tisu yang dibagikan ke kulit, rasa sejuk terasa untuk sesaat.
Ngomong-ngomong barisannya sungguh panjang. Kuharap pintunya segera dibuka.
"Populer banget, ya."
"Aku juga terkejut... Aah, tapi, novel horor yang diterbitkan tahun lalu oleh penulis yang bertanggung jawab atas worldview pameran ini sepertinya sangat meledak sukses. Mungkin gara-gara itu juga popularitasnya makin naik."

"Hee. Berjudul apa?"
"Emm... ...Apa ya judulnya."
"Penanggung jawab acara kok..."
"T-tapi kan ini novel horor."
"Kamu takut, ya."
"T-tapi hal-hal yang berhubungan sama pameran sudah kuperiksa semuanya kok. Maafkan aku ya kalau belum membaca karya aslinya."
"Yah, lagipula bukan hakku juga untuk memaafkan atau tidak, sih."
Aku tersenyum kecut.
Saki pada dasarnya memang tidak jago menghadapi hal-hal yang berbau horor. Novel horor yang sanggup meresap masuk menenggelamkan pembacanya ke dalam worldview-nya pasti adalah hal yang paling dihindarinya.
"Nama penulisnya aku ingat, kok. Soalnya unik banget. Emm, Chimei-sensei."
"Aah... Mungkin aku tahu, deh. Memang benar-benar karya yang meledak sukses, ya."
Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu sering membaca novel horor, tapi kalau yang itu aku tahu. Karena nama penanya "Chimei" (Nama Tempat) tergolong sangat tidak mirip nama orang, makanya justru membekas di ingatanku. Seingatku judul novelnya juga sangat tergolong orisinal.
Adat istiadat unik yang hanya diwariskan di pulau-pulau kecil daerah Setouchi mendadak terputus total sejak kurun waktu tertentu setelah Perang Dunia II. Mengikuti misteri tersebut, tokoh utama yang merupakan seorang wartawan reportase mengelilingi pulau-pulau hingga akhirnya terlibat dalam kejadian ganjil... kelihatannya begitu. Karena belum membacanya aku tidak tahu detailnya, sih.
Karya ini pun konon dipicu oleh video singkat pembahas buku di media sosial sehingga mendadak laku keras di toko buku, dan sejak ledakan sukses karya tersebut, beliau terus-menerus menerbitkan novel horor secara berturut-turut.
Menurut penjelasan yang dibeberkan Saki, Chimei-sensei adalah seorang penulis yang sangat sensitif terhadap emosi bernama 'rasa takut'. Beliau menyuplai banyak sekali ide yang mengikuti konsep milik Akihiro Ruka-san yang mendesain acara ini.
"Rasanya benar-benar dibuat jadi seram banget, lho."
Ditambah lagi, Pameran Horor ini melibatkan banyak seniman yang namanya sudah dikenal luas, dan gara-gara agensi periklanan raksasa ikut terlibat secara intensif, pameran ini jadi viral (buzz) terutama di TikTok.
Begitulah yang diucapkan Saki, lalu dia menyebutkan beberapa nama seniman dengan lancar, tapi bagiku tidak ada satu pun yang kuketahui. Fakta bahwa aku sekadar tahu nama novelis Chimei-sensei itu murni karena aku hobi membaca buku saja.
Aku tersadar bahwa diriku ternyata tidak begitu jago dengan genre horor.
"Nama besar Ruka-san sebagai concept artist juga makin naik, lho."
Kon... apa tadi?
"Concept artist. Sosok yang saat mengadakan acara ber-tema seperti ini, bertugas mengusulkan tema tersebut, atau memikirkan cara penyajian yang memiliki kesan menyatu sesuai dengan temanya. Pekerjaannya adalah menentukan bagaimana seni bermotifkan rasa takut diperlihatkan kepada pengunjung."
"Begitu rupanya. Dan Saki ikut membantu sebagian dari tugas itu, ya. Hebat banget."
Saat kuucapkan hal itu, dia menggelengkan kepalanya dengan sangat kencang.
"Memang wajar sih kalau kamu berpikir begitu soalnya aku belum menjelaskan detailnya, tapi aku itu... cuma ikut membantu demi meneliti bagaimana respons dari para pengunjung saja, kok."
Saki sepertinya diperlihatkan seluruh 'Seni Horor' yang dipamerkan di sini sebelum acara dibuka.
Tentu saja karena Saki penakut, setiap kali diperlihatkan dia bakal menjerit, memalingkan wajah, atau merinding ketakutan, tapi dengan melihat reaksi Saki itulah para seniman dimintai tolong untuk melakukan penyesuaian pada karya mereka.
"Maksudnya, kamu bertindak sebagai tester, begitu?"
Aku membayangkan sesuatu seperti test player pada gim. Sepertinya kurang lebih semacam itu.
"Kata Ruka-san: Ini mirip seperti pengetes rasa makanan yang bakal disajikan di restoran yang baru buka, tahu."
"Pengetes rasa ketakutan..."
Meminta Saki yang penakut melakukan hal semacam itu...
"Di perusahaan kami cuma ada sedikit orang yang penakut, dan karena mereka mau tahu reaksi segar dari pengunjung awam makanya minta tolong padaku. Gara-gara alasan itulah makanya aku tidak bisa dibilang kelewat ikut membantu, kan."
Perusahaan desain tempat Saki magang, Lucca Design. Studio, jika dihitung dari sang presiden, Akihiro Ruka-san, jumlah karyawannya secara keseluruhan bahkan tidak sampai 10 orang—sebuah perusahaan kecil. Kendati demikian, apakah orang-orang di sana memang setahan itu terhadap hal-hal yang menakutkan...?
Saat aku menatap Saki sambil berkata "Pasti berat banget ya", Saki menyentak badannya bergidik sekali sebelum akhirnya menjawab, "Berat banget."
Jam buka pintu tiba dan barisan mulai bergerak.
Padahal hari masih memasuki pagi hari, tapi dari area luar yang udaranya terasa bikin lemas akibat sengatan panas, kami akhirnya masuk ke dalam bangunan yang ber-AC dingin. Saat hembusan angin pendingin ruangan menerpa kulit, keringat seketika surut dalam sekejap.
Aku menyapu pandangan ke brosur yang dibagikan di pintu masuk.
Tema dari acara ini sepertinya adalah Kematian dan Kebangkitan Kembali—Reinkarnasi (Rinne Tensho).
"Begitu rupanya. Wisata Tainai-meguri (Menelusuri Rahim), ya."
"Iya, benar. Aku juga sempat berpikir begitu."
Karena Saki jago dalam pelajaran sejarah, wajar jika dia bisa langsung tersadar. Tainai-meguri adalah bentuk ziarah dan latihan spiritual tradisional yang sudah ada sejak zaman dulu. Melewati bagian dalam patung Buddha yang berlubang, masuk dan keluar dari gua yang memiliki atmosfer sakral, atau melewati selipan batu-batu besar.
Ruang-ruang sempit dan gelap semacam itu diandaikan sebagai 'rahim ibu' untuk dilewati.
Merekonstruksi kembali situasi di mana seorang bayi melewati jalan lahir untuk terlahir ke dunia ini.
Berjalan di ruang yang sempit dan gelap gulita, lalu keluar kembali ke dunia luar yang terang benderang, menciptakan perasaan seolah-olah telah mati sekali untuk kemudian terlahir kembali menjadi sosok yang baru. Hal ini dinamakan Kebangkitan dari Kematian Semu (Gishi Saisei), dan tindakan serupa tersebar di seluruh dunia tanpa memandang belahan Barat maupun Timur.
Seiring bertumbuh dewasa, manusia akan terlumuri oleh hal-hal keduniawian. Makin menua, saat membandingkan sosok diri yang telah melintasi kurun waktu perjalanan tahun dengan nyawa yang baru saja lahir, manusia pasti berharap ingin meluruhkan daki keduniawian yang mengendap di jiwa dan raganya agar menjadi bersih kembali. Makanya, tindakan seperti Tainai-meguri ini dilakukan.Pameran Horor ini bisa dibilang adalah Tainai-meguri versi modern. Meskipun makna keagamaannya telah memudar dan berubah menjadi sarana hiburan, sih.
Panah bertuliskan 'Rute' tertempel di dinding.
Bagian dalam bangunan disekat memakai partition, dibuat menyerupai labirin. Bagian yang menjadi pintu masuk berupa lorong sempit dengan tingkat pencahayaan lampu yang diturunkan.
Karena kondisinya ramai, jarak antara bagian depan dan belakang tidak bisa terlalu renggang. Meski begitu, petugas pemandu yang berdiri di pintu masuk sempat menahan pengunjung yang tiketnya sudah disobek demi memasukkan mereka secara perlahan.Begitu rupanya, ini beneran diterapkan secara konsisten, aku terkagum-kagum.
Jika keberadaan orang lain di depan maupun belakang terasa, hal itu sendiri akan mengikis rasa takut. Aku merasakan niat kuat dari pihak penyelenggara yang ingin agar pengunjung benar-benar merasa takut.
Di saat yang sama aku menyadari bahwa lokasinya tidak dibuat kelewat gelap gulita. Mungkin ada juga pertimbangan untuk mempertahankan fungsinya sebagai pameran karya seni.
Jika menaruh pengunjung di atas kendaraan yang statis lalu meluncurkannya dengan kecepatan tinggi di dalam kegelapan total, menjejal pengunjung dalam jumlah banyak tentu sangat memungkinkan (karena makin gelap, keberadaan orang lain biarpun berdempetan bakal makin sulit terdeteksi), tapi jika begitu itu sih wahana di theme park. Waktu untuk menikmati karya secara cermat bakal hilang. Tempat ini bagaimanapun juga adalah pameran seni, dan para seniman yang berpartisipasi tentu ingin karya mereka dinikmati dan ditatap secara cermat.
"Kalau begitu, silakan menikmati dengan santai, ya."
Didorong oleh kalimat dari petugas pemandu, aku dan Saki melangkah masuk ke lorong yang remang-remang.
Saki di sampingku menelan ludahnya kencang.
"Anu... Saki kan sudah tahu seluruh isi pameran ini, kan?"
"Aku sudah melihat cetak birunya, dan setelah dipasang aku juga sudah berkeliling memeriksanya bareng Ruka-san."
Berarti, di mana dan apa yang bakal muncul sebagai kejutan pun dia sudah tahu semuanya.
"Hal yang menakutkan itu mau tahu apa yang bakal datang pun tetap saja menakutkan, tahu. Gempa bumi atau petir pun, biarpun tahu bakal datang kan tetap saja takut, kan."
Saat melihat Saki yang menyengkerutkan bahunya karena tegang, rasa takut itu sendiri ikut merambat sampai ke sisiku. Apakah bakal aman-aman saja, ya?
Menyeberangi lorong sempit dan remang, ruang kecil pertama yang kami capai dipenuhi oleh pancaran cahaya lampu merah, menyerupai ruang berkarpet tatami di rumah tradisional Jepang. Ruang kecil yang terwarnai merah itu, jika tidak menyadari lantai linoleum yang licin di bawah kaki, bisa membuat seseorang berhalusinasi seolah-olah telah melompat melintasi waktu kembali ke era Showa.
Di area dinding yang terpotong lebar menyerupai jendela, tertempel lukisan yang menggambarkan pemandangan desa pertanian.
Jika dilihat dengan pandangan mata yang tenang dan rasional, di sudut lukisan tertempel nama karya, nama seniman, beserta teks penjelasan singkat. Jika hanya melihat bagian itu saja, ini terlihat seperti pameran seni biasa. Terlihat biasa, tapi—
"Ini sih dari karya pertama saja sudah langsung intens..."
Di langit desa pertanian yang mengindikasikan senja, mengapung sebuah bola mata yang sangat besar. Ditambah lagi, bola mata itu terlumuri darah kental secara pekat. Di tengah pemandangan senja yang temaram, darah merah pekat itu terlihat merah kehitaman, meluap menetes jatuh dari bola mata ke permukaan tanah. Dan di permukaan tanah yang kutinggali sebagai ladang, tumbuh rumpun bunga Manjushage (Spider Lily). Sudah menakutkan dari awal.
Judul karyanya adalah 『Jangan Menoleh ke Belakang』.
...Emm. Maksudnya apa?
Bahu Saki menegang, tapi dia tetap menatap karya tersebut. Padahal tidak usah ditatap secara memaksakan diri begitu, saat aku memikirkan hal itu aku baru tersadar akan kejanggalannya. Bukan. Ini bukan sedang menatap. Dia sedang mengalihkan pandangannya. Kalau begitu, dia sedang mengalihkan pandangan dari apa?
Di samping lukisan yang terpajang di depan ruang kecil yang kami masuki sesuai rute, lorong yang menuju ke tahap selanjutnya sudah kelihatan, dan jelas-jelas kami tinggal melangkah lurus ke sana.
Lorong di depan langsung berbelok ke kanan, dan emm, ini tuh...
Sambil melangkah maju ke depan, sewaktu berbelok, dengan takut-takut aku menoleh melirik ke balik bahuku.
Sisi ruang kecil yang tidak kelihatan yang tadinya kutinggali sebagai tembok tatami di empat sisinya—di sana, di seluruh permukaan dinding tergambar sebuah wajah raksasa.
Wajah besar yang kehilangan bola matanya. Garis darah merah mengalir di pipinya. Dua rongga hampa yang kosong menatap tajam menancap ke arahku.
Sambil menahan jeritan secara paksa, aku berbelok ke kanan menyusuri lorong.
"K-kamu melihatnya?"
"Iya. Yah, ...eh, bukankah kalau melangkah lurus tadi hal itu tidak bakal kelihatan?"
"Kata Ruka-san: Itu bonus khusus buat orang yang menoleh ke belakang, tahu."
Tidak, bonus semacam itu tidak kubutuhkan.
Setelah itu pun, dengan berganti-ganti metode dan barang, berbagai macam pajangan terus-menerus bermunculan berulang kali.
Potongan artikel surat kabar berukuran besar yang diperbesar lalu tertempel di dinding. Di judul artikel tertera kalimat-kalimat provokatif mengenai insiden maupun kecelakaan tragis yang mengerikan.
"...Artikel surat kabar ini, katanya semuanya asli, salinan dari back number yang tersimpan di perpustakaan, lho."
"Rasanya ada pembantaian satu keluarga, racun, sampai penganiayaan..."
Di ruangan selanjutnya, terpatri patung-patung pameran yang mengingatkan pada zaman kuno sekitar era Jomon.
Sesuatu seperti Dogu (patung tanah liat) atau Haniwa, hal-hal semacam itu. Permasalahannya adalah bentuk dan wujudnya yang aneh (abnormal). Di dunia nyata memang ada Shakoki-dogu yang kelihatannya seperti memakai kacamata raksasa, Haniwa bertopeng dewi berbentuk segitiga terbalik, atau Dogu berbentuk burung hantu, sih.
Namun patung-patung yang dipajang di ruangan itu, meskipun menirukan bentuk tubuh manusia, di suatu tempat memancarkan kejanggalan yang terdistorsi secara halus, tubuhnya terulir meliuk, atau dari bagian yang dianggap wajah justru tumbuh anggota tubuh manusia yang lain. Saat melangkah maju, perlahan-lahan aku tersadar bahwa patung-patung aneh itu berjejer seolah-olah sedang bersujud menyembah ke arah bagian dalam. Di titik yang dituju oleh pandangan mata patung-patung itu, ditaruh sebuah boneka yang ukurannya sedikit lebih besar dari yang lainnya.
Boneka anak perempuan bergaya Barat yang sangat tidak cocok berada di tempat ini. Boneka tanah liat tanpa lapisan (bisque doll). Boneka besar yang biasa disebut bisque doll itu terbalut busana hitam bergaya Gothic dan tersenyum tenang.
Kelihatannya benar-benar seperti majikan wanita yang disembah oleh banyak pelayan.
Hal itu saja sudah cukup membuatku merasa takut, tapi yang bikin kaget adalah sewaktu aku melewati boneka gadis tersebut.
Saat memutar ke belakang boneka tanah liat itu, bagian punggungnya terbelah dua tanpa busana seolah terpotong rapi, memperlihatkan bagian dalam tubuh gadis itu yang kosong melompong.
Tanpa sadar aku menelan ludah kencang.
Majikan wanita yang disembah oleh patung-patung aneh itu ternyata bagian dalamnya hampa melompong.
"Kenapa bisa terpikirkan hal semacam ini coba..."
Di momen itu, Saki secara panik menutup kedua telinganya memakai tangan.
Tanpa jeda, suara yang ikut terdengar oleh telingaku adalah suara tangisan bayi ber-volume halus yang mengalir dari pengeras suara yang tersembunyi di suatu tempat—...
Tanpa disadari kulitku merinding dan keringat mengalir di tulang punggung.
Saki menggantungkan tangannya di lenganku erat-erat.
"A-ayo cepat jalan?"
"Aah. I-iya, benar..."
Sesuatu seperti jumpscare mencolok yang biasa terlihat di rumah hantu memang tidak ada, dan karena ini pameran karya seni, jika dilihat baik-baik setiap pajangan memiliki nama pembuat, nama karya, beserta penjelasannya secara rapi, sehingga rasa takutnya berkurang di titik itu, tapi biarpun begitu seperti yang diucapkan Saki, hal yang menakutkan mau tahu pun tetap saja menakutkan.
Saat mengelilingi ruangan-ruangan, memang terasa seolah-olah ada alur cerita di balik deretan karya-karya ini.
Sebuah desa di awal era Meiji, jajaran insiden aneh dan mengerikan, satu-satunya bangunan bergaya Barat di desa tersebut beserta majikan wanitanya, hingga nuansa adat kebiasaan kuno yang diwariskan sejak era purba...
Mungkin karena mengusung tema Kematian dan Kebangkitan Kembali, wujud desa tua yang menuju kehancuran akibat dosa dan kejahatannya sendiri, serta nuansa kematian yang menumpuk makin pekat saat memasuki bagian akhir.
Dan akhirnya misteri mengerikan itu terkuak.
Sama sekali tidak ada deskripsi penjelasan alur cerita latar belakang, dan ini murni sebatas hal yang bisa dirasakan secara samar dari karya seni bertemakan ketakutan dari masing-masing individu, tapi cerita latar belakang yang kubaca adalah kurang lebih seperti ini:
Mungkin sekitar awal era Meiji saat arus modernisasi (Bunmei Kaika) masuk.
Sebuah keluarga asing pindah ke desa pertanian yang sepi. Keluarga berambut pirang dan berkulit putih itu mengendarai mobil (sepertinya mobil impor) yang tidak dimiliki oleh satu pun warga desa, dan mempercantik diri dengan busana Barat yang indah. Anak perempuannya sangat cantik layaknya boneka dari negeri asing, dan dipandang dengan rasa penasaran serta kekaguman oleh warga desa.
Anak perempuan dari keluarga itu dan seorang pemuda desa jatuh cinta. Keduanya berikrar untuk menikah, tapi desa eksklusif yang terikat oleh aturan kuno tidak mengizinkan pernikahan antara pemuda dan gadis tersebut.
Suatu hari, pemuda itu secara sepihak diberitahu bahwa keluarga gadis tersebut telah pergi meninggalkan desa.
Si pemuda tidak percaya. Sebab gadis itu saat itu sudah mengandung anak si pemuda dan berada dalam kondisi hamil tua.
Saat mencari gadis dan keluarganya, pemuda itu mengetahui bahwa orang tua si gadis yang melawan warga desa yang mendesak mereka pergi, ternyata telah tewas di tangan warga desa, dan si gadis telah dikurung di bawah tanah. Di dalam penjara bawah tanah si gadis melahirkan anak, tapi si gadis beserta bayinya tewas secara bersamaan saat persalinan.
Pemuda yang kehilangan akal sehatnya membakar desa lalu dirinya sendiri melompat ke dalam kobaran api.
Warga desa yang tersisa sedikit pun pergi meninggalkan desa, dan dengan begitu tanah tersebut berubah menjadi padang tandus yang seluruh permukaannya tertutupi oleh bunga Manjushage.
Seolah menyimbolkan akhir cerita yang tidak terselamatkan, ruangan di mana empat sisi dindingnya diproyeksikan gambar api dan bunga Manjushage secara optik itu sepertinya dipasangi sensor di lantainya, sehingga setiap kali melangkah, api dan bunga merah akan bergoyang merespons pergerakanku. Ditambah lagi di tempat-tempat tertentu bahkan terdengar suara tangisan terisak dengan sangat niat. Seram, seram, seram banget.
Karena tidak sanggup bertahan lebih lama lagi aku keluar dari ruangan.
Suara ratapan dendam seolah mengejar dari belakang, sehingga saat masuk ke ruangan kecil selanjutnya yang tidak memiliki pajangan apa pun—hanya terwarnai merah dan ukurannya cuma sekitar 2 petak tatami saja—aku sampai merasa lega. Fiuh, sepertinya di sini bisa beristirahat sejenak.
Lenganku mendadak terasa ringan. Saki yang tadinya menempel di sampingku... atau lebih tepatnya menggenggam erat lengan bajuku dan bersandar seolah bergantung padaku saat berjalan, melepaskan lengannya dan menatap ke arahku.
"Emm."
"Ada apa?"
"Berikutnya yang terakhir."
Bisiknya pelan sambil menunjuk ke arah lorong sempit yang dijepit oleh dinding hitam yang tersambung dari ruang merah.
"Akhirnya sampai juga, ya..."
Diriku merasa lelah dan terkuras. Ternyata rasa takut itu menguras tenaga fisik juga, ya.
"Di sebelah sana, dibuat cuma bisa dilewati satu orang saja, lho."
Diucapkan begitu, aku melihat ke arah lorong sekali lagi.
Begitu rupanya, lorong sempit yang dijepit dinding hitam itu memang tidak sanggup dilewati oleh dua orang yang berjalan bersandingan.
Aku tersadar bahwa di paling akhir ini maksudnya adalah Tainai-meguri.
Dari sana aku memahami alasan kenapa Saki melepaskan pegangan di lenganku. Memang lorong sempit itu tidak akan sanggup dilewati seberapa rapat pun kami menempel. Tidak ada cara lain selain berpisah dan berjalan satu per satu. Yah, karena ini Tainai-meguri, wajar saja jika begitu. Kalau bisa dilewati sambil bergandengan tangan, melompat-lompat, dan bersenandung, materi aslinya tidak akan bisa dijadikan ritual keagamaan.
Kendati demikian—
"Kalau cuma menuntun memegang tangan sih sepertinya bisa, kok."
Meskipun berjalan sejajar di samping tidak memungkinkan, tapi jika berbaris satu deret memanjang sambil bergandengan tangan rasanya masih sanggup untuk berjalan.
Lokasi ini tidak se-ekstrem Tainai-meguri di dunia nyata. Bagaimanapun juga ini adalah pameran seni, jadi jika terdesak pasti ada jalan keluarnya.
"E... mm. Tapi..."
Dahinya berkerut dan dia memasang raut wajah seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kata Ruka-san: Karena aku mau sudut pandang dari orang yang penakut, jadi biarkan saja begitu tidak apa-apa, tapi ada hal yang sempat kupikirkan saat itu..."
Memikirkan orang yang datang dari belakang, tidak ada waktu untuk mengobrol dengan santai. Tepat seperti dugaan, pengunjung di belakang kami melangkah masuk ke ruangan. Aku dan Saki merapat ke sudut ruang sempit dan mempersilakan mereka mendahului kami.
Setelah melepas orang yang datang belakangan itu pergi, Saki melanjutkan obrolannya.
"Saat itu pun aku berpikir, hanya gara-gara takut bukan berarti Yuta bakal selalu ada di sisiku, kan, dan kalau begini terus rasanya aku bakal jadi sosok yang kelewat manja."
"Kalau Saki sih menurutku tidak akan sampai seperti itu, kok."
Saat kuucapkan hal itu, Saki menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri sejauh itu. Makanya, aku tidak mau terus-menerus jadi orang yang tidak sanggup mengatasi hal-hal sendirian. Aku mau menambah hal-hal yang bisa kukerjakan sendiri."
Aku kembali menyadari bahwa hal-hal semacam inilah yang membentuk sosok Ayase Saki.
"Makanya, setidaknya di bagian terakhir ini aku mau berjuang."
Ucapnya sambil menatap lurus menancap ke arahku.
Kendati demikian, membiarkannya sendirian secara mendadak pun rasanya tidak tega.
"Paham. Kalau begitu, aku berjalan di depan duluan. Kamu boleh menjulurkan tanganmu kapan saja, ya."
Setelah menjulurkan tanganku ke belakang agar bisa digandeng kapan saja, aku melangkah masuk ke lorong sempit bernuansa hitam. Dengan begini punggungku bakal tertangkap oleh matanya, sehingga biarpun gelap setidaknya bisa memberikan sedikit suntikan semangat.
Lorong yang dijepit oleh dinding bercat hitam ini pencahayaannya diturunkan sampai batas maksimal, sehingga jika menurunkan pandangan mata ke bawah kaki, hanya panah yang tergambar memakai cat menyala (luminous paint) saja yang kelihatan samar-samar. Jika kubilang rasanya seperti berjalan di dalam bioskop yang gelap gulita mungkin kamu bisa memahaminya.
Saat melangkah, dari pertengahan jalan suara-suara aneh mulai terdengar dari segala arah.
Suara itu perlahan-lahan makin membesar. Dung... dung...
Ter dengar jelas sebagai sebuah suara, dan aku tersadar bahwa itu adalah suara detak jantung dalam rahim (taido-on).
Suara yang kudunya pernah didengar sewaktu berada di dalam perut ibu.DUNG!
Suara yang sangat keras menghantam gendang telinga.
Saat tersadar, lorong sempit itu terputus secara mendadak di bagian ujungnya, dan aku keluar menuju pendar cahaya yang terang benderang.
Saat menyipitkan mata gara-gara silau, di depan kelihatan bayangan seseorang. Seseorang sedang berdiri menghadap ke arah sini.
Aku sempat kaget sejenak, tapi seiring mata mulai terbiasa, ternyata bukan apa-apa, aku tersadar bahwa itu adalah sosok diriku sendiri yang terpantul di cermin.
Meskipun ini adalah arahan (directing) yang terbilang biasa, tapi sangat efektif.
Ini adalah hal yang baru kuketahui setelah membaca brosur belakangan, tapi keluarga asing yang dianggap seluruh anggotanya tewas itu, anak yang lahir sebenarnya disembunyikan oleh warga desa yang membantu persalinan dengan menganggapnya telah tewas. Anak yang bertahan hidup itulah yang kembali ke tanah kelahirannya dan mulai mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya—itulah alur cerita secara keseluruhan.
Membaca akhir cerita yang hanya tertulis di brosur tersebut, pengunjung pameran di bagian paling akhir tersadar bahwa sosok yang terpantul di cermin itu adalah si anak yang berhasil bertahan hidup tersebut. Pameran ini pada dasarnya adalah sebuah perjalanan untuk mencari akar asal-usul diri sendiri.
Syukurlah setidaknya ada sedikit akhir cerita yang menyelamatkan.
Di saat yang sama ketika aku merasa lega, dari balik punggung terdengar suara "Kyaa!", membuatku bergegas menoleh ke belakang.
Saki yang matanya kesilauan akibat intensitas cahaya yang mendadak terang benderang tampak tersandung dan jatuh terhuyung ke arahku.
Aku menangkapnya di detik-detik terakhir.
Saat menopang Saki yang terjerembet ke dalam pelukanku, dia melontarkan kata "Maaf". Dia menegakkan wajahnya yang sedikit merona lalu menatap ke depan menembus tubuhku dan menelan ludah. Setelah itu dia menghembuskan napas lega yang lega.
"...Aah. Cermin? Oh begitu, ya... kan..."
"Mau tahu pun hal yang menakutkan tetap saja menakutkan, kan?"
"Yah memang begitu sih..." Setelah menarik napas dalam-dalam secara maksimal dia bersuara dengan nada menyesal: "Padahal tinggal sedikit lagi."
Di samping cermin besar terdapat tulisan 'Pintu Keluar', dan suara riuh orang-orang mulai terdengar. Saat kulihat, area setelah titik tersebut ternyata adalah area penjualan merchandise (souvenir shop).

"Selesai di sini, ya."
Saat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, waktu menunjukkan tepat tengah hari.
Itu artinya kami sudah terus-menerus berjalan selama sekitar 2 jam.
"Emm, bagaimana ya. Kamu lapar?"
Saki memasang raut wajah lelah terkuras. Wajar saja jika kubpikir ini mungkin berat baginya, tapi dengan suara pelan dia menjawab: "Lapar."
"Kelihatannya ada area kafe juga sih, mau bagaimana?"
"Mungkin aku mau jalan-jalan di luar sebentar, deh."
"Kalau begitu ayo cari tempat makan di suatu tempat."
Saat melangkah keluar dari dalam bangunan, terik sinar matahari yang tanpa ampun langsung menyengat mengguyur.
Uasana sejuk dingin tadi rasanya bagaikan kebohongan belaka. Saki mengeluarkan payung lipat penahan panas yang dibawanya. Dengan bunyi kepakan ringan, payung itu terbuka.
"Mau bagaimana? Mau masuk?"
"Terima kasih. Kalau begitu, biar aku yang pegang payungnya."
Meskipun tidak terlalu besar, aku membentangkannya di atas kepala kami berdua agar sebisa mungkin berada di dalam naungan payung.
Sambil berjalan, kami melontarkan kesan-kesan pameran tadi sedikit demi sedikit.
Dan begitu obrolan sampai di bagian paling akhir di mana dia tersandung lalu bergantung padaku, sepertinya hal itu benar-benar membuatnya merasa menyesal, sehingga setelah berseru "Aku dibantu Yuta lagi, deh", dia menggelengkan kepalanya seolah memprotes dirinya sendiri.
"Tidak usah terlalu dipikirkan begitu, ah."
"Tapi kan kalau di saat darurat, aku mau bisa melakukan apa saja sendirian."
Mendengar kata-kata Saki, mendadak aku teringat pemikiran yang sempat terlintas saat berkonsultasi dengan Aizawa-san dulu.
—Bayi biarpun menangis tanpa kesadaran penuh, pasti akan ada orang yang datang mendekat. Akan tetapi, seiring bertumbuh besar, manusia dituntut untuk berdiri di atas kakinya sendiri, dan sebagai hasilnya mereka perlahan-lahan lupa cara untuk menangis.
Dan akhirnya, biarpun ada uluran tangan di depan matanya, mereka jadi tidak sanggup untuk bergantung darinya.
Hal itu—bukankah sebenarnya gawat jika dibiarkan?
"Bisa bergantung dengan lihai di saat darurat pun sepertinya merupakan skill yang dibutuhkan juga, lho."
Saat kuucapkan hal itu, Saki menatap ke arahku.
"Yah, aku sendiri juga tidak jago sih jadi tidak berhak menghakimi orang lain. Tapi belakangan ini aku berpikir bukankah sebaiknya kita tidak memandang bayi dan orang dewasa sebagai dua konsep yang saling bertolak belakang?"
"Bertolak belakang... apakah aku memandangnya begitu?"
"Bayi itu kan, gara-gara tidak bisa hidup sendirian makanya bergantung pada sekelilingnya dalam segala hal... menurutmu begitu, kan?"
"M-menurutku begitu, sih?"
"Tapi kan jantungnya berdetak sendiri, napasnya berhembus sendiri, bukan berarti seluruh hal untuk bertahan hidup dititipkan ke orang lain, secara mandiri ada bagian di mana si bayi berjuang hidup sendiri juga, kan."
Aku ditatap dengan raut wajah seolah ingin bilang anak ini ngomong apa sih coba. Matanya memasang ekspresi bukankah itu hal yang wajar.
"Yah, dengarkan dulu sampai akhir. Nah sebaliknya orang dewasa, cenderung berpikir kalau segalanya dijalankan memakai kekuatannya sendiri, padahal dari sudut mana pun kalau tidak bergantung pada orang lain ada bagian yang membuat mereka tidak akan sanggup bertahan hidup."
"Ada?"
"Tatanan pembentukan masyarakat pun demikian, dan dalam konteks keberlangsungan hidup sebagai sebuah spesies (species), masih ada banyak hal lainnya. Contohnya, membuat anak. Hal itu kan mutlak tidak akan bisa dikerjakan sendirian, kan."
Jika dipikirkan sebagai individu per individu, tindakan seperti membuat anak atau membangun rumah tangga itu kan bebas dilakukan atau tidak, sehingga jika dilihat secara terpisah orang cenderung berpikir sendirian pun sudah cukup. Akan tetapi jika dilihat dari kacamata manusia sebagai sebuah spesies, selama kita melakukan reproduksi seksual (sexual reproduction), dari sudut pandang keberlangsungan spesies, bantuan orang lain adalah hal yang mutlak wajib hukumnya.
Maksudnya, alih-alih menganggap orang dewasa dan anak-anak sebagai dua entitas yang bertolak belakang, menganggapnya sebagai perbedaan porsi alokasi ketergantungan terhadap orang lain justru jauh lebih tepat.
"Singkatnya, kamu mau bilang kalau orang dewasa pun boleh bergantung pada orang lain, begitu?"
"Benar sekali. Justru transisi dari 'mau tidak mau harus bergantung' berubah menjadi 'bisa bergantung dengan lihai' itulah yang dinamakan proses bertumbuh dari anak-anak menjadi orang dewasa, bukan?"
"Bergantung dengan lihai..."
"Padahal aku tidak jago," gumamnya pelan.
Hal itu aku pun sama.
"Yah, aku paham kok. Butuh keberanian juga kan untuk menerima bantuan orang lain. Tapi kan, jika ada orang yang mau menolong di depan mata, mengulurkan tangan pun adalah hal yang krusial. Kalau di dunia alam liar pada dasarnya induk saat melahirkan harus mengurusnya sendirian, tapi kalau manusia kan ada bidan (midwife), kan."
Dulu biasa disebut josanfu, tapi gara-gara revisi undang-undang tahun 2001 istilahnya berganti menjadi josanshi, itu adalah cerita yang tergolong cukup umum diketahui.
"Sebab manusia adalah makhluk yang dari paling awal kelahirannya saja sudah memiliki sistem untuk saling menolong, jadi saat dalam kesulitan, pola pikir bahwa kita saling membutuhkan itu menurutku adalah hal yang krusial."
"Aku pun, sebenarnya sudah mulai memahaminya, kok. Khususnya belakangan ini. ...Tapi, rasanya menakutkan untuk bergantung (depend)."
"Justru karena bisa percaya bahwa di saat darurat bakal ada yang menolong, makanya ada momen di mana kita bisa berjuang keras."
Di momen-momen krusial, berkat adanya topangan dari Saki makanya ada banyak hal yang sanggup kulewati dengan berjuang keras. Hal itu pun tanpa keraguan adalah sebuah fakta nyata.
"Makanya kamu berjalan di depanku tadi?"
"Aah... yah, kurang lebih."
Ternyata ketahuan, ya.
"Tapi sampai paling akhir pun Saki tidak berusaha menggandeng tangan dan sanggup melewati Tainai-meguri sendirian, kan. Aku cuma sedikit membantu di bagian keluarnya saja di akhir. Menurutku sah-sah saja kalau dibilang Saki benar-benar berhasil melewati ketakutan di bagian akhir itu secara mandiri."
"Begitu ya. Emm. ...Terima kasih."
Kami masuk ke rumah makan terdekat dan menyantap makan siang, lalu setelah mengobrolkan kesan-kesan dengan santai, karena mumpung sudah sampai di Roppongi kami pun mengelilingi berbagai tempat. Setelah puas menikmati jalan-jalan seharian penuh sampai kedua kaki rasanya mau copot bagaikan batang kayu, kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sampai di area parkir, kami masuk ke dalam mobil.
Begitu pintu ditutup, keriuhan di luar mendadak menjauh dipisahkan oleh satu lapis kaca.
Jam digital di dalam mobil menunjukkan pukul 6 sore lewat sedikit. Langit yang terlihat di balik kaca depan sedang bertransisi dari warna biru siang hari menuju warna senja. Hanya lantai atas bangunan yang tersengat sinar matahari barat saja yang terwarnai merah, sedangkan makin mendekati permukaan tanah permukaannya tenggelam dalam bayangan yang memanjang.
Mungkin gara-gara menghabiskan waktu lama di dalam lokasi pameran yang gelap, sinar sore hari pun terasa silau di mata.
Baik aku maupun Saki tidak langsung memasang sabuk pengaman.
Mesin pun tidak dinyalakan.
Kami hanya menyandarkan punggung ke kursi lalu menghembuskan napas panjang, fuh.
Mungkin gara-gara baru saja melihat hal-hal yang menakutkan, ya. Di dalam kabin mobil yang sempit, sudut mana pun yang tertangkap mata diisi oleh benda-benda buatan manusia yang sudah biasa dilihat, sehingga menciptakan perasaan tenang. Setir mobil, sistem navigasi (GPS), hingga lubang AC. Di balik kegelapan tidak ada apa pun yang mengintip, dan begitu menoleh ke belakang pun tidak ada wajah raksasa di sana.
Dari samping, terdengar suara hela napas Saki.
"Hei."
"Emm?"
"Rasanya, kalau sekarang aku merasa sanggup melakukan apa saja."
Suaranya terdengar gemetar.
Kendati demikian, di sudut bibirnya terukir senyuman tipis. Kelihatan seperti sok tegar demi menutupi rasa takutnya, dan di saat yang sama kelihatan juga seolah-olah dia sedang mencoba menyuntikkan keberanian pada dirinya sendiri atas apa yang berniat diucapkannya kelak.
Kedua tangan Saki yang ditaruh di atas paha saling menautkan jari-jemarinya erat-erat.Sanggup melakukan apa saja.
Meskipun mengucapkan hal itu, pada kenyataannya dia pasti sangat amat ketakutan.
Hanya saja, dia tidak berusaha menyembunyikan kelemahannya secara penuh.Takut. Meski begitu ingin melangkah ke depan. Sosoknya yang memperlihatkan perasaan semacam itu padaku dengan canggung, menciptakan rasa kasih sayang yang dalam di dalam dadaku.
"Beneran, ya."
Memang benar, pameran tadi memberikan perasaan seolah-olah telah terlahir kembali.
Di dalam lokasi pameran, satu desa hancur, banyak manusia tewas, tapi pada akhirnya alur cerita terhubung pada satu-satunya anak yang berhasil bertahan hidup. Melewati kegelapan yang diandaikan sebagai rahim, lalu keluar menuju pendar cahaya. Di sana saat melihat sosok diri yang terpantul di cermin, seseorang tersadar bahwa dirinya adalah anak tersebut.
Kehidupan lama berakhir, dan kehidupan baru dimulai. Pameran tadi mungkin memang menggambarkan alur cerita semacam itu juga.
Demi bisa terlahir kembali, sosok diri yang selama ini mau tidak mau harus mati sekali.
Jika dipikirkan ke arah sana, tindakan 'mati' mungkin tidak cuma sebatas melenyap dan tidak ada lagi. Mengambil keputusan besar yang membuat kita tidak bisa lagi berada dalam sosok diri yang kemarin, lalu berubah menjadi sosok diri yang baru. Hal itu pun pada dasarnya adalah bentuk lain dari Kematian dan Kebangkitan Kembali (Death and Rebirth).
Jika aku dan Saki mengakui hubungan kami kepada keluarga, maka 'keadaan biasa' di keluarga Asamura selama ini akan berakhir.
Kami tidak akan bisa lagi dipandang murni sebatas Kakak dan Adik yang akur belaka. Kami tidak akan bisa lagi menyembunyikan fakta bahwa kami adalah sepasang kekasih lalu kembali ke pemandangan yang sama seperti sebelumnya.
Akan tetapi, sebagai gantinya.
Sebagai keluarga baru yang tanpa kebohongan, kami sanggup untuk terlahir kembali.
Jika berpikir demikian, seberapa pun besarnya keputusan yang memicu perubahan besar, rasanya kalau sekarang kami sanggup untuk melakukannya.
Untuk menentukan masa depan yang baru, ini mungkin adalah titik balik (turning point) yang sangat bagus.
Aku menjulurkan tanganku ke arah kursi penumpang.
Mengurai kedua tangan Saki yang saling menaut, lalu menggenggam salah satu tangannya.
"Masih gemetaran, tuh."
"...Kan tidak mungkin, lah. Kita kan sudah keluar dari lokasi dan berjalan cukup lama."
"Iya. Makanya, alasannya pasti beda, kan."
"Eh?"
Saki mendongakkan wajahnya.
Setelah saling menatap, aku memutar badanku menyamping di kursi pengemudi. Merengkuhkan lenganku ke bahu Saki, menyanderanya mendekat dari kursi penumpang.
Merangkul seseorang di dalam mobil ternyata jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.
Konsol meja di antara kursi terasa mengganggu, dan posisi kaki pun terasa sempit. Saat hendak melingkarkan lengan, wujud kursi menghalangi. Sangat jauh dari kata pelukan keren yang biasa terlihat di film atau drama.
Meski begitu untuk saat ini, kejanggalan yang tidak sempurna ini justru terasa pas.
Aku merengkuh kepala Saki ke dadaku.
Mendekatkan bibirku ke telinganya, lalu berbisik.
"Aku, sudah siap."
Bahu Saki gemetar pelan.
Kesiapan untuk mengakui hubungan kami kepada keluarga.
Tentu saja, hal itu termasuk.
Akan tetapi, bukan cuma itu saja.
Jika hanya menyampaikan bahwa kami berpacaran, itu murni sebatas menjelaskan apa yang telah kami lakukan selama ini. Hanya sebatas cerita masa lalu dan masa kini belaka.
Hal yang kubulatkan kesiapannya adalah tahap setelahnya.
Bagaimana aku bakal hidup bersama Saki ke depannya.
Tidak membiarkan masa depan tersebut berada dalam kondisi yang samar dan kabur.
"Saki."
Aku memanggil namanya.
Saki melepaskan wajahnya dari dadaku.
Memakai binar mata yang masih menyisakan sedikit getaran, dia menatap lurus menancap ke arahku.
"Aku, mau terus menjadi keluarga bersama Saki."

Seandainya hanya kalimat itu saja, mungkin selama ini pun sudah pernah kuucapkan.
Ingin tetap menjadi keluarga sebagai kakak dan adik.
Bahkan setelah menjadi sepasang kekasih pun, tidak ingin kehilangan hubungan yang telah terjalin selama ini.
Jika kalimat itu terdengar dengan makna seperti itu, aku rasa berapa kali pun aku sanggup mengucapkannya.
Akan tetapi, hal yang ingin kusampaikan adalah tahap setelahnya.
"Aku ingin memilih Saki bukan sebagai adik perempuan, melainkan sebagai kekasih, sebagai pasangan untuk menempuh jalan hidup ke depannya."
Saki menahan napasnya.
"Bukan berarti kita bisa langsung menikah sekarang. Kita masih mahasiswa, dan hal yang harus kita pikirkan pun menggunung banyaknya. Soal kuliah, soal pekerjaan, soal tempat tinggal, hingga soal uang. Kepada keluarga pun, kita belum menyampaikan apa-apa."
Begitu diucapkan, hal yang harus diputuskan ternyata ada banyak sekali.
Pernikahan bukanlah hal yang bisa berdiri hanya berlandaskan emosi rasa suka semata.
Kendati demikian.
"Tapi, bukannya 'suatu saat nanti', aku ingin memutuskannya 'sekarang'."
Jika terus menunggu sampai hari di mana seluruh syarat dan kondisi terpenuhi sempurna, aku merasa sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa memutuskannya.
Lagipula hal-hal di masa depan, tidak akan pernah ada satu orang pun yang mengetahuinya.

Bukan karena tidak tahu maka kita tidak bisa berjanji.
Menurutku, memutuskan untuk mengarungi masa depan yang tidak kita ketahui secara bersama-sama itulah yang dinamakan sebuah janji.
"Aku, berniat menjalani hidup dengan tujuan untuk menikah dengan Saki."
Ucapku tanpa mengalihkan pandangan mata sedikit pun dari mata Saki.
"Makanya—aku mau Saki pun menghadapi keluarga dengan niat yang sama."
Begitu selesai mengucapkannya, aku tersadar bahwa jantungku sedang berdetak kencang sekali.
Padahal aku menyentil soal Saki yang gemetaran, kenyataannya tanganku sendiri pun sedikit gemetaran.
Bagian dalam mobil mendadak hening tanpa suara.
Suara kendaraan yang melintas di luar sana mengalir jauh di balik garis pendengaran.
Saki tidak melontarkan kata apa pun.
Dia menurunkan pandangan matanya, menarik dan menghembuskan napas beberapa kali, hingga akhirnya membuka suara.
"...Berat banget, ya."
"Emm."
Aku tidak sanggup menyangkalnya.
Atau lebih tepatnya, sejak awal aku memang tidak berniat menyampaikannya secara ringan.
"Tapi, kalau Yuta mengucapkannya secara ringan, aku justru bakal lebih benci."
Ucap Saki sambil menghembuskan napas pelan.
Kemudian dari sisinya sendiri dia merapatkan tubuhnya, menyandarkan dahinya di dadaku.
"Aku juga, berniat menjalani hidup dengan tujuan untuk menikah dengan Yuta. Makanya, biarpun takut... aku bakal mengaku dengan benar. Kepada Ibu, tentang hubungan kita."
Bagian dalam dadaku seketika menghangat. Aku berniat langsung membalasnya, tapi tenggorokanku tersumbat sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.
Sambil tetap menyandarkan dahinya, Saki mungkin sedang mendengarkan detak jantungku, dia tidak bergerak untuk beberapa saat.
Tak lama kemudian, dia mendongakkan wajahnya sedikit saja.
"...Yang tadi itu, lamaran (propose), kan?"
"Eh."
"...Tapi, tidak ada cincinnya."
Diucapkan begitu, aku refleks melihat ke arah tanganku sendiri. Tentu saja, aku tidak membawa cincin atau semacamnya.
Hari ini, aku datang bukan dengan niat untuk membicarakan hal seperti ini. Meskipun aku tidak merasa memutuskannya murni hanya gara-gara dorongan emosi setelah keluar dari lokasi pameran, setidaknya aku sama sekali tidak menyiapkan persiapan lamaran apa pun.
"Maaf ya tidak menyiapkannya."
Saat aku meminta maaf, Saki menggelengkan kepalanya.
"Jangan dianggap serius, ah. Aku paham, kok. ...Untuk hari ini, cukup lewat kata-kata saja."
"...Emm."
"Tapi, suatu saat nanti aku mau."
Di titik itu, Saki tersenyum dengan raut wajah yang sedikit malu-malu.
Getaran yang tadinya tersisa di dalam matanya hingga beberapa saat lalu, kini sudah hampir lenyap sepenuhnya.
"Paham. Aku janji."
"Janji kita, jadi banyak banget ya."
Mendengar hal itu diucapkan, aku teringat pada deretan janji yang telah kami ikrarkan selama ini.
Tidak saling memaksakan ekspektasi satu sama lain.
Membicarakannya lewat kata-kata dan saling menyelaraskan.
Meninggalkan kenangan di dalam album.
Jika terjadi sesuatu, bersandar dan bergantung satu sama lain.
Berdua mengaku kepada keluarga.
Dan hari ini, janji untuk menjalani hidup dengan berniat untuk menikah pun bertambah lagi.
"Mari kita tepati satu per satu."
"Emm."
Di atas jemari kami yang saling bertaut, memang belum tersemat cincin.
Akan tetapi, karena telah diucapkan lewat kata-kata, pernikahan kini bukan lagi sebuah masa depan yang 'mungkin akan terjadi suatu saat nanti'.
Pernikahan telah berubah menjadi sebuah masa depan yang kami pilih berdua, dan berniat kami capai ke depannya.