Memuat...
Minggu baru dimulai di hari Senin.
Hari yang istimewa bagi diriku dan Yuta pun tiba.
Sambil saling bertukar ucapan "Selamat pagi", kami saling menautkan pandangan mata. Sejak selesai menonton Pameran Horor dua hari lalu hingga kemarin malam, aku dan Yuta sudah berdiskusi berulang kali. Dan hari ini, kami memutuskan untuk membeberkannya kepada Ibu terlebih dahulu. Orang itu secara samar-samar sebenarnya sudah menyadari hubungan kami.
Mungkin, sih.
"Taichi-san, sebaiknya bawa payung, deh."
Ibu berseru ke arah punggung Papa Taichi yang hendak melangkah keluar dari ruang makan untuk berangkat kerja.
"Eh? Mau hujan?"
"Katanya sore nanti ada potensi hujan atau hujan badai."
"Ya ampun... Oke, paham. Aku bawa, deh."
Ucapnya sambil berbalik dengan bahu terkulai. Dia menguap berulang kali. Kelihatannya semalam Akari menangis cukup histeris di tengah malam, jadi dia kurang tidur. Di sekitar matanya terlihat jelas rasa lelah.
"Selamat jalan."
"Iya. Aku berangkat, ya."
Dari pintu depan terdengar suara gragap-graguk mencari payung. Padahal aku sempat cemas apakah bakal aman-aman saja dan memalingkan pandangan ke arah kamar tidur, tapi Akari tidak sampai terbangun apalagi menangis.
Mungkin beliau berusaha membuka dan menutup pintu depan sepelan mungkin, sehingga setelah terdengar suara pintu yang tertutup dengan sangat halus, bagian dalam rumah kembali berubah menjadi hening. Hanya suara Ibu yang sedang mencuci piring saja yang bergaung.
"Kak Yuta mau roti juga?"
"Boleh, terima kasih ya. Supnya sudah kubuat hangat, kok."
"Emm, terima kasih."
Agar tidak membangunkan Akari yang baru saja terlelap, aku dan Yuta menyantap sarapan sambil menjaga volume suara agar tidak terlalu keras. Karena Ibu sudah makan duluan bersama Papa Taichi, begitu selesai mencuci piring beliau mendudukkan diri di kursi dan mulai meminum teh dengan santai.
"Hari ini kelihatannya bakal panas lagi, ya."
Ucap Ibu sambil menatap ke luar jendela.
Langit yang kelabu mendung adalah dampak dari badai topan yang kian mendekat.
Prakiraan cuaca mengabarkan bahwa sore nanti seperti yang dikatakan Ibu, bakal ada hujan lokal atau petir. Awan tebal memang menghalangi sinar matahari. Meski begitu, hal itu tidak sanggup menahan kenaikan suhu udara, dan prakiraan cuaca menyebutkan bahwa hari ini bakal menjadi hari dengan gelombang panas terik. Artinya suhu udara bakal melonjak sampai 35°C.
AC di rumah kelihatannya hari ini pun bakal dipaksa beroperasi penuh.
"Hari ini kalian berdua pergi keluar, kan?"
Aku dan Yuta mengangguk secara bersamaan.
Meskipun kami berdua sudah memasuki masa liburan musim panas kampus, di Tsukinomiya ada kursus intensif bahasa Inggris musim panas.
Yuta pun libur kampus, tapi hari ini adalah jadwal masuk ke kantor redaksi tempatnya bekerja paruh waktu. Konon dia berangkat di pagi hari, menuntaskan pekerjaan yang hanya bisa diselesaikan di kantor, lalu bakal kembali ke rumah sekitar sore hari.
Normalnya, karena tempat kerjanya dekat dari indekos tempat dia tinggal sendirian, harusnya dia bisa langsung pulang ke indekos saja. Tapi hari ini dia bakal pulang ke rumah utama. Ada alasan kenapa dia pulang ke sini.
Sebab—
Begitu selesai makan dan mencuci piring berdua, aku maupun Yuta merapikan persiapan untuk pergi keluar, lalu setelah berada dalam kondisi siap melangkah keluar rumah, kami kembali sejenak ke ruang keluarga. Aku menyapa Ibu yang sedang bersantai di sofa.
"Ibu, bisa minta waktunya sebentar?"
Ibu mengarahkan wajahnya ke arah kami, menatapku dan Yuta secara bergantian, lalu memiringkan kepalanya, "Ada apa?"
"Anu, sore nanti, ada pembicaraan penting yang mau kami sampaikan."
Yuta melanjutkan kalimatku seolah mengambil alih bagian setelahnya.
"Setelah kami pulang nanti, apakah ada waktu untuk mengobrol?"
Ibu membelalakkan matanya sedikit, lalu mengangguk pelan.
"Boleh, kok."
Setelah kami berdua menundukkan kepala menyampaikan terima kasih, kami pun melangkah keluar rumah.
Setelah menyelesaikan kuliah di kampus, aku bergegas menuju Stasiun Shibuya yang menjadi tempat janjian.
Begitu keluar dari gerbang tiket, aku menemukan Yuta yang sudah menunggu. Setelah bergabung, kami langsung melangkah berjalan menuju rumah.
Waktu menunjukkan hampir pukul 5 sore, dan langit yang di siang hari tadi masih sanggup menahan hujan dalam kondisi mendung, kini terlihat makin mengelam hitam, seolah butiran air hujan bisa jatuh kapan saja.
Petir bergema di kejauhan. ...Syukurlah masih di kejauhan. Tolonglah, jangan makin mendekat.
"Apakah kita bisa sampai rumah sebelum hujan turun, ya?"
Yuta yang berjalan di sampingku mendongak menatap langit dengan cemas dari selipan gedung-gedung tinggi.
Melihat tingkahnya, aku memiringkan kepala.
"Kamu tidak bawa payung sewaktu berangkat tadi?"
"Bawa sih, tapi kalau hujan zaman sekarang kan biarpun pakai payung tetap saja..."
"Aah..."
Entah sejak kapan hujan musim panas berubah menjadi begitu deras bagaikan hujan badai tropis.
Memakai payung lipat kecil sangat tidak akan cukup untuk membuat tubuh kita tidak basah kuyup.
"Kalau pulang dalam kondisi basah kuyup seperti tikus mencebur air, pasti ujung-ujungnya harus masuk kamar mandi atau mandi shower dulu. Kalau sampai begitu, rasanya tekad yang sudah kita kumpulkan bakal goyah lagi."
Kalau dipikir-pikir memang benar, jika santai merendam diri di bak mandi, ketegangan emosi yang merentang kencang pasti bakal melar melonggar, dan perasaan untuk melakukan pengakuan penting pasti bakal melenyap. Ketegangan manusia itu tidak akan sanggup bertahan tanpa henti sejauh itu.
"Kalau begitu, ayo bergegas!"
Aku mempercepat langkah kaki menelusuri jalan pulang.
Saat bangunan apartemen rumah kami mulai kelihatan, butiran hujan sepertinya belum jatuh dari langit. Kelihatannya kami berhasil mengejarnya tepat waktu. Hanya saja, tepat saat merasa lega, fakta bahwa momen penentuan akhirnya tiba kini menindihku sebagai sebuah tekanan.
Deburan detak jantungku rasanya begitu kencang sampai-sampai aku berpikir apakah orang di sekitarku bisa mendengarnya, dan bagian dalam mulutku terasa kering kerontang.
Turun dari lift, aku menyuarakan "Aku pulang" bersama dengan Yuta sambil membuka pintu rumah.
Tentu saja suaranya ditahan pelan. Karena Akari mungkin sedang tidur.
Namun, apakah langkah kaki yang merambat pelan saat menyusuri koridor ini demi tidak membangunkan adikku yang mungkin sedang tidur, ataukah gara-gara kelemahan hatiku sendiri yang hampir goyah, aku tidak tahu. Meskipun sudah bertekad, hal yang menakutkan tetap saja menakutkan.
Ibu ada di ruang makan. Akari mana? mataku bertanya padanya, lalu Ibu mengarahkan pandangan matanya ke arah kamar tidur. Kelihatannya dia baru saja terlelap. Aku menghembuskan napas lega karena tidak membuat kegaduhan.
"Tenggorokanmu kering?"
Saat ditanyai Ibu, aku mengangguk. Kering banget, sudah kerontang.
"Hari ini panas banget juga, ya."
"Emm."
Padahal alasan kenapa tenggorokanku kering bukanlah di situ.
"Kalau begitu, Ibu sediakan teh dulu, ya. Sana berganti pakaian dulu."
Kami kembali ke kamar, menaruh barang bawaan, lalu kembali ke ruang makan. Di depan kursi tempat duduk Ibu di meja makan, aku dan Yuta mendudukkan diri secara bersandingan.
Ibu menyeduhkan teh herbal. Ada 3 gelas. Untukku, Yuta, dan Ibu.
Gelas tinggi ramping diisi es batu secara melimpah sampai setengahnya, lalu ke dalamnya dikucurkan teh kamomil berwarna kuning keemasan yang jernih dan cantik. Di dalam gelas, teh herbal yang terpantul bagaikan warna matahari di hari yang cerah itu, saat disentuhkan ke bibir memancarkan rasa manis yang halus.
Untuk beberapa saat kami mengobrolkan soal cuaca secara acak. Hari ini panas banget ya. Syukurlah hujan tidak turun. Katanya besok juga panas lho... Eh apa-apaan itu, kan memang sedang musim panas jadi wajar lah.
Aku tegang. Apakah hal itu tersampaikan, Ibu pun kelihatannya ikut merasa agak canggung.
Tepat saat percakapan terhenti secara mendadak dan keheningan jatuh di meja yang kami kelilingi, Yuta membuka suaranya pemantik awal.
"Anu, ada hal yang ingin kami bicarakan."
Hanya satu kalimat itu yang berhasil dilontarkannya dengan susah payah, tapi di titik itu percakapan kembali terputus.
Sambil ragu-ragu, aku pun menumpukkan kata-kataku.
"Soal Kak Yuta... soal Yuta, dan aku."
Ibu mengangguk pelan.
"Boleh, kok. Bicaralah."
"Emm itu... emm, makanya—"
Bagian dalam mulutku kering sehingga kata-kata tidak bisa keluar dengan lancar. Harus bilang apa ya, padahal selama 2 hari ini aku sudah memikirkannya berulang kali dan berlatih di dalam kepala, tapi begitu momennya tiba, catatan di dalam otaknya mendadak berubah menjadi putih bersih, dan aku cuma bisa mengawasi raut wajah Ibu saja.
Padahal dia orang tuaku.
Justru karena dia orang tuaku.
"Akiko-san."
Sosok yang kembali merangkai kata-kata adalah Yuta.
Pandangan mata Ibu tertuju pada Yuta di sampingku.
"Saki datang ke sini sebagai adik perempuan itu, emm, terjadi 3 tahun lalu."
Papa Taichi yang bercerai dan hidup sendiri, serta Ibu yang bercerai dan hidup sendiri dengan cara yang sama, bertemu sedikit sebelum masa itu, mereka saling kenal di bar tempat Ibu bekerja, lalu belum sampai setengah tahun berlalu mereka sudah sanggup melangkah sampai ke jenjang pernikahan.
Bulan Juni di tahun itu. Ibu dan aku pindah ke apartemen tempat rumah keluarga Asamura ini berada.
"Waktu itu kalau tidak salah Yuta-kun masih kelas 2 SMA, kan."
"Iya."
"Berarti waktu usiamu 17 tahun? Cepat banget ya. Sudah 3 tahun berlalu, ya."
"Cepat banget, ya."
"Iya, ya~"
"Iya."
Eh tunggu. Pembahasannya sama sekali tidak maju 1 milimeter pun, ditambah lagi itu salah, tahu.
"16 tahun, tahu. Kan sebelum hari ulang tahun. Cuma beda 1 minggu saja dariku, kok."
Tanpa sadar aku menyemprot mereka berdua.
""Aah, benar juga.""
Mereka berdua mengangguk secara bersamaan. Bukan 'iya-iya', tahu.
Kalau Ibu yang santai dan Yuta yang kelewat tegang berkumpul, percakapannya malah jadi seperti dua orang pelawak yang sedang bersahut-sahutan...
"A-ah, bukan, Ayase-san. Maksudku Saki, aku paham, kok."
Beneran nih...? Aku menatap Yuta dengan mata yang agak curiga. Aman, aman kok, ucapnya berulang kali seolah melafalkan mantra dengan suara pelan, tapi melihat Yuta yang seperti itu Ibu berseru, "Mirip banget sama Taichi-san, ya." Aku menyerahkan diri. Di sini akulah yang harus memegang kendali dengan benar.
"Makanya, Ibu! Anu, ya. Anu..."
Begitu diucapkan, suaraku seketika mengecil. Menyebalkan. Rasanya mau menangis. Kenapa hal sesederhana ini tidak sanggup kuucapkan? Bagiku Yuta bukan lagi seorang Kakak. Bukan, dia memang Kakakku, tapi bukan cuma sebatas itu saja. Aku cuma ingin menyampaikan hal itu saja, padahal.
"Saki sejak 3 tahun lalu adalah adik perempuan yang berharga bagiku."
Aku tersentak dan mendongakkan wajahku.
Yuta meskipun tersendat-sendat tetap melanjutkan kata-katanya.
"Lebih tepatnya, sedikit demi sedikit aku mulai bisa merasakannya sebagai adik perempuan yang berharga. Bukan murni hanya gara-gara dia adalah putri dari orang yang berharga bagi Papa saja."
Ibu mengangguk pelan.
"Ibu senang mendengarnya."
"Hanya saja... bukan cuma sebatas itu."
Yuta menarik napas sekali di titik itu.
"Awalnya aku tidak memiliki perasaan seperti itu, menurutku. Sebab, dia adalah adik perempuan. Tapi persis seperti perasaan bersaudara yang tumbuh secara perlahan, di dalam diriku, perasaan bahwa dia adalah seorang wanita yang bisa kuhormati dan kuberi kesan baik pun ikut bertumbuh."
Ibu tidak mengucapkan apa pun. Beliau diam membiarkan Yuta terus bercerita.
"Diriku yang sekarang, mencintai Saki. Bukan sebagai adik perempuan, melainkan sebagai seorang manusia."
Begitu Yuta mengucapkan hal itu dengan sangat tegas, dia menatap lurus menancap ke arah Ibu. Ibu menerima pandangan mata itu lalu menatap ke arahku. Kalau kamu bagaimana? begitulah yang diucapkannya lewat binar matanya.
"Aku pun, punya perasaan yang sama."
Aku tidak menyangka terhadap ibu kandung sendiri aku malah menggunakan ragam bahasa formal.
"Aku... menyukai Kak Yuta, bukan, menyukai Yuta. Bukan sebagai Kakak, melainkan sebagai seorang manusia."
Keheningan jatuh melingkupi.
Ibu seperti biasa masih tidak mengucapkan apa pun. Atmosfer yang kelewat berat membuatku rasanya hampir tidak bisa bernapas.
Suara klanting. Tumpukan es yang mengapung di dalam gelas mencair, mempertemukan serpihan-serpihan es hingga menimbulkan suara kecil. Es yang mengapung menghantam dinding gelas lalu berputar pelan.
"Yah, Ibu sudah mengira pembicaraannya bakal ke arah sana, sih."
Hanya lewat satu kalimat dari Ibu itu, aku tersadar bahwa beliau ternyata memang sudah mengetahuinya. Tanpa rasa terkejut, tanpa rasa menolak, beliau kelihatannya menerima hal itu dengan tenang.
"Akhirnya, ya~"
"Eh? Emm... 'akhirnya' itu maksudnya apa, Bu?"
Di titik itu Ibu menghembuskan napas panjang.
"Kalian berdua tidak menyadarinya, ya."
Eh?
"Tadi kamu baru saja mengoreksi panggilan untuk Yuta-kun, kan?"
"I-iya. Memang begitu, sih."
Sebab kalau tidak hati-hati, di dalam rumah pun aku bakal memanggilnya 'Yuta'. Makanya aku berhati-hati dan secara sadar menempelkan kata 'Kak' setiap kali memanggilnya.
"—pikirmu begitu, kan?"
"Emm."
"Saki. Kamu itu sejak beberapa waktu lalu sesekali lupa menempelkan kata 'Kak', tahu."
Aku yang sedang meminum teh herbal demi membasahi mulutku yang kering hampir saja menyemburkannya keluar.
"Eh. E-eh, bohong."
"Mungkin sejak sekitar musim dingin lalu, ya. Sesekali kamu memanggilnya Yuta, dan Yuta-kun pun menjawabnya tanpa merasa janggal sedikit pun, jadi Ibu berpikir aah, mereka sepertinya sudah tidak berniat menyembunyikannya lagi, ya.... Tapi biarpun begitu kalian tidak kunjung memberitahu Ibu, jadi Ibu berpikir kalian mematuhi nasihat yang pernah Ibu berikan pada Saki dulu dan masih memelihara hubungan secara perlahan di tengah jalan, makanya Ibu tidak sengaja mengusik kalian, tahu~"
Aku refleks saling bertukar pandangan dengan Yuta.
—Kamu sadar?
—Sama sekali tidak.
Percakapan semacam itu terjalin murni lewat tatapan mata.
"P-Papa Taichi bagaimana?"
"Kalau Taichi-san... bagaimana, ya. Mungkin tidak punya kepastian sejauh yang Ibu miliki, sih. Orang itu kan di bagian yang dia paham ya paham, tapi dia kan tergolong santai atau lebih tepatnya tipe orang yang tidak terlalu ambil pusing."
"Aah... memang ada sisi seperti itu pada Papa, ya."
Ujar Yuta, tapi aku dan Ibu secara bersamaan mengarahkan pandangan mata ke arah Yuta lalu saling berkomunikasi lewat mata. Di momen itu saja pendapatku dan Ibu benar-benar selaras secara penuh.
—Kamu juga gitu, tahu! begitulah kiranya.
"Lalu..."
Ibu tidak melontarkan pertanyaan seperti Sejak kapan?.
Pertanyaan yang keluar dari mulut Ibu adalah—
"Boleh Ibu tanya, kenapa kalian memutuskan untuk melaporkannya sekarang?"
Aku tersentak.
—Kenapa harus sekarang.
Jika harus jujur berterus terang, bagi kami itu adalah pertanyaan yang berada di luar dugaan.
Menjawabnya itu gampang. Kenapa harus mengaku sekarang. Sebab hal itulah yang terus-menerus dipertanyakan olehku dan Yuta kepada diri kami sendiri.
Tapi aku tidak mengira hal itu bakal dipertanyakan oleh Ibu.
Di momen itulah aku akhirnya menyadarinya.
Bagi diriku dan Yuta, ada alasan kenapa harus mengaku "sekarang".
Lalu, bagaimana dengan Ibu?
Apakah aku sudah memikirkannya dengan berdiri di sudut pandang Ibu yang menerima pengakuan semacam ini "sekarang"?
"Hal itu adalah—"
Hal yang terlintas di dalam kepalaku adalah satu pemandangan di pagi hari tadi. Wajah Papa Taichi yang matanya bengkak gara-gara dibangunkan Akari di tengah malam lalu pergi ke kantor dalam kondisi begitu.
Keluarga dikendalikan oleh seorang bayi berusia 0 tahun yang lehernya belum tegak, yang terbangun setiap beberapa jam sekali meminta makan dan buang air. Berulang kali mengganti popok, memberi susu, dan menimangnya sampai berhenti menangis jika dia menangis, serta jika ada waktu luang Papa Taichi maupun Ibu berkeliling mensterilkan setiap sudut di dalam rumah. Demi Akari. Barang-barang berat tidak ditaruh di atas rak, dan seluruh sudut furnitur yang tajam dipasangi pelindung. Demi Akari.
Pola hidup Akari yang tadinya tidak mengenal siang dan malam pun perlahan-lahan bakal makin panjang tidurnya sehingga bisa membedakan siang dan malam. Dunia yang tadinya cuma berisi gelap dan terang mulai diwarnai oleh warna-warni, dan seiring peningkatan daya penglihatan dia bakal mulai bisa mengenali raut wajah orang-orang di sekitarnya. Lehernya yang belum tegak dan membuatnya terus berbaring bakal mulai bergerak-gerak.
Jika dibandingkan dengan kondisi ringkih sewaktu baru lahir dulu, perbedaannya bagaikan bumi dan langit.
Kendati demikian, bayi tetaplah entitas yang ringkih. Tenaga dan waktu yang dituntut sangatlah banyak. Tangisan malam hari yang sesungguhnya baru akan dimulai setelah ini, dan di usia sekitar 5 bulan tantangan transisi dari susu menuju MPASI bakal dimulai.
Kemampuan merangkak dengan mengangkat perut konon baru bisa dilakukan setelah berusia sekitar 8 bulan.
Melalui tahap merambat berpegangan hingga mulai berjalan adalah kurun waktu sekitar 1 tahun dari sekarang. Jangkauan pergerakan bayi bakal meluas secara drastis, tapi jika sudah sampai di tahap itu, orang tua bakal makin pusing memikirkan anaknya pergi ke mana.
Makin bertumbuh makin banyak kekhawatiran orang tua, biarpun sudah mulai berjalan, kekhawatiran maupun kerepotan justru bakal makin bertambah.
Kenapa, sekarang?
Aku merasa kesal pada diriku sendiri yang tidak menduga bakal ditanyai hal semacam itu.
Untuk sesaat, pemikiran untuk tidak mengucapkan apa pun dan menundanya saja sempat melintas di kepalaku. Keyakinan bahwa mengaku di sini adalah hal yang benar mendadak goyah.
Aku merasa hampir tidak bisa bernapas gara-gara tersedot oleh pandangan mata Ibu yang menatap kami.
Di momen itu, puk, pahaku ditepuk pelan.
Yuta yang duduk di sampingku menepuk bagian sekitar tempurung lututku secara ringan memakai telapak tangannya.
Di sudut pandanganku, wajahnya memperlihatkan separuh rasa cemas dan separuh rasa memberi semangat. Aku merasa terbantu oleh raut wajah Yuta itu.
"Karena Akari lahir."
Ucapku dengan suara yang terperas keluar.
"Makanya, aku... kami..."
Yuta menumpukkan kata-katanya.
"Kami berpikir bahwa kami harus memberitahukannya kepada orang tua."
Didorong oleh kata-kata itu, aku sanggup menyuarakan pemikiranku sampai akhir.
"Akari itu, bersandar pada kita secara tanpa syarat, kan. Karena dia berpikir dunia ini memang seperti itu. Tapi kalau sudah tumbuh jadi orang dewasa kita baru paham. Dunia ini tidak se-ramah itu. Ada kalanya biarpun menangis tidak ada orang yang menolong, dan ada kalanya orang yang menolong tidak ada di dekat kita."
Aku merasakan pandangan mata Yuta yang memberiku semangat berjuanglah.
"Saat seseorang merasa dirinya sendirian dan ditolak oleh dunia, momen seperti itu pasti setidaknya pernah menghampiri siapa saja sekali dalam hidupnya. Akari pun pasti bakal menghadapi momen seperti itu kelak. Durasi waktu di mana seseorang bisa mempercayai sekelilingnya secara tanpa syarat itu tidaklah panjang. Tapi... Aku tidak mau Akari lupa bahwa pernah ada masa di mana dunia menolongnya secara tanpa syarat. Agar diriku sendiri sanggup menjadi entitas yang bisa dipercayai oleh Akari, aku ingin menjadi entitas yang tanpa kebohongan terhadap Akari."
Wajah Maaya yang menjadi kawan obrolan sewaktu aku kebingungan terlintas di kepalaku. Wajah Yume-san yang biarpun punya pekerjaannya sendiri, tetap membimbing diriku yang seperti orang awam ini biarpun itu adalah tugas yang diperintahkan oleh Ibu Ruka pun terlintas di kepalaku. Hal itu jelas-jelas tidak sepadan jika dilihat sebagai sebuah pekerjaan. Wajah Ibu yang membendungku dalam diam saat aku hampir menangis gara-gara kehilangan rasa percaya diri dalam merawat Akari sebagai seorang Kakak Perempuan beberapa waktu lalu, kini sedang menatapku dengan raut wajah yang sedikit terlihat seperti mau menangis.
Saat mereview raut wajah orang-orang di sekitarku yang bermunculan lalu melenyap di dalam ingatan memakai mata hatiku, aku bisa percaya bahwa diriku yang sekarang pun masih ditolong oleh jauh lebih banyak orang dari yang kubayangkan.
Dunia ini mungkin memang tidak ramah, tapi setidaknya dunia ini cukup hangat untuk mendorong punggungku seperti ini.
Disokong oleh kehangatan tangan Yuta yang menempel di tempurung lututku, aku melangkah lurus ke depan begitu saja.
Menuju masa depan.
"Aku, mau terus berjalan bersama Yuta ke depannya. Perasaan ini sudah membulat teguh, makanya, aku tidak mau menyembunyikan hal itu dari Akari."
Mungkin tidak boleh diucapkan. Meski begitu, aku merasa harus mengucapkannya. Aku tidak bisa membunuh pemikiranku yang sekarang lalu berpura-pura tidak melihatnya. Jika aku ingin menjadi seorang Kakak Perempuan yang bisa dipercayai oleh Akari.
Serpihan es kecil terakhir yang tersisa di dalam gelas, saat kulihat ternyata sudah mencair dan melenyap tanpa disadari.
Hal yang tersisa di akhirnya adalah teh herbal berwarna matahari. Aroma harus yang halus melintas di ujung hidung.
"Aku pun, punya perasaan yang sama."
Persis seperti aku yang menumpukkan kalimat bahwa perasaanku sama setelah pengakuan Yuta tadi, kali ini Yuta yang menumpukkan kalimat itu setelah kata-kataku.
"Aku sudah membulatkan kesiapan. Bukan murni sebatas gejolak emosi masa muda belaka. Aku berniat menjalani masa depan bersama secara bersungguh-sungguh, dan mutlak tidak akan mengubah niat itu. Makanya aku merasa harus melaporkannya."
Ibu tidak mengucapkan apa pun, pandangannya tertuju menatap meja tanpa bergerak.
Keheningan memanjang, dan detak jantungku yang melaju kencang kini mulai memainkan irama lain yang terasa menggelisahkan dan tidak enak.
Mungkin aku bakal dimarahi.
Mungkin aku bakal dibikin heran dan dikagetkan.
Mungkin bakal dibilang terlalu cepat.
Aku merasa agak cemas memikirkan apa yang bakal diucapkan olehnya kelak.
Akan tetapi, kata-kata Ibu ternyata berbeda dari seluruh dugaan kalimat-kalimat tersebut.
"Ibu... tidak tahu harus bagaimana..."
Dengan wajah tertunduk, Ibu mengucapkannya seolah terperas keluar. Ini adalah pertama kalinya aku melihat raut wajah Ibu yang biasanya selalu diwarnai senyum ramah kini memperlihatkan raut kebingungan dari dasar hatinya. Bahkan saat bertengkar dengan ayah kandungku dulu maupun saat bercerai, Ibu yang tidak pernah menghentikan senyumnya di depanku kini...
"...Tidak tahu harus bagaimana?"
Yuta pun melontarkan pertanyaan dengan menyelipkan kebingungan.
Dengan gontai Ibu mendongakkan wajahnya, lalu dengan raut wajah yang menyerupai seorang anak kecil dia mulai bercerita sedikit demi sedikit.
"Bukannya Ibu tidak pernah mengimajinasikan hari seperti ini, lho. Justru sebelum menikah lagi dengan Taichi-san dulu kami sudah membicarakannya berulang kali. Saki kan pernah bilang kalau lulus SMA mau keluar dari rumah, kan."
Aku mengangguk.
Meskipun saat ini aku masih menetap di apartemen rumah keluarga Asamura seperti ini, tapi pada dasarnya biarpun ini adalah pernikahan ulang aku tidak mau mengganggu rumah tangga pasangan baru, dan tergantung universitas yang dituju ada kemungkinan tidak bisa ditempuh dari rumah, jadi mandiri adalah hal yang sudah kubulatkan kesiapannya. Makanya sejak masa SMA dulu aku mencari pekerjaan paruh waktu dengan gaji tinggi.
"Karena Ibu berpikir tidak bagus jika lingkungan berubah di masa-masa ujian masuk perguruan tinggi, Ibu dan Taichi-san sempat mempertimbangkan untuk menikah setelah kalian berdua diterima di universitas."
"Ternyata begitu, ya..."
"Tapi, Taichi-san justru bilang kalau memikirkan masa ujian masuk perguruan tinggi, bukankah lebih baik tinggal bersama lebih awal."
"Papa?"
"Sekolah Suisei kan lebih dekat kalau ditempuh dari rumah ini, dan dibanding indekos satu kamar kan jauh lebih bisa konsentrasi belajar kalau punya kamar sendiri, kan. Aku mau memberikan waktu di mana Saki-chan bisa fokus belajar saja, begitu ucapnya."
"Papa bilang begitu?"
"Taichi-san yang bilang."
"Tapi, kalau ada lawan jenis di dekatnya bukannya ada kemungkinan malah tidak bisa konsentrasi belajar..."
"Kalau Yuta kami sih, bakal aman-aman saja."
"Itu... apakah gara-gara dia mempercayaiku, atau dianggap orang yang tidak berbahaya..."
Kalau yang itu ditangkap dari sisi baiknya saja, dong.
"Tapi, Yuta kami mutlak tidak akan melakukan hal yang menyakiti Saki-chan, begitu ucapnya. Kalau sampai ada masalah sekecil apa pun, dia bilang rumahnya bakal dipisah. Makanya, karena waktu menuju kelulusan tinggal kurang dari 2 tahun, kami memutuskan untuk menikah lagi. Dari sisi Taichi-san, mungkin ada juga pertimbangan agar Ibu bisa menjalani program kehamilan dengan tenang."
"Papa memikirkannya sampai sejauh itu... Lalu, maksud dari tidak tahu harus bagaimana itu?"
"Dari sisi Ibu, kalau Saki dan Yuta-kun mau berpacaran secara serius karena saling menyukai, Ibu sebenarnya merasa senang, tapi..."
Begitu situasinya benar-benar terjadi, muncullah hal yang tidak diketahui harus bagaimana.
Dengan menghembuskan napas panjang, Ibu mendongakkan wajahnya.
Entah kenapa dahinya berkerut, dan wajah Ibu yang biasanya selalu kukira cantik kini terlihat sedikit menua.
Saat aku secara tanpa sadar menjulurkan tangan meminum teh herbal, Ibu pun seolah baru menyadarinya, menjulurkan tangan menyambar gelas di depannya lalu meminumnya dengan cepat.
"Sewaktu menimang Akari, Ibu kan memanggil Saki sebagai 'Kak Saki', dan memanggil Yuta-kun sebagai 'Kak Yuta', kan?"
Aku dan Yuta mengangguk secara bersamaan.
Hal itu sudah kami sadari sejak beberapa waktu lalu.
"Hal itu, sebenarnya tanpa kesadaran penuh dari Ibu sendiri, tapi bayi itu kan, kata-kata semacam itu didengar dengan baik dan diingatnya—menurut Ibu, sih."
Mendengar kata-kata itu, kali ini aku dan Yuta memiringkan kepala secara bersamaan.
Emm. Iya, benar. Menurutku memang begitu. Ibu kan bilang "Ini Mama lho", dan Papa Taichi pun bilang "Ini Papa lho" sambil mengajak Akari mengobrol.
Makanya secara alami Akari pasti bakal mengingatnya. Ibu adalah Mama. Papa Taichi adalah Papa. Yuta adalah Kakak Laki-laki, dan aku adalah Kakak Perempuan.
Apakah ada permasalahan di sana?
"Tapi, ya. Akari ke depannya bukan cuma berada di dalam rumah saja, tapi bakal makin sering pergi keluar rumah, kan."
"Iya, benar."
Yah, memang harus melewati tahap merangkak, merambat, dan berjalan dulu, sih.
"Lalu, dia bakal tahu bahwa di dunia luar pun ada banyak keluarga, ada banyak saudara, kan."
Hal ini pun aku mengangguk secara polos.
"Di apartemen ini pun sesekali terlihat rombongan orang tua dan anak, dan sesekali terlihat orang yang mendorong kereta bayi, jadi menurutku hal itu pasti bakal terjadi..."
"Benar, kan. Tapi ya. Kalau begitu, tentu saja, suatu saat nanti dia bakal tahu. Bahwa norma umum di masyarakat adalah saudara tidak bisa menikah."
...Hal itu, memang benar.
"Tapi biarpun begitu, apakah kita bisa mengajarkan pada Akari: Saki dan Yuta-kun itu adalah Kakak Perempuan dan Kakak Laki-lakimu, tapi mereka juga adalah istri dan suami?"
Penggunaan istilah 'istri' dan 'suami' terasa sangat kental nuansa era Showa-nya dari Ibuku ini, tapi terlepas dari itu, ringkasnya hal yang ingin disampaikan oleh Ibu adalah—
"Ibu, bagaimana cara menjelaskan hubungan kalian berdua kepada Akari kelak?"
...Ah.
Begitu, ya.
Saudara kandung tidak bisa menikah.
Tentu saja, hal ini tidak berlaku bagi saudara tiri. Justru karena itulah, seiring Yuta keluar dari rumah ini dan mandiri sehingga rasa bersaudaranya menipis, rasa canggung terhadap perasaan asmara pada Yuta pun makin berkurang.
Jika mempercayai ucapan Ibu, fakta bahwa sejak sekitar musim dingin aku mulai lupa menempelkan kata "Kak" saat memanggil Yuta pun merefleksikan hal tersebut.
Jika hal semacam itu dijelaskan, orang bakal paham oh, saudara tiri ya, kalau begitu tidak masalah, dan tidak ada lagi yang bakal mencibir.
—Jika itu adalah orang dewasa.
Bagian itulah yang luput dari pemikiranku, dan merupakan permasalahan yang dihadapi Ibu saat beliau meninjau ulang hubungan antara aku dan Yuta setelah Akari lahir.
Lawan biacaranya bukanlah orang dewasa.
Jika memikirkan daya pemahaman anak kecil, memahami kerumitan bahwa sosok yang dipanggilnya sebagai Kakak Laki-laki dan Kakak Perempuan ternyata adalah orang lain yang tidak memiliki hubungan darah tentulah sangat sulit.
"Lalu, seandainya dibilang bahwa Kakak Laki-laki dan Kakak Perempuan itu tidak punya hubungan darah, kan."
"...Emm."
"Akari yang mendengarnya ada kemungkinan bakal berpikir kalau begitu, aku juga mungkin tidak punya hubungan darah dengan Kakak Laki-laki dan Kakak Perempuan, kan."
"Ugh."
Hal itu... memang benar. Ada kemungkinan dia mengambil kesimpulan pendek semacam itu.
"Tapi, Bu. Kalau begitu, artinya kita tidak bisa memberitahu Akari?"
"Selagi Akari masih kecil, kalian berdua adalah Kakak Laki-laki dan Kakak Perempuan yang jarak usianya jauh. Menurut Ibu begitu saja sudah cukup. Soal kalian yang berpacaran, soal kalian yang bertunangan, bukankah lebih baik dibicarakan secara benar setelah anak itu bertumbuh jadi orang dewasa..."
"Setelah jadi orang dewasa itu, kira-kira kapan waktunya?"
"Ibu tidak tahu. Anak SMP... bukan, anak SMA pun mungkin masih sulit. Mungkin setelah jadi mahasiswa, atau setelah bekerja."
Anak SMA pun masih sulit...?
"Tunggu, Bu. Tidak mungkin begitu. Itu salah."
"Apakah kamu bisa bilang begitu?"
Saat dipojokkan aku hampir saja terintimidasi, tapi hanya di bagian itulah aku harus menyanggahnya.
"Setiap orang itu berbeda-beda jadi aku tidak bilang ini mutlak. Tapi, setidaknya diriku di masa SMA dulu aku bangga sudah bisa berpikir secara logis, dan aku punya kemampuan yang cukup untuk memikirkan etika maupun kerumitan suatu masalah. Mengandaikan Akari di masa depan kelak masih sedemikian anak-anaknya hingga hanya bisa melihat masalah dari satu sisi saja, Ibu terlalu meremehkannya."
Untuk sesaat, aku dan Ibu saling menatap tajam.
Gara-gara rasa kesal, pandanganku mengabur oleh air mata, padahal aku tidak ingin hal itu terjadi.
Aku ingin percaya bahwa Akari adalah seorang individu yang memiliki otak untuk berpikir.
Sekecil apa pun dia kelak.
Mungkin menyadari tetesan air mata yang mengalir di pipiku, Ibu tersentak menahan napas.
Saling menatap tajam itu tidak bertahan beberapa detik, dan Ibu menurunkan pandangannya ke meja.
"Maafkan Ibu. Ibu kelepasan bicara."
Melihat Ibu yang terkulai bahunya, aku pun tersentak.
Ibu pun pasti tidak bermaksud ingin mengucapkan hal semacam itu.
"Aku juga minta maaf. Mengucapkan hal semacam itu padahal dia masih anak-anak."
Ruangan kembali hembus hening. Angin yang ditiupkan AC mengencang satu tingkat.
Kelihatannya malam ini pun bakal jadi malam yang sangat panas.
"Anu..."
Seolah memecah keheningan, Yuta membuka suaranya dengan takut-takut.
Aku dan Ibu melirikkan pandangan mata ke arahnya.
"Apakah hal itu sedemikian bermasalahnya?"
Ibu mengerutkan bibirnya membentuk garis miring.
"Boleh tahu maksud ucapanmu?"
Aku merasa waswas memikirkan apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Yuta.
Hal yang diucapkan Ibu sangat teramat kupahami. Sebab, saudara tidak bisa berpacaran. Hal itu adalah tindakan yang tidak bermoral, makanya biarpun sejak awal tahu kami adalah saudara tiri, hal itu sudah cukup menjadi norma umum untuk mengeram rem di dalam hatiku di masa SMA dulu.
"Emm..."
Aku mau kalian coba memikirkan hal semacam ini, setelah menyisipkan kata pengantar itu, hal yang mulai dibicarakan Yuta adalah sebuah pengandaian sederhana.
"Seandainya Akiko-san dan Papa tidak menikah, lalu aku dan Saki berpacaran lebih dulu. Karena berpacaran, kami saling mengenal keluarga masing-masing. Di sana Papa dan Akiko-san yang sama-sama berstatus lajang saling bertemu, jatuh cinta, lalu menikah lagi—dan Akari lahir. ...Kalau begini, bagaimana? Sama sekali tidak pernah ada masa di mana kami berpacaran sebagai saudara, hanya saja belakangan kami menjadi saudara sekaligus sepasang kekasih. Jika disandingkan dengan norma umum di masyarakat pun, hal ini sama sekali tidak akan dicibir orang, kan."
"Yah, memang begitu, sih."
"Hanya urutannya saja yang berbeda, tapi secara hubungan bukankah ini persis sama dengan hal itu? Kalau begitu, tidak ada yang aneh, kan?"
"Hal itu... Anu, tapi, permasalahannya bukan di situ. Mungkin memang tidak aneh, tapi permasalahannya adalah bagaimana cara memberitahukannya agar norma umum di dalam diri Akari tidak hancur—"
"Yuta, kalau yang itu sih kelewat..."
Itu sih cuma argumen pembenaran saja, pikirku. Dan terasa tidak biasa bagi Yuta.
Bukankah Yuta adalah sosok yang merangkai percakapan dengan membaca emosi lawan bicara lalu memahaminya dan mendampinginya? Maksudku dia memang ada sisi logisnya, tapi dia tidak pernah menjadikan kata-kata sebagai senjata, melainkan alat untuk saling menyelaraskan.

Padahal saat ini dari penampilannya entah kenapa dia terlihat sedang menggelarkan logika yang ditujukan untuk menyerang.
...Ada apa? Kenapa pandangan matanya memperlihatkan rasa marah yang disembunyikan secara kuat semacam itu?
"...! ...Maaf. Memang benar kata-katamu."
Yuta menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Kemudian setelah menatap lurus ke arah Ibu sekali lagi, Yuta bersuara.
"Aku agak sedikit emosional tadi. Hanya saja, dibanding tidak diberitahu apa-apa lalu pada suatu hari mendadak dipaksa mengetahui kebenaran, aku ingin diberitahu secara benar sejak awal. Diriku sewaktu kecil dulu, berpikir begitu... Maksudku, logika orang dewasa yang menganggap anak-anak tidak bisa memahami hal yang rumit sehingga tidak boleh menyajikan situasi dunia riil yang rumit secara mentah-mentah pada anak, hal semacam itulah yang terkadang justru membuat si anak terisolasi—ini murni pemikiran pribadiku. Maaf karena sempat terkesan memaksakannya."
...Begitu rupanya, jadi gara-gara hal itu toh.
Fakta bahwa Yuta ditinggal pergi oleh ibu kandungnya adalah sebuah kejadian yang mendadak, kan. Jika dipikirkan sekarang, mungkin ada banyak petunjuk yang mengarah ke sana, tapi segala ketidakpuasan yang dipendam ibunya terhadap sang suami maupun masalah kehidupan sehari-hari sama sekali tidak pernah dijelaskan kepada Yuta.
Bagi dirinya, gara-gara tidak diberitahu apa-apa, bayangan gelap mendadak merenggut jalannya seolah dunia berbalik secara tiba-tiba.
Kebohongan yang disembunyikan hingga dirinya ditinggalkan tanpa tahu apa-apa di tempat yang tidak diketahuinya, adalah hal yang tidak dianggap bagus oleh Yuta.
Tindakan orang dewasa yang mengabaikan proses 'penyelarasan' terhadap anak—hal itu adalah ranah sensitif (ranjau) yang mungkin merupakan satu-satunya hal yang sanggup memicu emosi Asamura Yuta yang biasanya tidak pernah memperlihatkan rasa marah.
Yuta menarik napas dalam-dalam sekali lagi.
Gaya bicaranya yang tadinya agak tajam kini diusahakannya menjadi lembut saat bercerita.
"Tapi, itu kan pemikiranku. Aku pun paham pemikiran Akiko-san. ...Dan aku paham kalau aku dan Akari adalah dua entitas yang berbeda."
Sambil meresapi setiap kata, Yuta melontarkannya sepatah demi sepatah.
Kata-kata Yuta berubah menjadi sangat lembut seolah seluruh duri di dalamnya telah diluruhkan.
"Sebaiknya kita tidak berpikir bahwa Akari bakal berpola pikir sama denganku. Makanya seperti yang diucapkan Akiko-san, aku pun ingin menghormati pemikiran agar Akari tidak mengalami kebingungan."
"Berarti tidak usah memberitahu Akari tidak apa-apa, ya?"
"Ibu, tapi kalau begitu artinya kita berbohong pada Akari. Kalau yang itu aku—"
"Tidak menyuarakan seluruh hal itu berbeda dengan berbohong. Ditambah lagi, tidak bisa mengambil opsi 'tidak memberitahu' menurut Ibu pun merupakan salah satu bentuk ketidakjujuran (ketidaktulusan)."
Baik terhadap orang tua, terhadap kekasih, maupun terhadap pasangan suami istri sekalipun.
Tidak sanggup memilih opsi 'tidak mengucapkannya' padahal tahu pihak lain bakal terluka, bukankah itu pun merupakan salah satu bentuk ketidakjujuran yang lahir dari kelemahan diri? begitulah yang diucapkan Ibu.
Bukankah itu bisa disebut ajaran sesat (sofisme)? Aku baru saja berniat menyanggahnya, tapi Yuta bercerita lebih dulu. Dia memiliki sudut pandang yang berbeda dariku.
"Menurutku permasalahannya bukan di situ. Justru, kalau hanya sebatas itu rasanya masih belum cukup."
"Belum cukup? Maksudmu bagaimana?"
"Hal yang krusial adalah, dari kacamata Akari apa yang bakal terlihat dan bagaimana wujudnya."
Aku tersentak menahan napas.
Hal yang kupelajari di Lucca Design. Studio melalui pembuatan selebaran ajakan lokakarya orang tua-anak maupun lewat pameran di Pameran Horor.
—Berdiri di sudut pandang lawan bicara lalu memikirkannya.
Bukan memaksakan, Yuta mulai membicarakan pemikirannya sebagai salah satu cara pandang.
"Tatanan norma umum bahwa Kakak dan Adik tidak bisa menjadi suami istri, kita anggap hal itu bakal menjadi norma umum bagi Akari juga. Berlandaskan hal tersebut, kita andaikan fakta bahwa aku dan Saki adalah suami istri maupun sepasang kekasih disembunyikan dari Akari."
Hatiku terasa nyeri terhenyak mendengar pengandaian Yuta, tapi karena ini murni sebatas pengandaian aku menahannya.
"Menurut Akiko-san, butuh waktu berapa lama sampai Akari sanggup menerima hubungan rumit antara aku dan Saki?"
"Ibu tidak tahu usia spesifiknya. Seperti yang Ibu katakan tadi, anak SMA pun mungkin masih sulit. Mungkin setelah jadi mahasiswa. Mungkin setelah terjun ke masyarakat. Tapi setidaknya, lebih baik bukan di masa di mana dia hanya bisa melihat masalah dari satu sisi saja."
"Paling cepat pun setelah pendidikan wajib usai, berarti sekitar 15 tahun dari sekarang, kan."
"Begitu... ya. Mungkin bakal jadi begitu."
"Saki musim dingin tahun ini berusia 20 tahun. 15 tahun lagi usianya jadi 35 tahun."
Aah, mulut Ibu terbuka membulat.
35 tahun. Angka ini pasti merupakan angka yang sangat diingat oleh Ibu.
Bagi seorang wanita, melahirkan anak pertama di usia 35 tahun secara definisi tergolong sebagai "kehamilan usia lanjut" (elderly pregnancy). Maksudnya, membiarkan Akari baru mengetahuinya setelah dia terjun ke masyarakat itu setara dengan menyuruhku untuk tidak melahirkan anak sampai menginjak usia tersebut.
Hal itu adalah kalimat yang mutlak tidak akan pernah dilontarkan oleh Ibu.
"Ibu tidak bermaksud ke arah sana..."
"Aku paham. Aku tahu Anda tidak bermaksud mengucapkannya dengan niat seperti itu. Lagipula, aku pun tidak berniat menunda pernikahan dengan Saki sejauh itu, kok."
"Tentu saja begitu. Biarpun langsung setelah lulus kuliah... paling cepat sekitar 3 tahun lagi, kan."
Ibu, padahal kamu sendiri menikah dan melahirkan aku tepat setelah lulus SMA, ingin rasanya aku menyemprotnya begitu, tapi urusan pernikahan tentulah merupakan ranah pribadi masing-masing.
"Jika begitu, saat Akari berusia 3 tahun, bagaimanapun juga situasi di mana kita adalah saudara sekaligus suami istri harus dijelaskan padanya. Apalagi jika aku benar-benar menikah dengan Saki."
Sambil membiarkan jantungku berdegup kencang akibat kata 'pernikahan' yang muncul berulang kali, aku tenggelam menyimak alur logika yang digelar oleh Yuta.
"Tapi Yuta-kun, kalau dalam kondisi begitu menurut Ibu permasalahannya bakal hilang, lho."
"Kenapa begitu?"
Saat ditanyai, Ibu menyuarakan pemikirannya.
"Sebab saat itu kalian berdua pasti bakal tinggal di rumah baru, kan. Kalau begitu, kan kesannya mirip seperti kerabat jauh. Suami dari pasangan Kakak Perempuan dipanggil Kakak, dan biarpun saudara tiri tapi pihak istri dipanggil Kakak Perempuan kan hal yang biasa di masyarakat. Bahwa kedua pasangan suami istri tersebut sama-sama memiliki hubungan darah dengan orang tuanya sendiri, orang tidak akan sampai mencari tahu detail kerabat yang jarang ditemui semacam itu, dan kondisi seperti itulah yang tergolong biasa."
Binar mata Yuta sepertinya berkilat.
"Hal itulah yang dinamakan 'bagaimana wujudnya dari kacamata Akari'."
Ibu melafalkan kembali kata-kata Yuta di dalam mulutnya berulang kali.
Mencerna makna di balik kata-kata tersebut.
"Singkatnya... apakah kamu mau bilang kalau hubunganmu dan Saki jadi terkesan rumit itu gara-gara berada dalam situasi yang membuatnya terlihat rumit?"
Yuta mengangguk.
Aku pun mencoba memikirkan contoh versiku sendiri yang menyelaraskan pemikiran Yuta.
Seandainya seseorang memiliki Kakak Laki-laki tiri, dalam kehidupan sehari-hari tidak akan ada orang yang sengaja memanggilnya "Kakak Tiri". Biarpun Kakak tiri pasti bakal dipanggil "Kakak Laki-laki", dan jika Kakak Perempuan tiri pasti bakal dipanggil "Kakak Perempuan".
Maksudnya, seberapa jauh seseorang sebenarnya menyadari ada tidaknya hubungan darah?
Seandainya ada yang memaksakan argumen bahwa anak kecil pun bakal menyadari dan memahaminya, itu artinya anak tersebut memiliki daya pemahaman yang sanggup dijelaskan dan dimengerti.
Sebaliknya jika dibilang pasangan Kakak Perempuan yang sesekali berkunjung hanya dipanggil "Kakak Laki-laki" dan "Kakak Perempuan" tanpa diambil pusing, tinggal biarkan saja dipanggil begitu sampai daya pemahamannya bertumbuh. Tidak akan ada orang yang menyemprotnya. Sebab hal itu tidak salah dan tidak bermoral.
"Begitu rupanya... Alasan kenapa kita merasa ini rumit dan terkesan aneh adalah gara-gara kita ini orang dewasa yang justru tahu seluruh latar belakangnya dan memahaminya..."
"Menurutku persis seperti yang diucapkan Saki."
"Tapi Yuta-kun, kalau yang itu tidak akan mempan. Kamu dan Saki saat ini kan bukan kerabat jauh yang sesekali berkunjung, kan?"
Rasanya bagian sensitif kami baru saja disenggol.
Biarpun secara logika tepat seperti yang diucapkan Yuta, situasi kami yang sekarang tidaklah seperti itu.
Akan tetapi, di dalam kepala Yuta yang melontarkan kalimat 'bagaimana wujudnya dari kacamata Akari' tadi, jawaban atas pertanyaan Ibu itu pun sebenarnya sudah disiapkan dari awal.
"Kalau begitu, bukankah tinggal mengubah situasinya saja?"
"Eh...?"
"Menurutku bukankah tinggal membuat situasi yang terlihat dari kacamata Akari menjadi wujud yang sama persis seperti 'kerabat jauh'? Membuat pemandangan yang terlihat dari kacamata Akari menjadi lebih sederhana."
"Apakah hal semacam itu bisa dilakukan?"
Yuta mengangguk, lalu menyuarakan sebuah ide yang tidak pernah terpikirkan baik olehku maupun Ibu.
"Aku teringat gara-gara apa yang diucapkan Akiko-san tadi..."
Aku? Ibu memasang raut wajah heran.
"Apakah Ibu sempat mengucapkan sesuatu?"
"'Saat itu kalian berdua pasti bakal tinggal di rumah baru, kan. Kalau begitu, kan kesannya mirip seperti kerabat jauh', ucapan itulah yang memicunya. Dari sana aku teringat, untuk membuat pemandangan yang terlihat dari kacamata Akari menjadi sederhana, bukankah tinggal memajukan jadwalnya saja?"
"Memajukan jadwal. Eh, itu maksudnya"
Aku melangkah satu tahap lebih cepat mencapai kesimpulan dibanding Ibu.
"Jangan-jangan maksudmu, kalau aku tinggal bersama Yuta... begitu?"
Yuta mengangguk.Tunggu, tunggu!
Bukankah itu namanya kumpul kebo (tinggal bersama)?
"Nggak, apakah harus sampai ke tahap itu atau tidak, maksudku secara ekonomi hal itu jauh lebih realistis sih, tapi... Hal yang krusial adalah, saat Akari mulai paham lingkungan sekitarnya, 'di lokasi yang bisa langsung terlihat oleh Akari, tidak ada aku dan Saki'."
Tadinya itu terasa seperti pemandangan ide yang sangat liar.
Tanpa membesarkan suaranya, sambil menyiapkan jalan keluar bagi Ibu dengan berkata ini murni salah satu pemikiran saja sih, Yuta merangkai pemikirannya sambil mengusahakan suara yang tetap tenang.
"Tentu saja ini tergantung bagaimana keinginan Saki, sih... Tapi fakta bahwa kami berdua keluar meninggalkan rumah ini pun merupakan salah satu pilihan, kan."
Kami berdua... keluar meninggalkan rumah.
Ibu membeku untuk beberapa saat dengan mulut terbuka melongo.
"Sebab jika tinggal bersama di rumah ini, menurutku sangat sulit untuk bisa berpura-pura secara sempurna. Agar kami bisa tetap bersama sebagai sepasang kekasih, menurutku cara itulah yang jauh lebih bagus."
Apakah itu maksudnya, kalau cuma berduaan bersama Yuta, aku secara tanpa sadar bakal melakukan tindakan-tindakan khas sepasang kekasih?
Memanggilnya murni dengan nama 'Yuta', saling menautkan pandangan mata penuh asmara, atau dalam beberapa situasi saling memastikan kehangatan tubuh satu sama lain? Tidak, tidak mungkin, hal-hal semacam itu kalau cuma berduaan sih mungkin saja, tapi di depan keluarga, apalagi di depan Akari tidak akan pernah kulakukan.
Tapi, saat berniat menyanggahnya pun, menurut Ibu belakangan ini aku sesekali lupa menempelkan kata "Kak" saat memanggil Yuta.
Aku teringat rekam jejak masa laluku di mana saat mengalami 'gejala kekeringan Asamura Yuta', aku pernah melakukan tindakan-tindakan yang jika diingat-ingat sekarang sangat amat memalukan.
Di tengah malam saat orang tua sudah terlelap, biarpun kamarnya agak terpisah, siapa yang saling berpelukan di dalam kamar? Aku.
Kalau begitu, apakah aku sanggup menyanggah argumen Yuta? Tidak sanggup. Lagipula, malam pertama antara aku dan Yuta itu terjadi di dalam rumah ini, bahkan saat Papa Taichi ada di rumah, di dalam kamar Yuta, kan.
AC-nya tidak mempan nih. Rasanya mau kena serangan panas... panas banget.
"Benar juga, ya. Di depan Akari, untuk terus-menerus bersikap murni hanya sebagai saudara saja, bagi Saki, hal itu pasti sangat amat sulit, kan."
Ugh-ugh-ugh. Tidak bisa menyanggah.
"Jika kamu mengabaikan perasaanmu sendiri dan memaksakan diri, di suatu tempat pasti bakal muncul kepincangan. Anak kecil itu pasti bakal menyadari atmosfer semacam itu di dalam rumah. Ditambah lagi—"
Ibu menatapku lalu berbicara secara tenang.
"—Demi Ibu, demi Akari, demi Yuta-kun. Bisa berjuang keras demi hal-hal semacam itu adalah sisi baikmu. Tapi jika kamu hidup hanya demi hal itu saja, kehidupanmu sendiri bakal ditaruh di urutan paling belakang."
"Ditaruh di urutan paling belakang..."
"Fakta bahwa kamu tidak menyadarinya itulah permasalahan yang paling besar."
Lalu Ibu membuatku mereview kembali tindakan-tindakanku selama ini.
"Saat Ibu lelah, kamu merasa dirimu yang harus mengerjakan tugas rumah tangga, dan saat Yuta-kun kebingungan, kamu merasa dirimu yang harus menyokongnya. Begitu, kan?"
Setiap senggolan penegasan dari Ibu adalah review atas kehidupan sebagai adik tiri yang kujalani sejak datang ke rumah ini. Memotong pendek rambutku secara drastis demi memotong paksa perasaan pada Yuta. Saat diminta membuatkan sup miso sekali oleh Ibu, hal itu kujadikan pemicu untuk terus-menerus menyiapkan makanan. Hal itu gara-gara aku ingin meringankan beban tugas rumah tangga dari Ibu yang kelelahan akibat pekerjaan sebagai bartender.
Prinsipku berupa 『Porsi 'Give' dari Give & Take harus lebih banyak』 itu sendiri merefleksikan kepribadianku yang cenderung memprioritaskan orang lain dibanding diri sendiri.
"Manusia itu cenderung menilai porsi bantuan yang diberikannya secara berlebih, dan menilai porsi bantuan yang diterimanya dari orang lain secara minim, kan. Saki, kamu paling benci hal itu, kan?"
Aku mengangguk.
Sebab sejak kecil aku memperhatikan Ibu, dan merasa ayah kandungku menilai terlalu rendah berbagai bentuk kerja keras yang telah dilakukan oleh Ibu.
Hal yang diberikan orang lain padaku ingin kusadari dan kuhargai.
Hal yang kuberikan pada orang lain ingin kutangkap secara tidak berlebihan. Aku tidak mau membuat orang lain merasa berutang budi gara-gara hal itu.
Prinsipku adalah hal yang kuwarisi dari Ibu.
"Saki, bagimu pun sekarang sudah tiba saatnya untuk memilih tempat tinggalmu sendiri."
Aku merasa ingin menangis.
Ibu menaruh tangannya di dada, lalu bersuara seolah menata isi hatinya sendiri dibanding menasihati diriku.
"Tentu saja kesepian. Tentu saja. Ada masalah Akari juga, dan kalau Saki ada di rumah ada banyak hal yang sangat membantu. Tapi jika hal itu dijadikan alasan untuk menahanmu tetap di sini, Ibu rasa sebagai seorang ibu Ibu telah melakukan kesalahan."
...Aah. Harus bagaimana.
Bukan cuma perasaan saja. Sudah meluap keluar. Bagian bawah mata terasa panas.
Di saat harus berdiskusi secara tenang, terbawa oleh emosi yang membumbung hingga jadi begini, benar-benar tidak dewasa sama sekali.
"Aku merasa seperti dibuang."
Kata-kata jujur lolos dari mulutku.
"Tapi kan sebenarnya tidak begitu, kan."
"Bukan begitu, kok."
"Aku paham. ...Tapi, rasanya sakit."
"Emm. Ibu rasa memang sakit."
Ibu menyentuh tanganku menembus meja.
"Ibu pun terasa sakit, kok."
Mendengar kata-kata itu, air mataku makin membanjir keluar.
Selama ini... kami selalu tinggal bersama. Bahkan saat Ibu bekerja penuh di malam hari dan pola hidup kami bertolak belakang, hanya dengan berpikir bahwa kami tinggal di bawah satu atap yang sama saja sudah cukup memberiku rasa nyata sebagai ibu dan anak, dan durasi waktu yang lama tanpa bertatap muka pun tidak pernah menggangguku.

TL/N: SUMPAH GUYS INI SALAH SATU MOMEN PALING EMOSIONAL DI VOL 18:))))))))))
Namun hari ini berbeda. Begitu berpikir bahwa aku akan keluar dari rumah, aku mendadak merasa seolah-olah Ibu pergi ke tempat yang sangat jauh sekaligus. Padahal durasi waktu di mana kami tidak bertatap muka tidak akan banyak berbeda dibanding masa-masa itu. Kenapa, ya.
Namun, akhir dari pengasuhan anak pada hewan memang rasanya seperti ini, kan. Pada suatu hari tertentu sebagai batasnya, secara mendadak sang anak diusik dan diusir dari sarang oleh orang tuanya—
"Padahal aku sama sekali tidak berniat ke arah sana. Malah justru gara-gara tidak ingin merusak keberadaan kami sebagai keluarga makanya kami bertekad untuk mengaku, tapi kenapa hasilnya justru sampai pada kesimpulan semacam ini."
"Tidak akan rusak."
Ujar Yuta secara tegas.
Eh? Aku refleks menatap Yuta. Ibu pun ikut menatap ke arah Yuta.
"A-ah, anu... Ini adalah hal yang baru-baru ini kusadari lewat kegiatan fieldwork di kampus, sih."
Bukan demi merusak keluarga, melainkan terpisah demi menjaganya—ada juga kasus yang seperti itu.
Dengan mengambil sedikit jarak, ada ikatan yang justru bisa terlindungi. Yuta membeberkan bahwa dia mendapatkan pelajaran semacam itu.
"Ini pun hal yang kumulai refleksikan pada diriku sendiri, sih. Bahwa terus-menerus memakan makanan yang sama bersama-sama di bawah satu atap yang sama bukanlah satu-satunya wujud keberadaan sebuah keluarga. Tentu saja perasaan ingin menghargai waktu-waktu semacam itu pun adalah hal yang krusial, menurutku."
Fakta bahwa Papa Taichi selalu membawa Akari ke sisinya agar bisa bersama saat makan malam pun pasti berlandaskan perasaan semacam itu.
Hanya saja, biarpun tidak mungkin terjadi, begitu situasinya jadi begini aku jadi berpikir jangan-jangan Papa Taichi pun merasa bahwa durasi waktu di mana 5 orang—termasuk Akari—bisa berkumpul mengelilingi meja makan itu sebenarnya tidak akan panjang. Pemikiran semacam itu pun ikut terlintas.
Pada kenyataannya, Yuta sendiri sudah separuh keluar dari lingkaran 5 orang itu dan mandiri.
"Jika ingin membuat pemandangan yang terlihat dari kacamata Akari menjadi sederhana agar Akari tidak bingung, maka Kakak Laki-laki dan Kakak Perempuan yang jarak usianya jauh sesekali pulang ke rumah dalam tenggat waktu yang wajar. Datang untuk menemui. Rasa jarak sejauh itulah yang menurutku justru sangat tepat bagi Akari."
Maksudnya, sebelum Akari mulai paham lingkungan sekitarnya, jika kondisi tersebut sudah dibentuk sebagai hal yang wajar di keluarga Asamura, bukankah itu hal yang bagus.
Ibu berbicara dengan nada suara yang penuh peresapan mendalam.
"Kalau diingat-ingat kembali, sejak dulu kamu kan memang selalu bilang kalau diterima di universitas mau tinggal sendirian, ya. Makanya kudunya Ibu sudah membulatkan kesiapan bahwa hari seperti ini bakal tiba... Tolong bersikaplah seperti biasa. Karena ini anak kedua jadi bakal aman-aman saja. Tidak usah merasa sungkan, padahal Ibu pernah bilang begitu, tapi tanpa disadari Ibu mungkin telah bermanja-manja padamu yang sudi menetap di rumah, ya."
Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku sama sekali tidak pernah merasa dimanjai oleh Ibu, kok. Jangankan begitu, saat merawat Akari, aku justru cuma bisa merasa dulu sewaktu membesarkanku Ibu kan sendirian, kok bisa-bisanya sanggup melewati hal sesukar ini, ya. Terima kasih ya Ibu, sudah membesarkanku."
"Kalimat itu kudunya keluar dari mulut Ibu. ...Terima kasih, Saki. Gara-gara kamu ada di sana, makanya Ibu sanggup berjuang keras."
Ibu yang mengucapkannya dengan suara pelan itu kelihatannya mendadak terlihat agak mengecil satu ukuran.
Di antara jeda percakapan antara aku dan Ibu, Yuta di sampingku tetap diam tanpa mengucapkan apa pun. Tidak menghibur secara berlebihan, tidak melontarkan argumen rasional, murni berada di sisiku. Keheningan itu terasa sangat disyukuri.
Meskipun di zaman modern saat ini usia 18 tahun sudah dikategorikan sebagai orang dewasa, tapi sepertinya, hari inilah yang menjadi Upacara Kedewasaan (Seijin-shiki) bagi diriku dalam makna yang sesungguhnya.
Tak lama kemudian, Yuta bersuara secara tenang.
"Ibu Tiri."
"Iya."
"Jika Saki keluar dari rumah, aku pun berniat untuk pindah lagi dari indekos yang sekarang. Kami berdua sudah saling memastikan untuk terus bersama sampai ke depannya. Jika waktunya tiba, aku berniat untuk menikah dengannya. Makanya, aku merasa Saki tidak perlu keluar dari rumah dan memulai kehidupan baru seorang diri."
"Yuta..."
"Tentu saja bukan berarti segalanya bisa langsung diputuskan sekarang. Biaya sewa rumah, lokasi, jarak ke kampus, kemudahan akses ke tempat kerja, hingga biaya hidup. Ada banyak hal yang harus dipikirkan. Tapi, aku ingin memikirkannya dengan berlandaskan premis bahwa aku bakal tinggal bersama Saki."
"Maksudmu, kumpul kebo (tinggal bersama), ya."
"Iya."
"Kalau pembicaraannya adalah pindah dan tinggal berdua berlandaskan premis pernikahan, tidak akan cukup jika hanya mendapatkan kata 'OK' dari Ibu saja, lho. Kamu harus menyampaikannya pada Taichi-san juga."
"Tentu saja. Biarpun ini terdengar sebagai hal yang terlalu enak di kita."
Yuta tidak melarikan diri.
Baik aku maupun Yuta belum bekerja secara resmi, dan penghasilan kami murni sebatas pekerjaan paruh waktu belaka. Meskipun uang perkuliahan sampai pertengahan tahun ke-2 sudah terbayar (biarpun itu memakai uang orang tua, sih), tapi jika memikirkan uang kuliah, biaya sewa rumah, hingga biaya hidup ke depannya, segalanya bukanlah nominal yang sanggup kami tanggung sendirian. Ditambah lagi kalau Yuta, biaya perawatan mobil, biaya parkir, hingga asuransi pun ikut menggantung.
Seberapa pun hebatnya kalimat yang dilontarkan, fakta bahwa kami masih berstatus ditopang secara finansial oleh orang tua tidaklah berubah.
Yah, kalau cuma memikirkan masalah uang saja sih, fakta bahwa aku dan Yuta terus menetap di rumah Shibuya ini adalah pilihan yang paling murah, tapi karena Ibu menganggap hal itu tidak bagus bagi pembentukan norma umum Akari, maka tanpa ada celah untuk dipertimbangkan hal itu mau tidak mau harus ditolak.
"Indekos Yuta-kun kan khusus untuk satu orang, ya."
"Iya. Makanya, tidak memungkinkan untuk mengajak Saki ke indekos yang sekarang. Jika memikirkan biaya yang dibutuhkan untuk pindahan, secara ekonomi aku paham bahwa ada kerugian di titik itu. Tapi, kalau kondisi sekarang yang barang furniturnya masih belum banyak, jika bolak-balik memakai mobil..."
"Masa pembaruan kontrak indekosmu kalau tidak salah sekitar bulan September, kan."
"Iya, makanya rasanya tidak memungkinkan kalau harus sekarang juga. Lagipula aku dan Saki masih ingin membantu merawat Akari, dan di tengah kondisi pengasuhan bayi yang sangat berat begini jika kami berdua keluar sekaligus tidak akan ada pihak yang diuntungkan. Ah, terus, untuk sementara waktu kami masih bakal sering pulang ke sini untuk membantu merawat Akari, kok. Selagi sebelum dia mulai paham lingkungan sekitar rasanya tidak akan ada masalah sama sekali."
Sekitar setengah tahun, begitulah yang diucapkan Yuta.
Karena kemampuan merangkak baru dimulai setelah berusia sekitar 8 bulan, aku tahu Yuta ingin menjadikan patokan di sekitar masa itu. Tersisa 6 bulan lagi. Maksudnya sampai benar-benar mengambil jarak penuh dari rumah utama, masih ada jeda waktu sekitar setengah tahun lagi.
"Yah, bagaimanapun juga begitu lulus kuliah dan bekerja kalian berdua pasti bakal keluar dari rumah ini bersama-sama, hal itu kan sebenarnya sudah diketahui dari awal, ya..."
"Masih ada sedikit waktu. Lagipula kalau jujur, aku sendiri pun tidak mau kalau sampai tidak bisa melihat wajah Akari."
"Aku juga, sih."
Aku tidak mengira punya adik perempuan bakal se-menggemaskan ini. Walau merawatnya memang berat, sih.
Fiuh, Ibu menghembuskan napas sekali.
"Hal ini baru berlaku kalau kamu sanggup membujuk Taichi-san, lho?"
"Aku paham. Lagipula, berbeda dari saat berada di rumah ini di mana ada pengawasan keluarga. Jika tinggal berdua saja, menurutku tanggung jawab yang riil bakal makin bertambah."
Mendengar kata-kata Yuta yang tidak kutangkap maksudnya secara langsung, aku memiringkan kepala.
Namun Ibu bisa langsung memahami hal yang ingin disampaikannya.
"Tidak memaksakan diri dalam hal sewa rumah. Tidak melalaikan perkuliahan. Memastikan adanya waktu untuk diri sendiri bagi satu sama lain. Pengelolaan biaya hidup. Dan melakukan kontrasepsi (pencegahan kehamilan) dengan benar. Tidak mengaburkan hal-hal riil semacam itu. Jika kalian memahaminya, maka tidak apa-apa."
Isi yang diucapkan sedemikian konkretnya hingga wajahku mendadak terasa panas.
Hal-hal yang harus dipikirkan secara riil jika dua orang laki-laki dan perempuan tinggal di dalam satu kamar yang sama tanpa jangkauan mata orang tua...
Mendengar cara bicara Ibu yang begitu blak-blakan, Yuta pun sempat membeku sedikit. Namun, jika dua orang yang saling menyukai tinggal di satu kamar, hal-hal tersebut memang tidak boleh dikaburkan.
"Kehidupan pernikahan itu tidak bisa dijalani murni hanya berbekal kata-kata yang indah saja, tahu."
Sambil mendengarkan nasihat dari sang senior kawakan, aku maupun Yuta mengangguk kencang.
Saat diskusi yang sangat panjang akhirnya sampai di penghujung.
Suara tangisan mulai terdengar.
Yuta bangkit berdiri sambil berseru hendak menyiapkan susu, dan aku melangkah menuju kamar tidur bersama Ibu.
Akari sedang menggeliatkan tubuh kecilnya sambil menangis. Apakah popok, apakah susu, ataukah murni murni hanya ingin digendong saja. Namun jika melihat waktunya, seperti yang ditebak Yuta rasanya memang susu.
Jika dulu, aku pasti cuma bisa berdiri terpaku tanpa tahu harus bagaimana.
Tapi sekarang aku tidak merasa setakut dulu lagi.
Aku menggendong Akari. Suara tangisannya bergaung di dekat telingaku. Akari masih terus menangis, tapi aku tidak se-panik dulu lagi.
Ibu melontarkan pertanyaan padaku.
"Kelihatannya gara-gara apa?"
"Emm. ...Susu, sepertinya."
"Jawaban benar."
Ibu menjawabnya secara luwes bahkan tanpa mengangkat Akari. Emm, kalau di titik itu aku masih belum bisa menandinginya, sih.
"Ibu bantu Yuta-kun dulu, ya. Kamu tolong timang dia begitu saja."
"Paham."
Setelah melepas pergi Ibu yang melangkah keluar dari kamar tidur, aku menyapa Akari.
"Akari."
Akari yang tadinya rewel di momen itu mendadak berhenti menangis. Aku tidak berpikir itu gara-gara aku menyapanya, sih. Mungkin murni kebetulan. Tapi karena dia berhenti menangis aku merasa senang.
Sambil menimangnya dengan mengayunkan tubuhku secara halus, aku berbisik.
"Kakak, mungkin bakal keluar dari rumah. Tapi, bukan berarti aku berhenti jadi Kakakmu, kok."
Akari tentu saja tidak paham makna dari kata-kataku. Dia kembali mulai rewel sedikit, seolah-olah terlihat sedang bersedih mendengar kata-kataku.
Sambil mendengarkan suara tangisannya itu aku berpikir.
Kakak pun sebenarnya merasa sedih. Ingin rasanya terus menggendong dan menimang Akari seperti ini selamanya.
Tapi—
Sebab terpisah bukanlah berarti membuang.
Kami—aku dan Yuta, dengan begitu mulai menyiapkan persiapan untuk kehidupan yang baru—.
TL/N: KASIHANNNN AKARI-CHAN HUWEEEEEEEE